Menu

Percik Kata Nieke

Selasa, 19 Juli 2011

Menertawakan Versus Merayakan Keunikan





Perempuan itu jelita, sungguh. Semampai, standar supermodel, langsing, rambut berombak tergerai. Dia pemenang kontes ratu kecantikan di Indonesia. Sebut saja namanya Cinderella.

Aku membaca kisahnya di koran di meja kubikelku pagi ini. Siapa menyangka, perempuan yang pernah mewakili kontes ratu kecantikan sejagad ini, semasa kecilnya pernah menjadi korban "bullying." Omong-omong, aku belum menemukan istilah "bullying" yang tepat dalam Bahasa. Tapi, artinya kira-kira perbuatan tidak menyenangkan secara fisik dan mental oleh sekelompok orang tertentu terhadap orang lain. Korban biasanya orang yang dianggap "berbeda" dengan orang lain pada umumnya.

Jadi begitulah, supermodel ini mendapat julukan "gendut". Ia tersiksa dengan label "gendut" sampai-sampai berusaha kurus dengan cara apa saja. Hingga ia mengidap anoreksia. Seiring usia, untungnya, ia menyadari citra dirinya: ia berharga. Kalau tidak, tentu tak bakal jadi ratu kecantikan. Mungkin, kamu pernah juga mengalami hal yang sama. Atau, kamu lagi di-"bully"? Atau bisa juga, kamu justru menjadi pelaku "bully"? Kalau iya, simak ini baik-baik.



Beberapa waktu lalu aku mendengar kabar, gadis 14 tahun bunuh diri di kamar mandi sekolahnya, karena menjadi korban "bullying."

Kalau kamu korban "bully", aku berharap kamu tak bernasib sama. Jika kamu sang pelaku, aku harap kamu sadar bahwa kamu sedang menghancurkan hidup orang lain.

Buat pelakunya, kadang secara tak sadar kita melakukan "bully." Simpel saja, ketika ada orang yang berbeda dengan komunitas pada umumnya, cenderung memberi julukan pada korban. Menjahilinya karena kekurangannya. Menertawakannya dan membuat orang lain ikut menertawakan dia.

Barangkali ada orang di sekitarmu yang tanpa sadar menjadi korbanmu? Mungkin orang yang punya kebiasaan aneh, kutu buku, lemah. Pernahkah membayangkan kamu ada di posisi mereka? Paling tidak, tidakkah kamu tahu, ketika kamu mengejek dan menjahilinya, kamu sedang "membunuh" citra dirinya perlahan-lahan, sebelum akhirnya membunuhnya secara fisik (bila korban bunuh diri)?

"Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Matius 22: 38).

Sudah jelas, "bullying" bukan perbuatan mengasihi. Tuhan menciptakan setiap orang unik. Tak ada yang sama, sekalipun kembar identik. Makanya, ketika kamu melakukan "bully", kamu sedang membunuh dan menghancurkan "masterpiece" Tuhan.

Dan ketika kamu mengejek dan menjahilinya, itu sama seperti kamu menghina Tuhan yang menciptakannya.

Kalau kamu korban "bully", aku ingin meneguhkanmu: kamu berharga, kamu tak layak diperlakukan seperti itu. Jadi berhentilah ketakutan, tolak label yang mereka berikan. Aku tahu, ini tidak mudah. Tapi aku tidak ingin hidupmu berakhir seperti gadis 14 tahun yang mati di sekolah itu. Aku percaya kamu bisa melaluinya, seperti "Upik Abu" yang menjadi "Cinderella." (Aku membayangkan, apa ya reaksi dan komentar orang-orang yang pernah melakukan "bully" kalau melihat bagaimana Cinderella sekarang, yang cerdas, terkenal, dan dikagumi banyak orang?)

Arti dirimu tidak berdasarkan pada apa kata dan pikiran orang lain mengenai kamu. Kamu adalah ciptaan dan buatan Allah (Efesus 2: 10). Tidak ada yang sama seperti kamu. Kamu adalah "masterpiece" di mataNya.

Bicaralah pada orangtuamu, saudaramu, atau komunitasmu. Mintalah bantuan. Jangan biarkan mereka membunuh dan menghancurkan kreasi Tuhan yang indah yang ada di dalam diri kamu.

Ini janji Tuhan untukmu:
"Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." Tuhan adalah penolongmu, jangan takut, apa yang bisa dilakukan manusia terhadap kamu? (Ibrani 13: 5)

Omong-omong, tahukah kamu, apa yang membuat Cinderella memenangkan kontes kecantikan se-nusantara itu?

Tanpa malu, Cinderella mengisahkan kisah (yang biasanya dianggap memalukan dan disembunyikan) itu kepada juri, usahanya keluar dari "bullying", mengidap anoreksia, sampai sembuh. Pengalaman itu membuat Cinderella tergerak, dia belajar psikologi dengan tujuan agar orang lain tidak mengalami hal yang sama seperti dirinya.

Untuk keberaniannya, dia mendapat mahkota ratu se-nusantara.

Bagaimana dengan kamu?

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.