Menu

Percik Kata Nieke

Minggu, 04 April 2021

True Beauty versus Toxyc Beauty: Stereotipe Kecantikan yang Bikin Insecurity

Drakor True Beauty mempertanyakan standar kecantikan yang kerap jadi toxic beauty. Isu insecurity bukan hanya problem anak SMA seperti Im Jukyeong.

Drakor True Beauty mempertanyakan standar kecantikan dan isu bullying. Foto: desain Canva

Sore itu, langit terlihat cantik dari atap pencakar langit sebuah kota di Korea Selatan. Semburat merah saga di kanvas biru langit. Gedung-gedung tinggi seumpama tangan-tangan yang berupaya menggapainya.

Tak demikian halnya hati Im Jukyeong (Moon Gayoung) yang gundah gulana. Kedua kakinya menjejak pinggir rooftop—atap gedung—dengan wajah sembab usai menangis lantaran kena rundung. Ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Matanya yang memancar luka menatap kota dari ketinggian. Ia berdiri dengan bimbang hingga langit menjadi temaram. 

Pijar warna-warni dari gedung-gedung menjadi pengganti lukisan langit senja. Sebuah papan reklame di atap gedung seberang menayangkan seorang mendiang idol merayakan ulang tahunnya ke-18. In loving memory of Jeong Se Yeon. Nyawanya terenggut diri sendiri genap setahun sebelumnya. 

“Sungguh tragis, dia akan berumur 18,” gumam Im Jukyeong. Jantungnya berdegup makin kencang. Napasnya tersengal. Ia tersentak, memundurkan langkah dari tubir gedung. 

“Aku tak ingin mati,” ucapnya. Seketika Im Jukyeong merasakan angin berhembus begitu kencang. Dingin yang menggigit kulit. 

Dari belakang, seorang pemuda baru saja naik ke atap yang sama dan melihat seorang gadis tak dikenal berdiri di pinggiran atap gedung. Dengan sigap, ia berlari dan menarik tubuh Im Jukyeong. Tubuh Im Jukyeong terempas ke lantai bersama sang pemuda.

Pemuda yang menyelamatkan Im Jukyeong itu adalah Lee Suho yang diperankan Cha Eunwoo. Itulah detik-detik menegangkan dan mengandung bawang di menit ke-20 episode pertama True Beauty.


Sekilas Sinopsis Drakor True Beauty

Drama Korea yang diangkat dari Line Webtoon karya Yaongyi ini berkisah tentang proses pencarian jati diri Im Jukyeong. Usai percobaan bunuh dirinya yang gagal, Im Jukyeong mendapat kesempatan pindah rumah yang berarti juga pindah sekolah. Keluarganya tak tahu perundungan yang ia alami.

Sebelum masuk sekolah yang baru, Im Jukyeong belajar merias wajah. Ia berhasil berdandan menutupi wajah aslinya, seolah itulah yang merupakan wajah aslinya. Namun ternyata di sekolah baru itu, Im Jukyeong sekelas dengan pemuda yang menolongnya, Lee Suho. 

 

Im Jukyeong belajar dandan. Sumber: TVN


Sekolah baru ini menjadi kesempatan Im Jukyeong untuk memulai hidup barunya tanpa perundungan. Ia mempunyai teman-teman, seperti Lee Suho, Han Seojun, Kang Soo-jin—yang berwajah cantik alami, dan Han Go-woon—adik Han Seojun.

Episode demi episode, penonton dibawa melihat transformasi Im Jukyeong. Dari kepribadian yang ketakutan ketika bertemu para perundung menjadi berani bertindak melawan. Tentu saja, sebuah drama Korea tak akan lengkap dengan kisah cinta. Saat tayang on going, penonton sampai membuat tim Suho dan Seojun sebagai gambaran harapan di mana hati Jukyeong bakal berlabuh. Walau tim-timan ini tak seheboh tim Han Jipyeong dan Nam Dosan dalam drama Start Up.

Berbeda dengan drama Korea sejenis yang bertema serupa, Im Jukyeong ditampilkan menjadi pribadi yang percaya diri tampil tanpa riasan. Walau tetap berdandan, ia tak lagi menganggap wajah hasil riasan itu sebagai jati dirinya. Selain tema transformasi kepribadian dari seseorang yang insecurity menjadi percaya diri, topik bullying yang diangkat drakor ini juga sangat tajam.


