Menu

Percik Kata Nieke

Senin, 13 Mei 2019

Review Drama Korea Choi Jin-hyuk: Tunnel vs Pride and Prejudice


Drama Korea Tunnel (2017). Sumber dari sini

Ketika netizen lagi heboh membahas penampilan Choi Jin-hyuk di drama Korea terbarunya, The Last Empress, saya memilih menunggu seluruh episodenya rampung dulu. Saya malah melipir ke drama-drama lama Jin-hyuk. Akhirnya menonton dua drama yang bintang utamanya Jin-hyuk ini: Tunnel dan Pride and Prejudice.


Di dua drama ini, Jin-hyuk menjadi pemeran utama pria. Di Pride and Prejudice kita menyaksikan Jin-hyuk yang dominan, tegas, kharismatis, dan idealis. Kita akan dibuat terpesona oleh pria yang cerdas dan punya banyak taktik sebagai jaksa hukum yang menyelidiki banyak kasus. Sementara di Tunnel, Jin-hyuk menjadi detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan berantai dengan seting cerita 1986, namun secara tak sengaja ia terlempar ke masa depan.

Tunnel (2017)

Park Gwang Ho berlari mengejar sosok yang ia curigai sebagai pelaku pembunuhan berantai. Ia lari masuk ke terowongan. Di situ keduanya terlibat baku hantam. Bergelut. Gwang Ho kalah gesit, ia terpukul di bagian kepala, lalu ambruk. Pelaku yang mengenakan jaket hoodie dan wajah yang tak terlihat itu mengira Gwang Ho sudah dalam sakratul maut. Maka ia dengan santai melenggang meninggalkannya.

Gwang Ho pingsan entah untuk berapa lama. Saat tersadar, ia merasakan perih di kepala. Ia mencoba bangkit, berjalan, lalu keluar dari terowongan. Tanpa sadar, bahwa ia telah berpindah dimensi, dari 1986 ke 2016. Di sinilah, Gwang Ho bertemu dengan polisi muda yang bernama sama: Park Gwang Ho, yang kemudian lenyap secara misterius. Di masa depan, Gwang Ho bertemu dengan Jeon Sung-sik (diperankan Jo Hee-bong), yang dulu menjadi bawahannya. Sung-sik di masa depan telah menjadi kepala divisi. Gwang Ho diam-diam mengambil identitas Gwang Ho yang menghilang, lalu bekerja sama dengan Sung-sik mencari polisi muda yang hilang ini, dengan harapan bisa kembali ke masa lalu. 




Drama Korea Tunnel ini patut mendapat jempol. Bukan hanya karena yang main Choi Jin-hyuk lho ya. Tapi karena kekuatan cerita, plot, dan logikanya. Di sini, Jin-hyuk berperan sebagai detektif bernama Park Gwang Ho, dengan karakter yang mudah marah, temperamen, tak sabaran, cenderung bekerja sendirian, antusias, inisiatif tinggi, dan melawan atasan. 

Maka sepanjang drama, bersabarlah melihat kebodohan-kebodohan dan kelucuan yang dilakukan Park Gwang Ho. Sebenarnya ia detektif yang cerdas. Kebodohannya bukanlah bentuk dari ketidakmampuan otaknya, tapi wujud dari tidak mampunya ia mengendalikan emosinya. Dan itu berpengaruh dalam penyelesaian kasus-kasusnya. Tak sedikit saya mengomel dan merutuki apa yang dilakukan Park Gwang Ho sewaktu menonton 16 episode Tunnel.

Kalau saja Gwang Ho begini, kasusnya akan lebih mudah.

Kalau saja Gwang Ho bekerja sama dengan timnya dalam mengejar pelaku, penangkapan akan lebih mudah.

Kalau saja, dan kalau saja. Tapi kan bukan saya penulis naskahnya. Kejengkelan saya terobati lantaran plot drama yang kuat. Penulis dan pembuat drama ini terlihat memahami pekerjaan seorang polisi dan melakukan riset sebelumnya. Contohnya, ada satu adegan saat para polisi melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) atas kasus pembakaran. Si pelaku dibawa ke tempat lokasi kejahatan, lalu dalam keadaan diborgol menceritakan di titik A ia ngapain saja, bergerak ke titik B, dan berikutnya. Saya paham proses olah TKP lantaran pernah menjadi wartawan yang liputannya kriminalitas. Nonton Tunnel, saya juga jadi (diam-diam) tahu bedanya proses hukum di Korea dengan Indonesia. 

