Menu

Percik Kata Nieke

Tampilkan postingan dengan label insight. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label insight. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2022

Active Wear Felancy, Review Produk dan Belanja Online

Suka pakai sport bra atau active wear untuk kegiatan sehari-hari? Baca ini dulu sebelum belanja ladies underwear secara online.

belanja ladies underwear di online, review Felancy
Belanja underwear secara online di situs Felancy.co.id. Review sport bra Felancy.

Selasa, 26 Juli 2022

3 Hal Penting Ketika Menonton Bareng Anak Kecil di Bioskop

Apa yang harus dilakukan agar bisa nyaman nonton sepanjang film--dalam artian kita tidak mengganggu penonton lain sekaligus nyaman untuk diri sendiri?

agar nyaman saat nonton bioskop bersama anak
Etika menonton di bioskop.

Minggu, 03 Juli 2022

Menghapus Stigma Penyandang Disabilitas dan Eks-Penyandang Kusta di Dunia Kerja

Benarkah Para Games bisa menghapus stigma penyandang disabilitas? Bagaimana difabel dan eks-penderita kusta bisa masuk ke sektor kerja formal?  

rehabilitasi sosial untuk memberdayakan eks-kusta dan penyandang disabilitas
Eks-penderita kusta dan penyandang disabilitas punya hak bekerja
yang dijamin dalam Undang-undang Penyandang Disabilitas.

Minggu, 04 April 2021

True Beauty versus Toxyc Beauty: Stereotipe Kecantikan yang Bikin Insecurity

Drakor True Beauty mempertanyakan standar kecantikan yang kerap jadi toxic beauty. Isu insecurity bukan hanya problem anak SMA seperti Im Jukyeong.

Drakor True Beauty mempertanyakan standar kecantikan dan isu bullying. Foto: desain Canva

Selasa, 16 Maret 2021

Belajar dari Drakor True Beauty: Cara Menolong Korban Bullying

Pada dasarnya, korban bullying membutuhkan dukungan teman dan keluarga. Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu?


Drakor True Beauty yang mengangkat isu bullying. Foto: TVN

 

Kamis, 11 Maret 2021

Bercermin dari Kasus Bullying Korea Selatan

Dampak bullying atau perundungan cukup fatal, dari kesehatan mental di sisi korban hingga potensi mengakhiri hidup. Layakkah pelaku mendapat maaf?

 

The Guilty Secret, webdrama, bullying
The Guilty Secret, drama mini seri Korea yang angkat soal bullying. Foto: Playlist Global


Jumat, 26 Februari 2021

Pulih dari Masalah Kesehatan Mental, Bebas dari Mental Korban

Buku Pulih mendobrak stigma negatif tentang kesehatan mental. Tak sekadar cerita luka, tapi bagaimana menyembuhkan jiwa.

Buku Pulih, Komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis.


Kamis, 25 Februari 2021

Cara Kurangi Sampah Sambil Mager di Rumah

Penggunaan bungkus dan kemasan plastik tidak terhindari. Bagaimana kita bisa mengurangi sampah plastik dengan cara sederhana?

 
sampah plastik
Ilustrasi eco-friendly living. Foto: Nieke

Senin, 01 Februari 2021

Nostalgia Lagu 1990-an Bertema Blok Barat dan Timur

Bapak saya punya cara unik mengenalkan cerita sejarah dunia kepada saya. Lewat film dan lagu. Ini salah satu kisahnya.

Kamis, 06 Agustus 2020

5 Bahasa Cinta Menjalin Hubungan Anti Baper

Pernahkah merasa, orang sekitarmu menghujanimu hadiah tapi kamu tetap merasa tak dikasihi? Barangkali bahasa cinta yang kamu butuhkan, dengan yang ia berikan, berbeda. Ketahui 5 bahasa cinta ala Gary Chapman.


Five Love Language, review buku Gary Chapman


Sabtu, 04 Oktober 2014

Tentang Maaf






Kita belajar hal yang terbaik saat kita mengalami keadaan yang terburuk.