Baca juga: Drakor True Beauty: Cara Menolong Korban Bullying

 

Han Go-woon True Beauty
Han Go-woon mengalami bullying. Sumber: TVN

 

Jalinan cerita dalam versi drama Korea berbeda dengan versi webtoon. Namun garis besarnya sama, dengan karakter tokoh yang sama. Hanya terdapat improvisasi karakter tokoh tertentu, misalnya Kang Soo-jin.

 

Mayoritas Perempuan Indonesia Tidak Merasa Cantik

Sesungguhnya tokoh Im Jukyeong mewakili perempuan di seluruh dunia. Dalam drama Korea True Beauty, Jukyeong barangkali hanya gadis yang mengalami masa puber dan insecurity. Ia memiliki wajah yang dianggap tak memenuhi standar kecantikan masyarakat. Lantaran itu, ia menjadi korban perundungan sebuah grup di sekolahnya.

Malangnya, Im Jukyeong juga kerap diejek tak cantik di mata ibu dan adiknya. Tak jarang kata-kata kasar ia terima dari ibunya. Misalnya, “Kalau tak punya wajah cantik, minimal jadi anak yang cerdas!” Ia tak pernah menerima afirmasi dari ibunya.

Ditolak di pergaulan sekolah, tak mendapat penerimaan diri di rumah. Im Jukyeong mencapai puncak emosionalnya saat ia dihina oleh sebuah geng perundung di sekolahnya. Tak hanya itu, sebuah video perisakan dirinya viral di internet. Di titik klimaks itulah, Im Jukyeong hampir melompat dari pencakar langit.

Entah kenapa, saya yakin seorang perempuan pernah merasa tidak cantik minimal sekali dalam hidupnya. Entah di masa puber atau dewasa. Entah karena jerawat atau bintik hitam yang muncul di wajahnya. Bisa juga karena komentar orang. Bahkan lantaran iklan kosmetik di media massa yang selalu menampilkan kecantikan paripurna tanpa noda.  

Dove, sebuah brand produk, pernah mengadakan riset bertajuk Indonesia Beauty Confidence Report 2017. Hasilnya, sebanyak 38 persen perempuan Indonesia pernah merasa kurang percaya diri dan membandingkan dirinya dengan orang lain. Riset yang sama menyatakan sebanyak 84 persen perempuan Indonesia tidak menyadari mereka cantik.

Saat saya seusia Im Jukyeong, saya pun mengalami krisis identitas. Majalah-majalah remaja kala itu menampilkan figur standar perempuan cantik tanpa noda di wajahnya. Generasi 1990-an tentu ingat model-model perempuan populer saat itu tak ada yang memiliki tanda lahir di wajahnya. Wajah mulus tanpa noda—belakangan saya tahu oh itu ternyata hasil editing Photoshop. Cindy Crawford adalah pengecualian, dia satu-satunya model yang mendobrak stereotipe standar kecantikan--melalui tahi lalatnya--di era itu.

Saya sendiri memiliki tanda lahir alias tahi lalat di wajah saya, serupa aktor Rano Karno orang bilang. Tanda lahir ini sempat membuat saya tidak pede gegara paparan standar kecantikan di media, entah iklan, majalah, dan televisi. Belum lagi olok-olok teman, “Itu laler (lalat, bahasa Jawa).” Duh, rasanya ingin menutupi dagu saya. Waktu itu belum tren operasi plastik sih. Kalau iya, mungkin di usia itu saya sudah terpikir untuk melakukannya.

Puji Gusti, saya tidak pernah melakukannya. Tanda lahir itu tetap ada di dagu saya hingga sekarang.

Insecurity adalah isu yang dialami perempuan di rentang usia mana saja. Saya memiliki seorang teman, yang ibunya melakukan suntik kecantikan di bagian bibir agar bentuknya lebih penuh. Itu bukan yang pertama kalinya. Ia pernah melakukannya di payudara dan bagian tubuh lainnya.

Menjadi masalah, ketika suntikan di bibir yang terakhir ini kemudian menimbulkan reaksi tertentu. Bibirnya bengkak dan bernanah beberapa hari kemudian.  Ia harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk perawatan di rumah sakit, memulihkan luka itu. Usut punya usut, ibu teman saya mengalami krisis percaya diri. Cerita tentang ibu teman ini merupakan salah satu contoh bahwa isu insecurity bukanlah milik anak puber seperti Im Jukyeong dalam drakor True Beauty semata.

 

Im Jukyeong dan Han Go-woon di True Beauty. Sumber: TVN

Trik-trik marketing produk kosmetik dan kecantikan di media menggiring dan membentuk opini standar kecantikan: perempuan cantik itu berkulit putih, berambut panjang dan lurus, tinggi, langsing, wajah mulus tanpa noda. Padahal perempuan Indonesia itu heterogen.  

