Menu

Percik Kata Nieke

Selasa, 29 Oktober 2019

3 Faktor Penentu Keberhasilan Terapi Kanker Payudara

"Ada benjolan di payudaraku,” ucap Budhe tak hanya pada saya, tapi juga ibu saya, dan para Budhe lain di sebuah kamar, saat kami bertemu dalam sebuah acara keluarga di Semarang, dua tahun lalu.

Saya terhenyak. “Budhe, periksakan ke dokter ya, wajib itu,” kata saya, yang juga ditimpali kalimat senada oleh para Budhe yang lain. 

“Ah tapi aku takut nanti gimana-gimana,” ujarnya.
dokter Bob dari RS Onkologi Surabaya dan Endri Kurniawati penyintas kanker
payudara saat kampanye kesadaran kanker payudara. Foto oleh @katanieke

“Justru diperiksakan, Budhe, daripada nanti jadi gimana-gimana,” kata saya lagi.

Saya gagal meyakinkan Budhe saya untuk memeriksakan dirinya waktu itu. Pun demikian dengan Budhe-budhe saya yang lain. Selama setahun saya tak mendengar kabar apapun, hingga Ibu memberitahu saya, kalau Budhe saya itu akan menjalani kemoterapi di Ibu Kota. Dari cerita anaknya, saya mengetahui saat diperiksakan ke dokter, Budhe saya divonis stadium 4 kanker payudara.

Ah. Hati saya terkoyak.

Kabar duka datang di akhir Februari 2019, Budhe saya mengembuskan napas terakhirnya tak lama usai menjalani kemoterapi yang pertama. Saya menerima kabar tersebut melalui Ibu saya, yang menerima pesan pendek di aplikasi perpesanan Whatsapp. Ada sedikit perasaan penyesalan terselip, seandainya saya dulu bisa meyakinkannya untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

* 

Pasien kanker payudara kerap terlambat datang



Problem terbesar dalam penanganan kanker adalah terlambatnya penderita datang berobat ke rumah sakit. Di Indonesia, lebih dari 70 persen kasus kanker payudara datang terlambat. 

"Sudah mencapai stadium III dan IV,” kata dokter Bob J. Octovianus, SpB (FICS) dari Rumah Sakit Onkologi Surabaya, dalam acara Breast Cancer Awareness Campaign 2019, di atrium Tunjungan Plaza 6, Surabaya, 13 Oktober 2019. Kampanye itu digagas oleh Rumah Sakit Onkologi Surabaya.

Dalam acara kampanye kesadaran kanker payudara bertajuk “Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Terapi Kanker Payudara” tersebut, dokter Bob mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan pasien datang terlambat. Antara lain: kurangnya pengetahuan soal kanker payudara, kemampuan ekonomi pasien, kondisi psikologis, dan misinformasi soal kanker.  

“Kenapa pasien datang terlambat, paling banyak karena pasien tidak tahu,” ucap dokter Bob. Pengetahuan masyarakat mengenai kanker payudara masih minim. Banyak yang beranggapan benjolan pada payudara tidak berbahaya. Alasan lainnya, karena takut, termasuk takut merepotkan keluarganya. “Pas ketahuan, baru dipaksa diperiksa.”

Padahal, deteksi dini kanker payudara adalah hal yang penting. Menurut dokter Bob, bahkan akan lebih baik ketika kanker itu terdeteksi sebelum terbentuk benjolan di payudara. Ini bisa terdeteksi melalui pemeriksaan mamografi secara rutin setahun atau dua tahun sekali. Biasanya potensi benjolan itu terdeteksi berupa perkapuran saat diperiksa melalui mamografi.




Kanker payudara adalah penyakit kelainan sel pada kelenjar payudara, sebanyak 85 persen berasal dari ductus. Itu sebabnya, kata dokter Bob, gejala awal bisa dilihat dari puting payudara.

