Menu

Percik Kata Nieke

Tampilkan postingan dengan label sekedar catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekedar catatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Januari 2021

Nostalgia Lagu 1990-an Bertema Blok Barat dan Timur

Bapak saya punya cara unik mengenalkan cerita sejarah dunia kepada saya. Lewat film dan lagu. Ini salah satu kisahnya.

Kamis, 08 Oktober 2020

Kesalahan Blogger Saat Menulis Review Produk

Menulis review di blog itu sebaiknya hard selling atau soft selling sih? 

Seluk beluk review produk di blog
Foto: Nieke

Kamis, 13 Agustus 2020

Puntung Api di Tengah Pandemi

Perokok berisiko tinggi terkena Covid-19. Inilah alasan kenapa cukai rokok perlu naik di tengah pandemi. 

perlukah cukai naik di era pandemi
Kredit foto: Nieke

Rabu, 05 Agustus 2020

5 Bahasa Cinta Menjalin Hubungan Anti Baper

Pernahkah merasa, orang sekitarmu menghujanimu hadiah tapi kamu tetap merasa tak dikasihi? Barangkali bahasa cinta yang kamu butuhkan, dengan yang ia berikan, berbeda. Ketahui 5 bahasa cinta ala Gary Chapman.


Five Love Language, review buku Gary Chapman


Senin, 15 Juli 2013

Happy Birthday, Malala!


ngintip isi blog Malala


Gadis ini namanya Malala Yousafzai. Baru aja merayakan ulang tahunnya yang ke-16, pada 12 Juli kemarin. Tepat di hari ultahnya, di usianya yang masih belia, dia sudah berpidato di Majelis Umum PBB. Keren ya!

Ini kutipan pidatonya:

"...Ada yang mengatakan pulpen lebih perkasa dari pedang. Itu benar. Para ekstremis lebih takut pada buku dan pena. Kekuatan pendidikan menakutkan mereka. Mereka takut pada perempuan, kekuatan suara perempuan menakutkan mereka....

Rabu, 20 Juli 2011

Dunia Anak


Keindahan berbicara dengan anak-anak adalah imajinasinya.
Kesalahan orang dewasa adalah buru-buru meralat imajinasi anak dengan logika.

Selasa, 19 Juli 2011

Menertawakan Versus Merayakan Keunikan





Perempuan itu jelita, sungguh. Semampai, standar supermodel, langsing, rambut berombak tergerai. Dia pemenang kontes ratu kecantikan di Indonesia. Sebut saja namanya Cinderella.

Aku membaca kisahnya di koran di meja kubikelku pagi ini. Siapa menyangka, perempuan yang pernah mewakili kontes ratu kecantikan sejagad ini, semasa kecilnya pernah menjadi korban "bullying." Omong-omong, aku belum menemukan istilah "bullying" yang tepat dalam Bahasa. Tapi, artinya kira-kira perbuatan tidak menyenangkan secara fisik dan mental oleh sekelompok orang tertentu terhadap orang lain. Korban biasanya orang yang dianggap "berbeda" dengan orang lain pada umumnya.

Jadi begitulah, supermodel ini mendapat julukan "gendut". Ia tersiksa dengan label "gendut" sampai-sampai berusaha kurus dengan cara apa saja. Hingga ia mengidap anoreksia. Seiring usia, untungnya, ia menyadari citra dirinya: ia berharga. Kalau tidak, tentu tak bakal jadi ratu kecantikan. Mungkin, kamu pernah juga mengalami hal yang sama. Atau, kamu lagi di-"bully"? Atau bisa juga, kamu justru menjadi pelaku "bully"? Kalau iya, simak ini baik-baik.


Selasa, 28 September 2010

Apakah Tuhan Ada di Sana?