Nonton Tunnel ini menyenangkan, kita seperti dibawa dalam satu teka-teki menuju teka-teki berikutnya untuk memecahkan siapa pelaku pembunuhan berantai. Kalau kamu pernah nonton Signal dan menggemarinya, kamu pasti menikmati nonton Tunnel. Gak ada cerita menye-menye di sini. 


Hanya, di tiga episode terakhir--entah apa karena mulai kelelahan, cerita mulai terlihat kedodoran. Beberapa logika seperti menguap. Jika pelaku pembunuh berantai sudah tahu bahwa Gwang Ho datang dari masa lalu, kenapa dia tak membongkar identitasnya sekalian? Bukankah menguntungkan, karena ia bisa kabur dengan mudah?

Di luar itu, jalinan-jalinan ceritanya cukup renyah dan lezat. Kekuatan akting para pemainnya juga memikat. Kita disuguhi karakter-karakter yang kuat baik protagonis dan antagonis. Ada Kim Seon-jae, detektif yang menjadi atasan Gwang Ho di masa depan yang tampan, cerdas, sok tahu, dan menyebalkan. Ada pula Shin Jae-yi, profesor perempuan yang mendalami kasus-kasus pembunuhan berantai. Ia misterius, cerdas, berani, dan penuh kejutan. Tampangnya selalu lempeng, seperti tanpa emosi.




 Pride and Prejudice (2014)

Berjudul sama dengan novel sekaligus film karya Jane Austeen, drama Korea ini mengisahkan tentang para jaksa yang memperjuangkan kasus-kasus demi keadilan. Adalah jaksa bernama Goo Dong-chi (Choi Jin-hyuk) yang bertemu dengan Han Yeol-moo (diperankan Baek Jin-hee, yang juga main di Juggler), jaksa perempuan yang masih dalam masa magang. 

Keduanya ternyata pernah berhubungan di masa lalu. Namun Pride and Prejudice tak berfokus pada kisah kasih mereka berdua. Ceritanya lebih pada kasus-kasus serta intrik dan politik di dunia hukum, bagaimana tangan-tangan orang berkuasa dan memiliki kepentingan, dan orang berduit bisa mempengaruhi kedudukan di sebuah lembaga yang mestinya tak tersentuh. Kisah romansa Goo Dong-chi dan Han Yeol-moo hanya menjadi lapisan kedua.

Dalam sebuah kasus ditemukannya jenazah, jaksalah yang terjun ke TKP dan menentukan perlunya otopsi atau tidak. Nonton yang beginian buat saya menarik. Jadi keinget masa liputan kriminalitas, hahaha. Kalau di Indonesia, yang terjun ke TKP pertama kali adalah polisi. Mereka akan melakukan penyidikan, penyelidikan, pengumpulan bukti, penetapan tersangka, hingga berkasnya lengkap barulah diserahkan ke kejaksaan. Setelah itu kejaksaan yang menangani di pengadilan. 

Cuma, buat saya ada hal-hal yang janggal di Pride and Prejudice ini. Biasanya, jaksa yang memiliki kepentingan pribadi atau berpotensi mengalami konflik kepentingan tidak akan diberi tanggung jawab atas kasus tertentu. Ini menyangkut kode etik. Biasanya akan dicari orang lain untuk menggantikan, sepanjang tidak bersinggungan dengan konflik kepentingan.

Lha ini di Pride and Prejudice, bolak-balik hal semacam itu justru terjadi. Misalnya, Han Yeol-mo adalah kakak korban pembunuhan, namun ia justru menangani kasus pembunuhan atas pelakunya dan rentetannya. Kejanggalan semacam ini membuat saya bertanya-tanya sepanjang 21 episodenya. Dan akhirnya memutuskan mengabaikan kelemahan logika cerita ini dan fokus pada kegantengan wajah Choi Jin-hyuk. 

Di luar hal tak masuk akal berkaitan dengan kode etik tadi, ceritanya berjalan cukup menarik. Pride and Prejudice tak melulu cerita intrik politik dan sarat hukum. Beberapa kali kita akan dibuat tertawa melihat kekonyolan-kekonyolan kisah pemainnya. Tak membosankan, kok.