Meski demikian, tak semua keluhan pada payudara adalah kanker, ada yang lantaran hormonal dan bawaan lahir. Perempuan mesti rutin melakukan pemeriksaan terhadap payudara sendiri atau Sadari, setidaknya sebulan sekali. Dengan demikian, ia mengenali kalau ada perubahan bentuk terhadap tubuhnya. Kalau benjolan tidak hilang setelah menstruasi selesai, kemungkinan kanker dan mesti diperiksakan ke dokter. 


“Ini sebab pentingnya perempuan melakukan gerakan Sadari,” kata dokter Bob.

Proses terjadinya kanker membutuhkan waktu. Dari sejak kanker itu berbentuk perkapuran dalam tubuh hingga berbentuk benjolan tubuh yang bisa diraba, membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun. Dokter Bob mengungkapkan, kalau seorang wanita datang memeriksakan benjolan yang usianya dua bulan, sebenarnya itu sudah berusia dua tahunan. 

“Jika ia melakukan mamografi dua tahun lalu, perkapuran itu akan terlihat,” katanya.

*





Bisakah kanker payudara disembuhkan?


“Jawabannya bisa. Bisa banget. Tapi ada syaratnya,” kata dokter Bob.

Ada tiga faktor keberhasilan terapi menurut dokter Bob. Pertama, berdasarkan karakter biologi tumor. Ia mengumpamakan sel kanker seumpama sifat manusia yang suka tidur, suka bercanda, dan pemarah. Namun, manusia tidak bisa memilih jenis kanker yang muncul di tubuhnya. Lantaran ada perbedaan karakter itulah, ada pula perbedaan penanganannya.

“Ini sebabnya ada wanita yang perlu kemoterapi dan tidak. Ini tugas dokter untuk lihat,” ujarnya. Hasil patologi menentukan bagaimana tim dokter menentukan prediksi dan langkah selanjutnya.


Presentasi dokter Bob soal kanker payudara.
Foto: @katanieke 

Faktor kedua, kapan terdiagnosis dan dilakukan terapi. Jeda waktu antara pemberian diagnosa dokter dengan terapi juga menentukan. Jangan sampai kurun waktunya terlalu lama. Menurut dokter Bob, pasien dengan stadium nol dan 1 memiliki kesempatan sembuh seratus persen. Problemnya di Indonesia, kata dia, sebanyak 60-70 persen pasien yang datang sudah memiliki stadium lanjut.

Deteksi dini dengan mamografi mestinya menjadi hal yang wajib. Setidaknya setahun atau dua tahun sekali. Ini untuk melihat potensi kanker dalam tubuh atau yang berbentuk perkapuran sebelum menjadi bentuk benjolan tubuh. 

Ketiga, kualitas terapi. Penderita kanker biasanya ditangani oleh tim yang terdiri dari berbagai dokter ahli. “Tak ada satu dokter yang bisa menjadi superhero menentukan semuanya,” ucapnya. Tim dokter ini yang akan menentukan penanganannya seperti apa berdasarkan hasil pemeriksaan beberapa lapis.  “Ada triple diagnosis.”

Dari ketiga faktor yang menentukan keberhasilan terapi kanker payudara di atas, dokter Bob menekankan pentingnya pasien untuk melakukan gerakan Sadari dan segera konsultasi ke dokter apabila menemukan gejala aneh atau benjolan.

“Kalau terdiagnosis dini, walaupun karakter biologinya agresif tapi masih stadium nol dan satu, pasien masih bisa baik. Dokter bisa melakukan terapi dengan tingkat keberhasilan tinggi,” tuturnya.

*




Kisah Endri, penyintas kanker payudara

Bisa melewati vonis kanker payudara bukanlah mimpi di siang bolong. Endri Kurniawati adalah salah seorang survivor atau penyintas kanker payudara yang telah menjalani beberapa kali kemoterapi dan operasi. 

Ia menemukan benjolan pada payudaranya pada 2012 dan menjalani tindakan kedokteran di tahun yang sama. Lantaran saat itu sedang menstruasi, ia menunggu hingga periodenya rampung. “Ternyata benjolan masih ada,” ucapnya di acara kampanye kanker payudara di Tunjungan Plaza 6, Surabaya, 13 Oktober 2019.

