Menu

Percik Kata Nieke

Kamis, 03 Desember 2020

Petualangan di Jalur Pantai Utara Flores

Jalur Pantai Utara Flores menyajikan beragam keindahan alam mulai dari pantai, savana, bukit, dan pegunungan. Kisah perjalanan saya ke Maumere, Nusa Tenggara Timur, pada akhir Oktober 2012. 


padang savana di Flores
Padang savana di jalur pantai utara pulau Flores, Indonesia. Foto: Nieke



“Mau menyusuri jalur pantai utara Flores dari Maumere? Pemandangannya bagus,” kata sopir kami.

Saya dan beberapa teman jurnalis dari media televisi dan cetak menyewa mobil bersama untuk berpetualang. Sopirnya warga setempat. Sedangkan teman-teman rombongan saya ini sebenarnya baru saya kenal di Maumere. Kami berada untuk sebuah acara lomba fotografi yang diadakan untuk fotografer se-Indonesia bertema keindahan budaya Flores. 

Para fotografer peserta lomba itu dikirim ke tempat-tempat terpencil dan tinggal selama sepekan di sana untuk memotret keunikan budaya serta adat-istiadat setempat. Kami sendiri bukan peserta lomba, hanya penyemarak alias undangan saja. Teman-teman saya kelihatannya tertarik dengan tawaran itu, apalagi saya. 

Desa pengrajin kain tenun ikat NTT
Saya bersama wanita pengrajin kain tenun di sebuah dusun di Maumere. Foto: Nieke


Kami pun berangkat. Saya menyangklong ransel berisi buku catatan dan kamera. Sementara teman-teman saya menyiapkan kamera videonya. Dari Maumere, ibu kota kabupaten Sikka, mobil melaju ke arah Kabupaten Ende. 

Benar kata sang sopir, pemandangan indah sepanjang jalur pantai utara mempesona. Langit yang biru berpadu dengan lautan seperti sedang berciuman. Saat melewati pantai Tanjung, Desa Magepanda, Sikka, kami melihat patung salib berwarna putih di atas bukit.  Teman saya jurnalis televisi meminta sopir menghentikan kendaraan sejenak.

“Kami mau ambil gambar salib dan laut dari atas,” ucapnya.

Sopir menepikan mobil di jalan yang tak terlalu lebar, supaya masih bisa dilewati kendaraan lain yang lewat. Tangga-tangga kecil di tepi jalan menuntun langkah menuju ke atas bukit, sampai di tempat salib itu berada. Orang-orang sering mengunjungi tempat ini untuk menikmati panorama matahari tenggelam. Tak jauh dari situ, terdapat batu-batu dengan dengan gua-gua kecil di dalamnya. Sopir kami lalu bercerita kalau orang sering masuk ke gua itu untuk memancing ikan.

Selesai mengambil gambar, mobil kami kembali bergerak dengan kecepatan rata-rata. Angin khas tepi laut berhembus. Jendela kaca mobil sengaja kami buka untuk merasakan suasananya. Beberapa kilometer dari Pantai Tanjung, mobil kami mulai memasuki daratan dengan sawah-sawah yang menghampar dan suasana pedesaaan. 

“Desa pesisir ini banyak dihuni suku Bugis Makasar,” ucap sang sopir.

Kami mengangguk-angguk mendengar penjelasannya. Dari suku Bugis Makassar inilah, penduduk asli belajar bercocok tanam. Sawah dan kebun di Flores bergantung pada air tadah hujan. 


Pantai dan laut dari jalur Pantai Utara Flores
Pemandangan dari jalur pantai utara Flores. Foto: Nieke


Mobil melaju dan kami kembali menemukan diri di jalur pinggir pantai. Pohon-pohon bakau terlihat di tepi-tepi daratan. Lagi, jalur membawa kendaraan kami memasuki suasana permukiman di pedesaan. Rumah-rumah di tepi jalan yang kami lewati hampir selalu terdapat makam di samping rumahnya. Sopir kami kembali bercerita, biasanya itu makam keluarga dekat, yakni kakek, nenek, atau orang tua. 

Konon, penduduk asli percaya kalau mereka tetap terhubung dengan leluhur mereka. Pada hari dan acara tertentu, mereka akan menyajikan makanan minuman di dekat nisan. Mereka percaya kerabatnya bisa ikut pesta bersama mereka. 

Kami melanjutkan perjalanan. Kali ini kami dimanjakan dengan pemandangan bukit-bukit dan padang savana yang menghampar dengan indahnya. Tak menyesal rasanya mengiyakan tawaran sopir untuk mencoba menyusuri jalur pantai utara Flores.

Beberapa menit kemudian, jalan yang kami lalui mulai menanjak. Mobil menyusuri perbukitan dengan jalannya yang berliku. Kami berada di antara perbukitan. Pemandangan indah yang mengingatkan saya pada film-film China, yang kerap menyajikan panorama gunung dan perbukitan dengan jurang-jurangnya. Iya, mirip seperti itu. 