Kita juga dibuat penasaran bagaimana Goo Dong-chi dan atasannya bisa berkelit dari tangan-tangan berkuasa. Memang, kalau dibandingkan dengan drama Miss Hamurrabi ya jelas kasus-kasusnya terlihat lebih nyata di sana. Miss Hamurrabi adalah drama tentang hakim yang diperankan oleh Go Ara. Mungkin karena penulis skenarionya juga seorang hakim, jadi dia tahu seluk-beluknya.

Yang jelas, kita masih bisa menikmati kok Pride and Prejudice ini. Cukup banyak plot twist dan bikin kita deg-degan dari satu episode ke episode lain. 




Nieke Indrietta


8 komentar:

  1. Setujuu beberapa kejanggalan masih ada, dan satu lagi diakhir ga dijelaskan apa si serial killer ditangkap di masa lalu atau enggak. Bukannya kalo ditangkap maka korban korban yg dibunuh ditahun 2017 bisa selamat dong,, terus kalo ga di tangkap maka dia nanti tetap jadi pembunuh

    BalasHapus
  2. Setujuu beberapa kejanggalan masih ada, dan satu lagi diakhir ga dijelaskan apa si serial killer ditangkap di masa lalu atau enggak. Bukannya kalo ditangkap maka korban korban yg dibunuh ditahun 2017 bisa selamat dong,, terus kalo ga di tangkap maka dia nanti tetap jadi pembunuh

    BalasHapus
  3. Hoo ... keunikan yang aling menarik kayaknya dari Park Gwang Ho yang sebenarnya detektif cerdas yang mana kebodohannya bukan bentuk ketidakmampuan otaknya, melainkan karena tak mampu mengendalikan emosi ... gemas2 gimana gitu ya nontonnya hihihi.

    BalasHapus
  4. Tunnel sudah nonton dan saya juga gemas pada detektif yang terasa gegabah. Tapi seru dan bikin tegang plus penuh teka-teki. Jadi ingat belum nonon beberapa episode terakhir karena hasil sedot laptop punya Ai Ghina dan tidak lengkap. Jadi pengen nonton lagi. Di Vidio ada. Yang premium.

    Pride dan Prejudice belum. Kapan-kapan nonton, ah. Kisah jaksa itu selalu menarik.

    Soal Tunnel, sebenarnya ada logika yang membingungkan juga. Tapi, sudahlah, barangkali pembunuhnya tipe egois yang ingin tetus bermain. Ada semacam kepuasan dalam mempermainkan korban berikut polsi.

    Saya sering nonton film detektif dari kecil, kayaknya pembunuh cenderung ingin pamer juga jadi menunjukkan identitas pola pembunuhannya sebagai bentuk pamer. Termasuk "Seven" yang dibintangi Brad Pitt.

    Film detektif kebanyakan tidak romantis, barangkali agar penonton tegang terus dengan alur misteri daripada tomansa, ha ha. Padahal kadang saya pengen ada romansanya.

    BalasHapus
  5. saya belum pernah lihat film ini, tapi setiap kali diceritakan dengan bahasa yang enak, selalu bikin penasaran. awalnya saya langsung menganggap ini film serius ternyata ada konyolnya juga ya, kebetulan saya suka film-film yang rada-rada komedi, maksudnya ga terlalu serius, jadi pengen lihat filmnya deh mba Nieke

    BalasHapus
  6. Filmnya asyik ya mbak Nieke. Denger ceritanya aja udah ikut deg2an , apalagi kalau nonton beneran ya. hihihi... Besok deh semoga ada waktu nonton, skrg masih ribet dg kesibukan lainnya 😬

    BalasHapus
  7. ((mengabaikan kelemahan drama ini dan fokus pada kegantengan Jin-Hyuk))
    wkwk bisa aja.
    Kalo buat saya sih, logika/masuk akal atau tidaknya sebuah drama itu yang jadi deal breaker. Tak peduli pemainnya ganteng/tenar, kalau ceritanya susah dicerna karena mengganjal ya hati rasanya tak kuat melanjutkan.

    BalasHapus
  8. Saya pikir ini judul film, ternyats judul drakor ya. Harus nonton nih suka banget dengan genre detektif yang membuat kita juga ikutan berpikir ttg ceritanya, cerita detektif lebih baguslah drpd horor gak berani sama sekali nontonnya hehe

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.