Perempuan Jawa memiliki kuning langsat, perempuan etnis Tionghoa berkulit putih, perempuan dari wilayah Indonesia Timur berkulit coklat hingga gelap, dengan rambut keriting seperti  penyanyi Mariah Carey. Kecantikan perempuan Indonesia sungguh beragam. Itu baru soal fisik.

Dalam hal karakter, pembentukan opini stereotipe juga melalui tayangan drama baik lokal dan luar yang menampilkan bahwa perempuan cantik itu: lemah lembut, pendiam, pasrah alias nrimo dalam bahasa Jawa, tak boleh asertif dan agresif, tak boleh mengutarakan pendapat. Padahal karakter perempuan apalagi kekinian makin beragam. Banyak sederet wanita berprestasi dan mempunyai jabatan dengan kepribadian yang unik.

Baca juga: Drakor yang mengangkat perempuan sebagai figur pemimpin, Start Up dan Search: WWW

Gambaran stereotipe kecantikan ini kemudian menjadi standar di mata masyarakat. Bahkan stereotipe kecantikan itu menjadi standar pertemanan, pekerjaan, kelas sosial. Itu berlangsung tak hanya di Indonesia, tapi juga tergambar dalam drama-drama Korea yang dikonsumsi warga dunia.  

 




True Beauty versus Toxyc Beauty

Drama Korea True Beauty mencoba melawan standar kecantikan yang kerap jadi toxic beauty itu melalui empat tokohnya: Im Jukyeong (Moon Gayoung), Im Hee-kyeong (Im Se Mi), Han Go-woon (Yeo Joo-ha), serta Kang Soo-jin (Park Yoo-na).

Drama Korea True Beauty bukan satu-satunya yang mempertanyakan standar kecantikan perempuan, stereotipe perempuan dalam masyarakat, dan mengandung pesan feminisme. Film Kim Ji-young Born 1982 adalah salah satu film yang mengangkat stereotipe perempuan tersebut. 

Belakangan ini juga bermunculan tokoh-tokoh dalam film dan drama Korea yang memiliki karakter jauh dari stereotipe perempuan dalam masyarakat. Bahkan karakter yang memunculkan standar kecantikan baru.


Im Jukyeong
 

True Beauty drakor yang diangkat dari webtoon
Im Ju-kyeong versi drakor dan webtoon. Sumber: TVN


Awalnya Jukyeong memang berkarakter tak percaya diri. Pada proses transformasinya, penonton menemukan Im Jukyeong bisa nyaman meski tanpa riasan wajah. Bukan berarti riasan wajah itu menjadi kepalsuan. Sebab ada situasi yang memang mengharuskan kita tampil rapi dan mengenakan make up. Intinya adalah inner beauty, titik kita nyaman dengan wajah dan tubuh serta diri sendiri.

Im Hee-kyeong

 

Im Hee-kyeong di True Beauty
Im Hee-kyeong, kakak Im Ju-kyeong. Sumber: TVN

Figur Im Hee-kyeong--kakak Im Jukyeong dalam True Beauty--melawan stereotipe kecantikan perempuan yang mengatakan perempuan harus kalem, diam, tak boleh beropini. Sering bukan dengar kalimat semacam ini, "Jadi perempuan jangan terlalu cerdas, nanti laki-laki takut." Nah, Im Hee-kyeong melawan semua stereotipe semacam itu. Perempuan bisa tampil cerdas, berkarakter, berprestasi.

Han Go-woon


Han Go-woon di True Beauty.
Han Go-woon di True Beauty. Sumber: TVN

Han Go-woon memiliki problem yang sama dengan Im Jukyeong. Gadis adik kelas Jukyeong yang adalah adik kandung Han Seo-jun ini memiliki tipikal wajah yang sama dengan Jukyeong. Go-woon juga kerap dirundung geng cewek populer dan berwajah cantik di sekolahnya. Namun Go-woon memiliki level percaya diri yang lebih baik daripada Jukyeong. Ia berbakat menyanyi dan berani tampil. Ia bahkan menginspirasi Jukyeong untuk berani nyaman dengan diri sendiri.

Baca juga: Bercermin dari Kasus Bullying Korea Selatan

 

Kang Soo-jin

Park Yoo-na True Beauty
Kang Soo-jin dalam True Beauty. Sumber: TVN


Karakter Kang Soo-jin menampilkan tipikal perempuan jagoan dan pemberani, termasuk melawan perundungan, walau di pertengahan episode karakternya sempat bergeser menjadi antagonis. Namun ia menjadi simbol karakter perempuan yang berani speak up kala ketidakadilan terjadi. 