Ke mana kamu akan mencari Tuhan? Pada agama? Salah. Tuhan nggak ada di agama. Agama cuma memuat aturan. Agama nggak pernah bikin manusia lebih baik. Agama menciptakan manusia untuk menjadi agamawi

Kamu pergi mengembara ke seluruh dunia, mencicipi tiap teguk ajaran agama. Tapi hidupmu tak berubah juga.

Agama nggak pernah bikin manusia menjadi lebih baik. Agama membuat orang berpikir dirinya sudah benar, menjadi agamawi. Mengira hubungan manusia dengan Tuhan hubungan yang vertikal.

Jadi, kemana mencari Tuhan, kalo Dia nggak ada di agama? Tuhan cuma ditemukan kalo hatimu bener-bener kangen sama Dia. Tuhan cuma bisa ditemukan lewat hubungan. Seperti seorang anak dengan bapaknya. Ada kedekatan. Ada hubungan dari hati ke hati. Kamu tau isi hatiNya. Dia? Oh, Dia tentu saja sudah kenal kamu sejak dulu. Dia tau isi hatimu. Dia tau saat kamu meringkuk di tempat tidurmu. Menangis. Saat kamu merasa hatimu hampa dan nelangsa.

Pertanyaannya bukan, kamu punya agama nggak. Tapi: apakah kamu mempunyai hubungan dengan Tuhan? Kamu bisa punya agama, tapi nggak punya hubungan sama Dia. Nggak kenal Dia.


Apakah kamu pernah mengalami perjumpaan yang pribadi dengan Tuhan?

Cuma itu yang bisa mengisi satu ruang kosong di dalam hatimu.


***


Jumat, 28 Mei 2010

Cerita Tentang Payung Tua


Payung tua lusuh, berwarna biru. Apa dia tidak bisa beli yg baru? Sengat matahari menembus lubang. Apa pedagang ini tak punya uang? Kusut masai muka payung. Laki-laki itu tidak pasang muka murung. (Tentang pedagang minuman depan Starbucks Melawai Blok M, Jumat pagi, 28 Mei 2010)







Pagi-pagi aku sudah nyangkruk di depan Starbucks Melawai. Bukan, aku tidak berniat minum kopi di kedai itu. Pasalnya, Lindian mengirim pesan pendek padaku.

Tidak usah ke Kuningan. Kamu tunggu aja di Starbucks Melawai, nanti aku jemput di situ.

Arlojiku menunjukkan pukul 09.15. Perkiraanku, Lindi sampai sekitar 09.30. Kami akan mengunjungi sebuah panti asuhan hari ini. Aku tiba lebih awal. Masuk ke supermarket dengan brand nama Jepang, yang letaknya di samping kedai kopi. Matahari pagi hangat, tapi cukup membuatku meleleh. Tenggorokan kering. Aku membeli minuman untuk melepas dahaga. Belum lagi, naga-naga dalam perutku tiba-tiba bernyanyi. Aku menyempatkan diri mampir membeli sepotong croisant dan tiga potong donat di kedai kue, yang masih berada di satu gedung dengan kedai kopi dan supermarket.

Telepon selulerku berdering. Suara Lindi di ujung. "Nik, kita udah dekat. Tunggu yah."

Aku buru-buru membayar kueku. Melangkah ke teras. Menoleh kiri kanan, mencari mobil yang akan menjemputku. Lalu pandanganku terantuk pada laki-laki setengah baya di halaman parkir. Seorang pedagang kaki lima yang menjual minuman kemasan dan botol. Ia baru saja membuka warungnya. Mengangkat kotak penyimpan minuman. Membuka payung lusuh yang sudah compang-camping.

Aku tercekat. Lama aku menatapnya.

Payung itu, sungguh, sudah sangat tidak layak dipakai. Robek pada bagian tengah, lantas, apalagi fungsinya? Sudah tak dapat lagi digunakan untuk melindungi dari sengatan matahari dan deru hujan. Selayaknya payung itu dibuang. Warnanya pun sudah tak jelas lagi.

Kenapa laki-laki itu tetap memakai payung rombeng itu? pikirku.