Saya dan kawan-kawan 'tukang blusukan' di Maumere.
Foto: Nieke



Beberapa jam mobil naik turun bukit, akhirnya kami sampai di daratan landai. Tiba-tiba ekor mata saya menangkap seekor elang Flores terbang rendah dari arah utara. “Gaes, coba lihat,” seru saya pada teman-teman seperjalanan. Mereka terpukau. Sayang, kami tak sempat mengabadikannya karena elang terbang begitu cepat ke langit, menukik, dan menghilang di antara perbukitan. 

Di mobil, sopir memutar lagu Gemu Famire, yang menggunakan bahasa daerah Maumere.


Maumere da gale kota ende
Pepin gisong gasong
Le'le luk ele rebin ha
Maumere da gale kota ende
Pepin gisong gasong
Le'le luk ele rebin ha
La le le luk si la sol
Mi fa mi fa sol
Le'le tiding fa fa
Rebing mude mi
Do do do do mi do mi do gemu fa mi re
Ele le, ele le, ele le le le


Nieke Indrietta

Tulisan perjalanan saya lebih detil soal Maumere, bisa dibaca di Koran Tempo melalui tautan berikut: Lambaian Maumere.

Artikel lainnya tentang kuliner dan traveling, klik di sini.

36 komentar:

  1. padang savananya sangat instagram able ya, jadi pengen mampir :D

    BalasHapus
  2. Seru sekali ya kayanya pengalaman selama di Flores. Bagi saya kalo lagi main jauh-jauh, tiap kalo ketemu local people itu rasanya sangat menyenangkan sekali, ngbrol-ngbrol mengenai kehidupan mereka yang sangat sederhana atau hal lainya. Hal ini yang sering sekali terngiang kalau habis mengunjungi suatu tempat ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ketemu local people itu bagian paling menyenangkan juga bagi saya kalau saya pergi ke suatu tempat. Dengerin cerita-cerita mereka itu kayak nambah pengetahuan gitu. Jadinya liburannya nggak cuma sekadar mampir dan foto-foto.

      Hapus
  3. Hoo banyak orang Bugis/Makassar di sana ya. Saya tuh penasaran, pengen lihat savananya NTT dengan mata kepala sendiri, Mbak Nieke. Semoga kesampaian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga surprised, Mbak Mugniar. Pas denger cerita kalau ternyata ada banyak orang Bugis/Makassar di sana. Mungkin karena suku Bugis pelaut, jadi mereka sampai juga di sini dan akhirnya menetap. Semoga Mbak Mugniar dapat kesempatan berkunjung ke sini ya.

      Hapus
  4. Mba Nieke saya suka banget dengan pakaian tenunnya, pengen punya, warnanya cantik banget deh, duh jadi kangen Flores, sayangnya saya belum sampai ke Maumerenya, ada teman asli sana, semoga saya bisa berkunjung ke sana deh

    BalasHapus
  5. Aduh pemandanan pantainya cakeep banget.. selalu suka dengan pemandangan pantai.. fotonya baguuus.. btw mbak Nieke kelihatan imut ditengah penduduk flores.. mereka rata rata tinggi besar ya...

    BalasHapus
  6. Jadi auto nyanyi saya baca lirik lagunya, lebih enak dengar lagu ini di kota aslinya Maumere sambil melihat pemandangan pantai di sana ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagu enak buat joged sama olahraga pagi, Mbak :)

      Hapus
  7. Wah senengnya ya mbak, bisa jalan-jalan ke Flores. Pemandangan alamnya bagus banget. Tentu ada kebahagiaan tersendiri ya mbak bisa berinteraksi langsung dengan penduduk setempat. Saya ingin juga bisa berkunjung kesana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya bisa ke sini juga waktu itu dalam rangka dinas kerja. Beruntung banget bisa ke sini. Semoga Mbak Sulis juga suatu ketika bisa ke Flores ya. Bagus banget pemandangannya.

      Hapus
  8. Wow asyiknya bisa pergi ke daerah terpencil di Flores. Pemandangan di Indonesia Timur memang sangat indah dan masih alami. Semoga bisa ke sana suatu hari nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langit sama lautnya itu lho, Mbak. Biruuuuuu bangeeeeet. Saya sampai terpesonaaaa.

      Hapus
  9. Wah kapan ya ke Flores? Mimpi ke pulau Komodo belum terlaksana juga hehe.. Nice story kak Nieke.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tos! Saya juga belum kesampaian ke Pulau Komodo. Semoga impiar bisa tercapai yaaa.

      Hapus
  10. Ya ampun. senengnya baca cerita ini. asyik banget ya mbak, apalagi aku mimpi bgt bisa dolan ke daerah timur, piknik kesana 😍😍 Itu lagu Maumere suka banget aku dengerin di mobil, sambil joget2 🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Samaaa dooong. Saya suka juga dengerin lagu Maumere sambil joged-joged. Buat olahraga pagi senam juga asik lho, Mbak.