Selasa, 15 Juli 2014

Little Women





Aku ingin menceritakan perempuan-perempuan hebat ini. Mereka adalah orang-orang yang aku panggil sahabat: Effie, Floren, Joice, dan Monic. Aku tak pernah sembarang menyebut orang sahabat. Sebab kata sahabat bagiku adalah orang yang benar-benar mengetahui siapa kamu, baik dan burukmu, saat terbaik dan terendah dalam hidupmu.

Kisah kami mirip cerita dalam novel Louisa May Alcott, The Little Women. Bahkan mungkin lebih baik dari novel legendaris itu, ehem! Kami sudah seperti saudara, sekalipun beda orangtua, bahkan berbeda suku. Ini adalah kisah The Little Women versiku.

Rabu, 05 Februari 2014

Hanya Kontemplasi ketika Menyendiri



Orang kerap menyebut perempuan lebih bermain dengan perasaan dan cenderung subyektif. Sebagai perempuan, saya menyangkal stereotipe itu. Ya memang kebanyakan perempuan seperti itu. Tapi laki-laki yang termasuk kategori bermain perasaan dan lebih subyektif ketimbang obyektif pun tak sedikit.


Kamis, 30 Januari 2014

Bukan Kisah Cinderella




Sengaja menutup pintu, biar tidak ada yang masuk.
Tiba-tiba ada yang mengetuk,
Bingung... membukakan pintu atau membiarkannya tetap tertutup...
Sementara, rumah ini masih berantakan
Apa mungkin, membiarkan tamu masuk sementara aku masih sibuk menata yang berantakan?

-mengutip puisi karya Rina Widiastuti-


Rabu, 22 Januari 2014

The Truth About Heart






Lagi-lagi saya menampung curcol. Kali ini dari kedua pihak. Yang baru putus.


Kamis, 02 Januari 2014

Cinta yang Kamu Kenal




“Berapa dari hubungan yang pernah kamu punya, berakhir dengan kata bosan?” tanyaku lagi.  “Atau, berapa dari hubungan yang pernah kamu punya, berakhir dengan ‘Dia berubah. Lalu kami tidak cocok lagi’?"


Senin, 15 Juli 2013

Happy Birthday, Malala!


ngintip isi blog Malala


Gadis ini namanya Malala Yousafzai. Baru aja merayakan ulang tahunnya yang ke-16, pada 12 Juli kemarin. Tepat di hari ultahnya, di usianya yang masih belia, dia sudah berpidato di Majelis Umum PBB. Keren ya!

Ini kutipan pidatonya:

"...Ada yang mengatakan pulpen lebih perkasa dari pedang. Itu benar. Para ekstremis lebih takut pada buku dan pena. Kekuatan pendidikan menakutkan mereka. Mereka takut pada perempuan, kekuatan suara perempuan menakutkan mereka....

Rabu, 20 Juli 2011

Dunia Anak


Keindahan berbicara dengan anak-anak adalah imajinasinya.
Kesalahan orang dewasa adalah buru-buru meralat imajinasi anak dengan logika.

Rabu, 22 Juni 2011

Ada Cerita di Kereta


Perempuan berkerudung itu menghempaskan tas kecilnya di atas kursi kereta ekonomi AC jurusan Depok-Stasiun Manggarai, Jakarta. Pukul delapan pagi, penumpang berjejalan. Ule, nama perempuan itu, bersyukur masih mendapatkan tempat duduk.

Tak lama, kuda besi itu berlari menuju jantung ibukota. Inilah ritual penduduk pinggiran kota yang mengadu nasib. Sepagi apapun Ule berangkat, kereta tetap penuh. Gerbong baru sela ketika jam masuk kantor terlewati. Ule tak punya pilihan. Ia memburu waktu, ada rapat awal pekan ini di kantor.

Ule baru saja akan mengatupkan matanya. Tidurnya semalam serasa masih kurang. Kepalanya sudah terantuk-antuk ke bawah. Pelupuk matanya seperti membawa kantong berisi penuh. Nyaris ia melayang ke alam mimpi.

"Dasar anak tidak tahu diri! Tahukah kamu, aku ini susah mengandung kamu. Tapi apa balasanmu?" Suara seorang perempuan yang naik darah.

Sekejap kantuk Ule hilang. Matanya terang benderang. Ia menengok ke arah lolongan amarah berasal. Seorang perempuan setengah baya dan anak perempuannya yang berusia 20 tahunan.

