Menu

Percik Kata Nieke

Rabu, 03 Juli 2019

Hotel Mercure Surabaya: Sensasi antara Surabaya dan Penang


Apakah kamu mengira saya sedang berlibur di Penang, yang tersohor dengan tembok muralnya? Hehehe. Ini saya lagi berpose di Surabaya lho, tepatnya di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya. Ada beberapa tembok yang dilukis ala mural Penang. Bikin mupeng, enggak sih? 


Tembok mural ala Penang. Foto oleh Nieke.
Tembok mural ala Penang. Foto oleh Nieke.
Saat menginjakkan kaki di Hotel Mercure Surabaya, saya merasa pangling. Sebagai orang Surabaya asli (lahir dan besar di Surabaya) saya mengenang bangunan ini sebelumnya dikenal sebagai Hotel Mirama. Bangunan yang pernah saya ingat itu tak tampak lagi, bersalin rupa menjadi bangunan dengan desain eksterior dan interior yang kekinian. 

Foto oleh Nieke
Coffee Cafe. Foto oleh Nieke
Masuk ke lobi, saya masih terpana. Dalamnya berubah total. Tak ada sama sekali kesan gedung lama, meski Hotel Mirama konon sudah dibangun sejak 1970-an. Sejak saya belum ada di dunia ini. Menoleh ke kanan, terlihat mobil truk berwarna kuning yang dijadikan tempat memajang kue-kue dan roti serta suasana kafe yang cozy bin Instagramable. Itulah Coffee Cafe. 

Uhlala... diri ini sudah tak tahan untuk memotretnya kalau saja tak ingat kalau sudah ditunggu kawan-kawan di restoran Trimurti, yang juga berlokasi di Mercure Surabaya. Kami janjian pukul 18.00, saya baru tiba sekitar sepuluh menit kemudian gegara sopir salah ambil jalan. 

Tepat berhadapan dengan kafe itu adalah Lan Hua, restoran yang menghidangkan masakan negara tirai bambu. Lobi hotel terletak di sebelah Coffee Cafe. Agak kebingungan, saya bertanya pada salah satu karyawan hotel di lobi.

Trimurti Restaurant, Hotel Mercure Surabaya. Foto oleh Nieke
"Trimurti resto di mana ya?"

"Sebelah sini," ia menunjukkan arahnya. Ternyata tak jauh dari tempat saya berdiri di depan lobi. Mungkin saking terpananya saya dengan interior dalam hotel, hingga saya jadi enggak fokus.

Oh waw. Terakhir saya ke hotel itu, saat masih SMP, menemani teman saya yang daftar lomba peragaan busana. Eh enggak tahunya saya malah didaftarin juga. Padahal saya enggak bakat ikutan yang macam beginian. 

Maklum, saya anaknya tomboy. Kalau saya berjalan aja, orang sering komentar begini: "Mbak, pernah belajar karate ya?"--saking gagahnya. Jadi daripada bongkar aib, mendingan bagian yang ini enggak usah saya ceritain ya.  
Foto oleh Nieke

Tibalah saya di Resto Trimurti. Di sana, formasi sudah lengkap: Kakak Kuliner Surabaya, Kakak William Masura yang rajin review di akun Facebook grup Kuliner Surabaya dan Hotel Review Indonesia, Kakak Wibowo, Kakak Maynard dari Roda dan Roti Tour yang juga ngeblog soal travel dan kuliner, serta Fifi dari Pithe's Tv. 

Cipika cipiki dengan Kakak Kuliner Surabaya, terakhir bertemu saat liburan bersama Komunitas Liburan Murah di Wisata Agro Wonosari alias Kebun Teh Lawang

"Yuk, makan dulu," ucapnya. "Makanannya lumayan banyak pilihan."
Foto oleh Nieke
Suasana resto Trimurti, Hotel Mercure Surabaya.
Foto oleh Nieke

Sebagai pembukaan, saya memutuskan makan sup jagung terlebih dulu. Duh, enak supnya. Saya sampai tambah dua kali. Ronde berikutnya saya baru ambil nasi, daging sapi, ayam dengan bumbu jamur dan keju, dan sayur. Daging sapinya bumbunya enak sekali. Sayurnya juga empuk dan sedap. Nah kalau yang ayam, saya kok malah jatuh cinta sama jamur kejunya. 

foto oleh Nieke
Resto Trimurti, Hotel Mercure Surabaya. Foto oleh Nieke.
Menu lainnya seperti roti, salad, cake, dan puding juga tersedia. Siyap-siyap lap iler kalau saya pasang fotonya ya. 


Foto oleh Nieke
Foto oleh Nieke
Foto oleh Nieke
Ebisu Resto. Foto oleh Nieke
Saya suka sama ambiance resto Trimurti. Ruangannya luas, interiornya oke, dan banyak spot Instagramable. Desainnya berusaha menampilkan citra Surabaya banget, salah satunya: foto-foto bangunan Surabaya dengan warna hitam-putih bertebaran di dinding resto. 

Beberapa sepeda ontel kuno juga jadi hiasan di meja makan. Apabila ke bagian dalam resto, pengunjung bisa menikmati suasana ala kebun. 