      Hapus
  11. Wiiihh DELAPAN TAUN lalu dan mba Nieke masih bisa mengingat detailnya dengan rapih seperti ini?
    Keren sangaaatt dirimu mbaaa
    Aku juga mauukk ngetrip ke Maumere!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya biasanya bawa jurnal atau agenda gitu kalau bepergian. Cerita perjalanannya saya jurnaling secara detil di buku itu. Jadi mau ditulis kapan saja, tinggal buka bukunya. :D Gitu rahasianya.

      Hapus
  12. wah mbak nieke masih inget ya perjalannan ini pasti sangat berkesan, aku sendiri belum pernah lihat bukit savana langsung. duh jadi pengen ke maumere deh sambil joget2 wkwk

    BalasHapus
  13. Aku sama teman-teman ke Maumera tahun 2018 yl. Lalu perjalanan darat tapi lewat jalur Selatan ke Labuan Bajo. Wow, jalannya kelok-keloknya ampun ya. Hebat ama drivernya tuh. Pengen mengulang kembali deh, tapi lewat Utara kayak mba Nieke...

    BalasHapus
  14. Penginnn gitu bisa melihat langsung padang savana di NTT. Selama ini hanya bisa lihat lewat beberapa film. Penasaran juga melihat langsung kehidupan disana.

    BalasHapus
  15. Seru sekali mba Nieke ke flores karena diundang. Tentu pengalamannya menyenangkan banget. Apa mba kerja di tempo? Temanku juga pernah kerja disana, jangan2 kenal

    BalasHapus
  16. wahh mainnya sampai jauh banget mbak Nieke :)
    menarik banget ya kekayaan alam di Indonesia.

    BalasHapus
  17. Keren bangetttt viewnya mba! Aku belum pernah menginjakkan kaki ke Flores sana. Baru sampe Borneo aja. Untuk akomodasi dan trasnportasinya sulit ga mba?

    BalasHapus
  18. Senang ya Mba bisa berkujung ke Flores. Ga hanya bisa menikmati keindahan alamnya saja tapi bisa belajar tentang budaya dan tradisi dari penduduk setempat. Semoga suatu hari akupun bisa berkunjung ke Flores.

    BalasHapus
  19. Sebagai wartawan/ jurnalis, saat bepergian wajib banget bawa notes ya, kak..
    Gak bisa bawa gadget aja gitu yaa..
    Yang paling suka dari perjalanan itu adalah pengalamannya yaa...tak ternilai harganya.

    BalasHapus
  20. Keren Mbak, perjalanannya. Saya selalu kagum dengan traveller yang bisa menuliskan perjalannnya, seolah pembaca ikut ke sana

    BalasHapus
  21. Seru banget bisa bekerja sekaligus jalan-jalan ke Flores ya mbak, disana disuguhi pemandangan indah pula. Mudah-mudahan suatu saat aku juga bisa berkunjung kesana

    BalasHapus
  22. wah flores pantainya bagus ya mbak
    klo di flores kuliner lokalnya apa mbak?
    meski uda lama, ceritanya tetap menarik buat ditulis ya mbak

    BalasHapus
  23. Wah, memang benar adanya Flores dengan pantai dan budaya warbiayasa..
    Aku tahun lalu rombongan sama teman kantor suami ke Labuan Bajo, dan itu bikin kami berdua berencana mengunjungi bagian Flores lainnya berempat saja sama anak-anak biar lebih puas. Karena kalau ikut trip bareng rombongan itu bentar-bentar bangets singgahnya kwkwkw

    BalasHapus
  24. Jadi penasaran dengan tulisan Mb Nieke yang lebih lengkap nih tentang perjalanan selama di Maumere ini. Cuuzz ke link satunya juga aahh..

    BalasHapus
  25. wah pastinya senang banget ya mbak di perjalanan disuguhi pemandangan yang indah kayak di Flores ini.

    BalasHapus
  26. Tawaran ke Flores dari sepupu saya sebelum pandemi saya tolak dengan alasan sibuk karena kerjaan. pas baca ini, saya jadi menyesal dong, kenapa dulu saya nolak tawaran dia. padahal tinggal berangkat karena akomodasi tinggal bayar separuh ajah. huhuh..

    BalasHapus
  27. aku sukak view sepanjang flores, apalagi di maumere. ketika pertama kali kesana, meskipun nggak kayak kota besar, tapi wilayahnya tenanggg gitu, orang orangnya ramah semua

    BalasHapus
  28. Cakep tulisannya Mbak. Aku ikut terhanyut mengikuti alur. Seakan berada di sana juga. Wajarlah kalau bisa terbit di Tempo. Keren benget.

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.