 

drama Korea True Beauty
Drama Korea True Beauty. Sumber: TVN

Bagaimana dengan teman pembaca, pernah mengalami insecurity? Bagaimana caramu mengatasinya? 

Salam hangat, 

Nieke Indrietta

 

Baca artikel lainnya soal film dan drama Korea di sini.


 

12 komentar:

  1. awal awalnya aku suka mbak nonton drama ini
    tapi nggak tahu kenapa stuck di episode 7, hehe
    sebenarnya drama ini related bgt ama kehidupan para perempuan ya mbak

    BalasHapus
  2. Ngga bisa dipungkiri bahwa pertama kali kita menilai orang dari luarnya. Kita baru bisa mengenal karakter saat sudah berbincang dan mengenalnya. Saya kira, hampir semua orang bergelut dengan insecurity, hanya saja penyebab dan kadarnya saja yg beda

    BalasHapus
  3. 38 persen perempuan Indonesia pernah merasa kurang percaya diri dan membandingkan dirinya dengan orang lain ya ...

    Hal ini bisa diminimalkan kalau orang tuanya, khususnya ibunya mendukungnya, tidak membanding-bandingkannya dengan orang lain. Sedih ya.

    BalasHapus
  4. Insecurity pernah jadi nama tengahku, Mba wkwkwk
    Ga tau, adaaaa aja hal2 sepele yg selalu bikin insekyur.
    Ga hanya soal penampilan sih... kebanyakan soal bakat, achievement gitu gitu deh :D

    BalasHapus
  5. Banyak perempuan korban iklan sebenarnya, mungkin juga tanpa disadari atau sekedar ikut ikutan trend saja. Padahal kan inner beauty lebih penting. Ssya juga pernah gitu, ada taik lalat nempel yg tumbuh makin panjang, dokter bilang hanya skin tag sih, tapi tiap ketemu orang selalu diliatin. Saya jd ga enak sendiri dan ha percaya diri. Akhirnya ke dokter kulit utk membuang skin tag itu.

    BalasHapus
  6. Mungkin aku juga pernah merasa insecurity soal fisik, ya. Tapi di sisi lain juga aku paham kelebihanku dan lebih fokus ke sana.

    BalasHapus
  7. Yah jadi kangen kan sama Nunu 🤭 Saya suka ending drama ini, Kak, karena Ju Kyeoung tidak dibuat beneran cantik. Dia tetap memiliki jerawat, tapi memang lebih cantik bila dibanding episode-episode awal yang alisnya tebel banget dan hitam (agak lebay menurut saya 🤭rasanya tidak ada dalam real life. Mungkin memang harus seperti itu biar kesannya jelek banget) Jadi, pesan self-love nya juga dapet. Berbeda kalau misalkan dia dibikin beneran cantik tanpa riasan, nantinya malah jadi bias karena ada kesan dia jadi percaya diri karena dia cantik sesuai standar cantik menurut kebanyakan orang.

    BalasHapus
  8. Insecurity saya ada juga dalam karakter.

    Di dalam tulisan Mbak Nieke menyebutkan stereotipe perempuan pendiam, pasrah alias nrimo dalam bahasa Jawa, tak boleh asertif dan agresif, tak boleh mengutarakan pendapat.


    Nah saya itu terbentuknya pendiam krn pola didik. Padahal aslinya saya tidak suka kebebasan pendapat saya dikungkung. Saya bisa pasrah/nrimo setelah saya memang betul2 berusaha dan mandeg. Lama juga mengusahakan untuk menjadi diri sendiri dan merasa nyaman.

    BalasHapus
  9. Tak ada standar kecantikan yang benar2 sama. Bahkan definisi cantik pun bisa saja berbeda untuk satu orang dan orang lainnya. Jadi kita harus berhenti memusingkannya. Drakornya bagus, amanatnya berat.

    BalasHapus
  10. Masalah bully membully ini rupanya telah menjadi masah dunia, yang lumayan sulit dilenyapkan. Selamat sore, snanda Nieke.

    BalasHapus
  11. Wah jd penasaran ceritanya bs transformasi dari insecurity menjadi percaya diri, itu gmn prosesnya...

    BalasHapus
  12. Semua perempuan pasti ingin tampil cantik ya mbak, entah bagaimana caranya mereka pasti akan berusaha untuk memperbaiki penampilan. Tapi kalau sampai berlebihan mending gak usah deh, alih2 jadi cantik yang ada malah timbul masalah.

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.