Telepon selulerku kembali berdering. Masih Lindi yang berbicara. "Nik, kita salah ambil jalan. Kita jadi muter dulu."

Aku melirik arloji. Tak terasa waktu sudah berlari hingga pukul 10. Matahari sudah tak lagi menyapa hangat. Sinarnya nyolot malah. Bulir-bulir keringat menetes di dahi. Aku memutuskan menunggu di dalam. Menikmati sejuknya pendingin ruangan.

Tapi pikiranku masih tertuju pada pemilik payung lusuh itu. Kenapa bapak itu tetap memakainya? Kenapa dia tak menggantinya dengan yang baru? Harga payung toh tak terlalu mahal. Apakah payung itu pemberian seseorang? Lihat, bahkan payung itu tak bisa melindunginya dari sinar sang surya. Dan sekian kenapa bermain-main dalam benakku.

Ingin kuhampiri bapak itu dan bertanya tentang payungnya. Mungkin aku bisa sambil membeli sebotol minuman teh. Terus aku akan menanyakan alasannya mempertahankan payung rombeng itu. Baru saja aku hendak melangkah, telepon selulerku kembali berdering. Lindi. Dan mobil sedan itu sudah masuk ke parkir. Jendela terbuka, penumpangnya melambaikan tangan padaku.

Aku berlari masuk mobil. Selintas, mencuri pandang pada payung lusuh itu. Sampai menghilang dari pandangan mata. Masih meninggalkan pertanyaan dalam benakku.

Pak, kenapa tak kau ganti payungmu?




Jakarta, 28 Mei 2010
Nieke Indrietta

Kamis, 18 Februari 2010

Perempuan yang Memelihara Naga di Perutnya


Perempuan itu mengabsen makanan dalam perutnya.
Rainbow rolls, delapan macam aneka sushi? Hadir.
Steak sushi? Hadir.
Ocha. Hadir.

Tak sampai dua jam, perutnya sudah lapar lagi. Ia membayangkan yoghurt dengan topping longan dan kiwi. Tiga jam kemudian, sekaleng susu coklat dan semangkuk bakso akhirnya masuk dalam perutnya.
Jangan salah, makannya banyak, tapi tubuhnya tak gemuk. Berat badannya 43 kilogram. Tak kunjung naik, meski ia penggemar susu dan yoghurt. Kata orang, bukan cacing yang berada di dalam perutnya. Tapi naga.
Ha, naga? Perempuan itu memelihara naga di dalam perutnya. Siapa dia?
Sebuah tangan teracung. Itu tangan saya.
Menunduk.
Aih, jadi malu.
Ehem.
Iya, itu saya.
Jika makanan itu dihidangkan menarik dan aromanya menggoda, saya sanggup menelan beberapa jenis makanan sekaligus. Waktu berkumpul dengan keluarga di acara Natal akhir tahun lalu, saya sanggup melahap : sup asparagus, sup merah, cap cay, sate, ayam, pudding, cup cakes. Saya mondar-mandir ke dapur hanya untuk menambah jatah sup asparagus dan sup merah. Saya sendiri heran dengan mekanisme tubuh saya. Ke mana makanan itu semua mengalir? Banyak asupan namun tidak membuat tubuh saya lantas membengkak. Makanya, teman bilang, saya punya naga di dalam perut yang menyantap semua itu.
Tapi, saya diuntungkan dengan keadaan ini. Saya tak perlu takut gemuk. Saya bisa makan apa saja. Saya tak perlu pusing mikir soal diet. Dan, saya jadi punya hobi baru : kuliner.
Ah, ini menyenangkan sekali!
Ah ya, ini foto saya waktu di Bali, beberapa waktu lalu. Saya mencoba menyantap menu bebek Bali. Hmmm... mantap! Ukuran bebeknya cukup besar. Seukuran wajah saya—oh my God!
Thanks untuk naga di dalam perut.
I love you.
Cup cup....
***