Endri kemudian bergegas memeriksakan diri ke sebuah rumah sakit di Jakarta Barat  serta melakukan tes deteksi dini kanker payudara. Paket tersebut memberi layanan pemeriksaan oleh dokter umum, dokter bedah, ultrasonografi, dan mamografi. Hasil pemeriksaan menyatakan ia terkena kanker payudara stadium dua. Benjolan di dadanya berukuran 2,5 sentimeter. Endri juga melakukan pemeriksaan lagi di Rumah Sakit Onkologi Surabaya untuk memperoleh opini kedua.


Saya dan Endri Kurniawati (kanan)
di acara kampanye kanker payudara.
Foto: @katanieke
Vonis kanker itu mengagetkan. Apalagi Endri tidak merokok, tidak minum minuman keras, berolahraga rutin, dan memilih makanan. Hanya saja, sebagai wartawan saat itu ia kerap bekerja dari pagi hingga lewat tengah malam. 


Kepada penderita kanker yang masih menjalani kemoterapi, Endri memberikan dukungan untuk tetap bersemangat. Endri berujar, kemoterapi memiliki efek yang membuat orang yang menjalaninya merasa mual tiap hendak makan. Ia pun mengalaminya kala menjalani enam kali kemoterapi. 

“Ibaratnya seperti mesin, saya berusaha makan apa saja tanpa merasakan,” ucapnya.

Usai menjalani kemoterapi, Endri masih harus melalui kontrol dokter per enam bulan dan tes kesehatan setahun sekali. Tes itu untuk mengukur kadar sel kanker dalam tubuhnya tidak mencapai jumlah tertentu yang dianggap berbahaya. 

Kini, sebagai penyintas--orang yang bertahan lebih dari tiga tahun sejak dinyatakan terkena kanker, Endri mengubah gaya hidupnya menjadi lebih teratur dan sehat. Mulai dari makanan yang non-bahan kimia dan pengawet, tidak berlemak, hingga jam tidur. "Pukul sepuluh malam saya sudah tidur," ujarnya.

Ia juga kembali beraktivitas seperti biasa, sebagai wartawan dan editor di sebuah media massa nasional. Beberapa bulan lalu, Endri juga berangkat menunaikan ibadah haji.


Endri menekankan pentingnya melakukan gerakan Sadari (periksa payudara sendiri) secara rutin. "Karena sampai sekarang pasien kanker datang ke dokter sudah dalam stadium lanjut," tuturnya.

Melalui kegiatan Sadari, Endri berujar, orang bisa menghindari keterlambatan itu. Ketika menemukan benjolan tubuh, Endri mengatakan sebaiknya segera datang ke dokter yang kompeten di bidangnya yakni dokter dari onkologi. Ia mengingatkan masyarakat agar tidak tergoda dengan pengobatan non-medis dan iming-iming harga murah. "Jangan abaikan tanda-tanda tubuh. Jangan terlambat ke dokter," ujarnya.
Memeriksakan diri ke dokter yang kompeten,  menurut Endri, meningkatkan kemungkinan kesempatan hidup dan kesembuhan. 
Cara melakukan Sadari. Sumber: akun Instagram Kemenkes RI.

Penderita kanker payudara biasanya mengalami keadaan psikologis yang membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya. Endri menyarankan pejuang kanker atau warrior--istilah untuk orang masih berjuang dengan kanker dengan masa kurang dari tiga tahun, untuk bergabung dengan komunitas. Endri sendiri bergabung dalam Reach to Recovery Surabaya (RSS), sebuah kelompok penyokong  yang berlokasi di kota Pahlawan.

"Mereka menjadi teman bagi para pejuang yang masih harus menjalani pengobatan," katanya. Bentuk dukungan tak hanya mengobrol, tapi juga termasuk memberikan informasi bagaimana menggunakan BPJS untuk pengobatan tersebut.