"Kau memang anak durhaka! Susah-susah aku menyekolahkanmu. Utang-utangmu itu aku juga yang bayar. Tapi apa balasanmu hah?" Gejolak perempuan setengah baya itu belum mereda.

Keduanya tak mempedulikan seisi gerbong menatap mereka.

"Kau hamil di luar nikah juga aku yang tanggung malu dan biayanya. Tapi begini balasanmu pada Ibumu?" Ia menjerit.

Anak perempuannya melengos menatap ke arah lain. Raut wajahnya menunjukkan kejengkelan luar biasa. Tapi tak ada mimik malu pada rupanya.

"Dasar Malin Kundang kau! Aku kutuk kamu!" Segala kepahitan di hatinya tumpah lewat mulut Sang Ibu.

Kereta berdecit dan berhenti di satu halte. Ule tak ingat nama tempatnya. Tak mendengar pula pengumuman yang biasanya didendangkan lewat pengeras suara kereta. Pertengkaran Ibu dan anak itu menyita perhatiannya.

Sang Ibu berdiri, meraih tasnya, lalu bangkit menuju pintu keluar. Tak sampai ia menjejakkan kaki di luar, tubuhnya mendadak lunglai. Seorang penumpang dekat pintu sempat menangkap tubuhnya sebelum terhempas.

Kali ini seisi gerbong riuh mengkhawatirkan nasib Sang Ibu. Sementara anak perempuannya tetap lengket pada kursinya. Hanya memandangi kejadian itu seolah tak mengenali perempuan yang pingsan itu sebagai orang yang melahirkannya.

Petugas di dalam kereta berlari-lari mendekati Sang Ibu. Lalu membopong tubuhnya ke luar untuk mencari pertolongan medis.

"Ada kerabat wanita ini?" Pekik petugas itu. Tak seorang pun menjawab.

Seisi gerbong kali ini menatap anak perempuan. Tapi perempuan muda itu pura-pura tak tahu.

Tubuh Sang Ibu dibawa keluar kereta. Terdengar peluit, tanda kereta akan melanjutkan perjalanan. Pintu tertutup otomatis. Kuda besi melaju kembali.

Sang Anak Perempuan tetap duduk tenang di tempatnya.

"Banyak cerita di kereta," kata Ule kepadaku, saat ia telah tiba di meja kantornya. Persis di samping kubikelku. "Kita pikir sinetron itu mengada-ada, tapi itu ada," celetuknya sambil menghela napas. Membuang sedikit kepedihan kala melihat Sang Ibu pingsan tanpa pertolongan anaknya.

Aku terdiam di depan layar monitor komputerku. Mencoba membayangkan seluruh kejadian itu terhampar di depanku.

Lalu aku menuliskannya di sini untuk kau baca. Supaya aku pun bisa berbagi padamu tentang nelangsa itu.



***
Nieke Indrietta

Senin, 06 Juni 2011

Love Letters: Rimba Kata


Pagi telah menjemputku, dengan kereta impian.
Ada nada-nada yang menari-nari dalam hatiku
saat aku menghirup udara hari baru.
Nada-nada yang menuntunku padaMu.
Ada bara hangat dalam tungku hatiku.
Yang membakar jiwaku untuk selalu rindu
mencari dan mendengar suara Kekasihku.
Dan saat merindu itu menggelegak tumpah ruah,
ribuan kata dalam surat cintaNya
melompat-lompat mendesak isi kepalaku.
Kadang kata-kata itu menjelma
menjadi angin puyuh yang mengobrak-abrik isi hatiku.
Mendobrak benteng dan keangkuhanku.
Satu waktu kata-kata itu menjadi selimut hangat
yang mendekap hati yang lara dan terluka.
Menyesap perih dan membuangnya.
Saat lain, kata-kata itu menjadi tamparan
menyentakkan ketika jalan sudah goyang
dan agak menyimpang.
Kala emosi yang mengendalikan.
Ribuan kata itu bisa singgah
dan jadi apapun yang bukan kamu mau,
tapi kamu butuh.
Rimba kata yang ditulis
dengan kasih ayah pada anaknya.