Pada sisi satu resto terdapat outdoor dengan pemandangan kolam renang. Sedangkan pada sisi lain, dinding-dinding kaca dengan pemandangan luar lorong dengan tembok-tembok mural Instagramable. Sambil makan, kami ngobrol-ngobrol bertukar kabar sambil mengomentari hidangan yang kami lahap.

Usai makan malam, kami dapat kesempatan melihat kamar istimewanya Hotel Mercure Surabaya di lantai 14, lantai paling atas gedung Saphir Hotel Mercure Surabaya. Dalam perjalanan menuju lantai atas, kami melewati Ebisu, resto Jepang yang juga di lantai 1.

Kamar dengan desain kearifan lokal

Foto oleh Nieke
Kamar Premium Superior di Hotel Mercure Surabaya.
Foto oleh Nieke
Ternyata interior yang Surabaya banget ini juga terdapat di tiap kamar-kamarnya. Kamar Premium Superior misalnya. Meja yang terdapat di sisi kiri dan kanan ranjang terhubung sebuah rotan. Menyerupai pikulan sate dan soto Madura. Sementara dindingnya berwarna oranye, abu-abu, dan ungu. Perpaduan antara klasik dan modern dengan sentuhan etnik Jawa Timur. 

Untuk kamar Premium Superior, fasilitasnya bakal bikin penghuni mager di kamar. Ada kulkas mini, air mineral, cangkir, televisi, cermin yang cukup besar. Luas kamarnya juga sekitar 24 meter persegi. Sebelah ranjang terdapat jendela kaca dengan pemandangan kota Surabaya dari ketinggian lantai 14. Kalau malam, penghuni kamar bisa menikmati kerlap-kerlip lampu gedung dan bangunan dari kejauhan.

Tamu juga bisa memilih kamar Premium Superior yang ada connecting door atau pintu penghubung dengan kamar sebelahnya. Harga kamar tergantung apakah week end atau week days, bisa cek di aplikasi seperti Traveloka. Kisarannya sekitar Rp 790 K.
  
Foto oleh Nieke
Suasana kamar Premium Superior. Foto oleh Nieke
Kamar Suite bisa bikin kamu lebih terpana. Luas kamarnya saja 47 meter persegi. Begitu membuka pintu kamar, terlihat ruang tamu yang sangat nyaman. Sebuah sofa panjang berwarna merah terletak di satu sisi yang menghadap televisi. Kemudian di sudut kamar, terdapat sofa kecil yang melekat pada dinding, meja kecil, dan dua buah kursi, serta kulkas. Foto-foto bangunan kuno dan bersejarah di Surabaya menghiasi dinding.


Foto oleh Nieke
Foto oleh Nieke
Foto oleh Nieke

Ruangan setelah kamar tamu tentu saja adalah ruang tidur dan kamar mandi. Kamar ini juga bernuansa kearifan lokal. Ranjang diapit dua meja kecil yang bentuknya menyerupai pikulan tukang sate dan soto, dengan sebuah rotan yang membentang di atasnya. Di dalam kamar juga ada sofa mungil, rak lemari, brankas. Kamar mandi dengan bathtube dan shower. 

Foto oleh Nieke
Foto oleh Nieke

Layaklah Hotel Mercure Surabaya menyandang bintang empat dengan fasilitas seperti ini. Kisaran harga kamar Rp 1,3 juta, tapi tergantung week end atau week days. Bakal dapat harga istimewa kalau sewa kamar secara grup atau korporasi. 

Hotel Mercure Surabaya juga nyaman buat staycation alias liburan mager di hotel. Soalnya, ada beberapa fasilitas pendukung yang bikin tamu betah, seperti spa, sauna, dan tempat fitness.

Foto oleh Nieke
Foto oleh Nieke

Ala Penang di Surabaya 

Hal istimewa lainnya adalah menginap di Hotel Mercure Surabaya ini juga bisa 'membawa' tamu ke Penang sesaat. Kalau belum kesampaian cita-cita berlibur ke Penang Malaysia, mampirlah ke resto di Hotel Mercure Surabaya. Main-mainlah ke halaman belakang dekat kolam renangnya.


Foto oleh Nieke


Foto oleh Nieke
Nih, spot kece yang Instagramable.
Kamu akan menemukan sejumlah dinding mural persis seperti di Penang. Inilah salah satu spot Instagramable di Hotel Mercure Surabaya. Siapa tahu, setelah berfoto ria di sini, impian kamu berlibur ke Penang segera terwujud.


***
Nieke Indrietta
IG: @katanieke_blog

(Note: all the pictures and videos were taken by myself)

Tulisan saya lainnya:





1 komentar:

  1. Saya suka bagian dalam hotelnya, kaya spot menarik dari berbagai tempat sekaligus. Truk kuenya juga unik. Apakah bagian depan truk itu jendela etalase juga yang di bagian bawah dan atas? Lalu kalau ada pengunjung pesan kue atau roti, apakah karyawannya yang ambilkan atau ambil sendiri dan bayar di kasir? Soalnya kalau tampak depan seperti tidak dijaga sedang tampak samping tidak kelihatan jadi bikin penasaran, hi hi.
    Kamarnya juga keren, suka dengan interior bagian dalamnya plus konsep uniknya. Meja berbentuk pikulan sate itu lucu.

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.