Selain itu, RRS kerap mengadakan kampanye dan advokasi. Kampanye berupa pengenalan akan kanker seperti kegiatan Sadari melalui sosialisasi secara langsung dan tulisan. Sedangkan advokasi, berupa memberi masukan kepada pemerintah mengenai apa apa yang diperlukan publik mengenai hal ini. 

Dengan bersikap terbuka, Endri melanjutkan, penderita dan penyintas kanker bisa memperoleh dukungan dari lingkungan sekitarnya. Ia mengaku, ketika menghadiri suatu acara biasanya teman-temannya memberitahu untuk tidak memakan menu tertentu. Bahkan, mereka menyediakan hidangan khusus yang bisa ia konsumsi. 

"Bukan ingin diistimewakan, namun ini sekaligus membantu orang menyadarkan bahwa sebaiknya kita makan makanan sehat," katanya. 

Endri telah menerbitkan buku bertajuk Kehidupan Kedua (2015) dan membuat akun Facebook dengan nama yang sama, sebagai bentuk pendampingan literasi soal kanker dan gaya hidup sehat. 

"Pembaca biasanya menghubungi saya melalui percakapan di inbox lalu bisa berdiskusi soal kanker," katanya. Endri berencana meluncurkan buku kedua dan ketiganya soal kanker payudara pada Desember 2019.

***
Epilog

Kisah Endri Kurniawati tak hanya membuat saya menjadi lebih hati-hati dengan kesehatan saya. Saya yakin, kisah perempuan tangguh ini juga memberikan harapan dan semangat buat pejuang dan penyintas kanker payudara di manapun kalian berada. 

Saat membuat tulisan ini--yang dibuat dalam rangka "Breast Cancer Blogger Perempuan Movement, in Collaboration with Wacoal"--saya juga membaca buku Kehidupan Kedua yang ditulis Endri. Babak saat ia menceritakan menerima vonis dokter, membuat hati saya mencelos dan menitikkan airmata. Perjuangannya tak mudah. Tapi ia bisa melaluinya dengan tangguh.



Omong-omong, Wacoal--merek pakaian dalam, mendukung bulan Kanker Payudara yang diperingati tiap Oktober dengan menyediakan kotak donasi di tiap toko-tokonya. Beberapa waktu lalu, saat saya membeli sebuah bra di Toko Wacoal di Tunjungan Plaza 3 Surabaya, saya melihat kotak donasi kanker payudara di samping meja kasir. 

Semoga tulisan saya seputar kanker payudara ini, bisa berguna untuk orang-orang khususnya perempuan, yang sedang mengalami kegundahan soal benjolan di tubuhnya untuk segera memberanikan diri memeriksakan diri ke dokter. Pun juga untuk pembaca budiman yang sehat, tetap bisa waspada kanker payudara dengan aktivitas Sadari. Semoga kita senantiasa dianugerahi kesehatan.

Nieke Indrietta

10 komentar:

  1. Aku membaca kisah Endri itu nggak nyangka, memang itu jalan Tuhan yang digariskan dia dan keren sekali Endri bisa memotivasi.
    Tumor payudara saja aku sudah ngalami dan nggak enak banget, apalagi Kanker Payudara. Aku juga heran, kok bisa terkena tumor payudara, padahal hidup sehat. Tapi, memang itulah jalan Tuhan.

    Perempuan Indonesia masih banyak yang belum aware dengan benjolan-benjolan aneh atau keanehan di dalam tubuhnya. Semoga semakin banyak perempuan-perempuan yang aware dan tidak terlambat jika mengalami sesuatu yang aneh.

    Namun, tetap saja, semoga kita semua sehat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Turut sedih atas apa yang pernah menimpa Mbak soal tumor payudara. Saya salut Mbak juga kuat menjalani pengobatan dan melalui semua itu, meski itu kategori tumor. Sekalipun kita sudah berupaya menjalani hidup sehat: tidak merokok, tidak minum minuman keras, memilih makanan, ternyata memang ada faktor lain seperti genetik dan polusi udara yang bias menyebabkan berbagai penyakit. Mungkin benar kata Mbak, terkadang ada yang memang Tuhan izinkan terjadi dalam kehidupan kita. Syukurlah, Tuhan memberi kekuatan bagi Mbak untuk melaluinya dengan baik.

