Menu

Percik Kata Nieke

Jumat, 28 Mei 2010

Cerita Tentang Payung Tua


Payung tua lusuh, berwarna biru. Apa dia tidak bisa beli yg baru? Sengat matahari menembus lubang. Apa pedagang ini tak punya uang? Kusut masai muka payung. Laki-laki itu tidak pasang muka murung. (Tentang pedagang minuman depan Starbucks Melawai Blok M, Jumat pagi, 28 Mei 2010)







Pagi-pagi aku sudah nyangkruk di depan Starbucks Melawai. Bukan, aku tidak berniat minum kopi di kedai itu. Pasalnya, Lindian mengirim pesan pendek padaku.

Tidak usah ke Kuningan. Kamu tunggu aja di Starbucks Melawai, nanti aku jemput di situ.

Arlojiku menunjukkan pukul 09.15. Perkiraanku, Lindi sampai sekitar 09.30. Kami akan mengunjungi sebuah panti asuhan hari ini. Aku tiba lebih awal. Masuk ke supermarket dengan brand nama Jepang, yang letaknya di samping kedai kopi. Matahari pagi hangat, tapi cukup membuatku meleleh. Tenggorokan kering. Aku membeli minuman untuk melepas dahaga. Belum lagi, naga-naga dalam perutku tiba-tiba bernyanyi. Aku menyempatkan diri mampir membeli sepotong croisant dan tiga potong donat di kedai kue, yang masih berada di satu gedung dengan kedai kopi dan supermarket.

Telepon selulerku berdering. Suara Lindi di ujung. "Nik, kita udah dekat. Tunggu yah."

Aku buru-buru membayar kueku. Melangkah ke teras. Menoleh kiri kanan, mencari mobil yang akan menjemputku. Lalu pandanganku terantuk pada laki-laki setengah baya di halaman parkir. Seorang pedagang kaki lima yang menjual minuman kemasan dan botol. Ia baru saja membuka warungnya. Mengangkat kotak penyimpan minuman. Membuka payung lusuh yang sudah compang-camping.

Aku tercekat. Lama aku menatapnya.

Payung itu, sungguh, sudah sangat tidak layak dipakai. Robek pada bagian tengah, lantas, apalagi fungsinya? Sudah tak dapat lagi digunakan untuk melindungi dari sengatan matahari dan deru hujan. Selayaknya payung itu dibuang. Warnanya pun sudah tak jelas lagi.

Kenapa laki-laki itu tetap memakai payung rombeng itu? pikirku.

Telepon selulerku kembali berdering. Masih Lindi yang berbicara. "Nik, kita salah ambil jalan. Kita jadi muter dulu."

Aku melirik arloji. Tak terasa waktu sudah berlari hingga pukul 10. Matahari sudah tak lagi menyapa hangat. Sinarnya nyolot malah. Bulir-bulir keringat menetes di dahi. Aku memutuskan menunggu di dalam. Menikmati sejuknya pendingin ruangan.

Tapi pikiranku masih tertuju pada pemilik payung lusuh itu. Kenapa bapak itu tetap memakainya? Kenapa dia tak menggantinya dengan yang baru? Harga payung toh tak terlalu mahal. Apakah payung itu pemberian seseorang? Lihat, bahkan payung itu tak bisa melindunginya dari sinar sang surya. Dan sekian kenapa bermain-main dalam benakku.

Ingin kuhampiri bapak itu dan bertanya tentang payungnya. Mungkin aku bisa sambil membeli sebotol minuman teh. Terus aku akan menanyakan alasannya mempertahankan payung rombeng itu. Baru saja aku hendak melangkah, telepon selulerku kembali berdering. Lindi. Dan mobil sedan itu sudah masuk ke parkir. Jendela terbuka, penumpangnya melambaikan tangan padaku.

Aku berlari masuk mobil. Selintas, mencuri pandang pada payung lusuh itu. Sampai menghilang dari pandangan mata. Masih meninggalkan pertanyaan dalam benakku.

Pak, kenapa tak kau ganti payungmu?




Jakarta, 28 Mei 2010
Nieke Indrietta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.