      Benar, semoga kita perempuan semakin waspada dengan berbagai hal terkait kesehatan kita. Semoga kita semua sehat. Terima kasih sudah mampir di laman saya.

      Hapus
    2. Kak Einid pernah kena tumor? Turut prihatin, semoga sehat selalu dan sudah sembuh total, ya. Saya baru tahu setelah baca komennya di sini.

      Hapus
  2. MasyAllah makasih banyak ya mba tulisan edukasinya. Aku jadi belajar banyak terutama soal mitos dan fakta tadi di atas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Karena saya sering sekali menerima pesan berantai di grup whatsapp soal pesan kesehatan tentang kanker payudara dan kanker rahim. Tapi isinya HOAKS SEMUA. Saya dan Mbak Endri sering geram dengan pesan-pesan menyesatkan semacam itu. Semoga artikel ini bisa menjadi edukasi agar kita aware tak hanya terhadap kanker payudara, tapi juga pesan HOAKS yang beredar. Terima kasih ya Mbak sudah mampir di laman saya. TABIK.

      Hapus
  3. Gegara ada kerabat memiliki benjolan di payudaranya, saya ikut2an melakukan pemeriksaan via usg di lab Pramita. Saya sempat surprise karena dokter mendeteksi beberapa benjolan yang tak teraba walaupun diagnosanya tidak mengkuatirkan. Dari ini saya langsung sadar bahwa pemeriksaan usg penting dilakukan oleh wanita, baik ketika ada benjolan ataupun tidak teraba benjolan. Deteksi dini memungkinkan perawatan juga dilakukan sedini mungkin. Pemeriksaan usg kedua saya lakukan di rumah sakit Island, Penang untuk membandingkan hasil dengan dokter sebelumnya. Kalo boleh jujur, pemeriksaan di sini lebih lama dan teliti, mungkin karena petugasnya nantinya harus menunjukkan hasilnya ke dokter spesialis radiologi yang berkunjung ke ruangan. Di rumah sakit Island juga ada dokter wanita yg spesialisasinya di bedah payudara. Kerabat saya ditangani oleh dokter tersebut. Jika ingin mendapatkan hasil pemeriksaan yang lebih detil, teman saya menganjurkan untuk memeriksa di Singapura. Hasil usgnya mampu untuk melihat pembuluh darah di sekitar benjolan 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makaci udah mampir di laman ini untuk memberi testimoninya ya, Dol. Syukurlah juga, benjolan tak teraba itu diketahui lebih awal, sehingga bisa dilakukan tindakan preventif. Take care ya, Dol. God bless you always.

      Hapus
  4. Informatif sekali. Semoga yang share hoax tentang kanker payudara juga membaca.

    BalasHapus
  5. Sangat bermanfaat sekali M BAK IndrπŸ‘πŸ˜‡. Jadi memang sebaiknya periksakan sedini mungkin, selain di periksa secara manual perabaan tangan , bisa dilihat keasaman Tubuh, karena Tubuh yang Asam pemicu 90 persen penyebab penyakit.
    Griya Sehat siap membantu anda yang mau belajar dan mau tahu kondisi tubuhnya ( asam / basa). Untuk mendapatkan Free pemeriksaan darah, silahkan konfim dan kontak Anne 081332996761

    BalasHapus
  6. Sepertinya saya juga haeus waspada dan peduli pada tubuh sendiri terutama bagian yang sangat penting sebagai perempuian karena yang namanya kanker payudara itu adalah hal tak terduga bagi siapa saja. Termasuk saya yang bisa jadi rentan terkena kanker payudara atau apalah jika kurang peduli pada kesehatan tubuh dan hal lainnya.
    Baca ini bisa beroleh banyak informasi berfaedah sekaligus penggugah semnangat.
    Semoga kita semua tetap sehat, ya. Salut untuk para penyintas kanker payudara.

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.