Menu

Percik Kata Nieke

Kamis, 08 November 2018

Hotel Cordela Kartika Dewi Yogyakarta: Sensasi Menginap di Jantung Malioboro

Pengalaman saya menginap di Hotel Cordela Kartika Dewi Yogyakarta. Letaknya sangat strategis, sangat dekat Malioboro. Bisa ditempuh jalan kaki.


Hotel Cordela Kartika Dewi Yogyakarta
Hotel Cordela Kartika Dewi Yogyakarta. Foto: Nieke


Saat memutuskan menginap di Hotel Cordela Kartika Dewi Yogyakarta, saya nggak menyangka lokasinya benar-benar dekat Malioboro. Saya pergi berdua dengan tante saya yang sama-sama suka traveling.

Dalam perjalanan menuju hotel yang terletak di Jalan Bhayangkara, Yogyakarta, saya sudah kegirangan. Asyik nih! Dekat ke mana-mana. Kalau dari Stasiun Tugu, sekitar 10 menit untuk mencapai Hotel Cordela Kartika Dewi. 

Untuk menghindari Jalan Malioboro yang biasanya padat, saya meminta sopir kendaraan daring (online) melalui rute jalan belakang Malioboro, yakni lewat Pasar Pathuk. Sepanjang perjalanan menuju hotel Cordela, saya melihat-lihat tempat main dan nongkrong serta wisata apa saja yang bisa dijangkau dengan jalan kaki di sekitar hotel. Lumayan banyak, lho.

Tempat yang bisa ditempuh dengan jalan kaki: Malioboro, Hamzah Batik, Benteng Vredenburg, Pasar Pathuk dan sekitarnya yang banyak toko oleh-oleh khas Jogja, tempat pijit dan refleksiologi Kakiku, Cokelat Ndalem, toko-toko bakpia. Jaraknya cuma 5-10 menitan kok kalau jalan kaki.

Yah, kalau cuaca terik dan panas, bolehlah naik becak yang mangkal dekat hotel. Naik becak ke alun-alun keraton dan keraton--letaknya di belakang gedung Bank Indonesia yang berada di seberang Benteng Vredenburg. Dari keraton bisa mampir ke Taman Sari. Kalau mau agak jauh sedikit, foto-foto di ikon kota Yogyakarta: Tugu. Ini cocoknya pas malam hari.

Lamunan saya buyar. Tak berapa lama, saya tiba di hotel.  Sambil menanti check in di lobi hotel, saya sempat melihat ada pengumuman kecil di meja lobi soal layanan laundry. Lumayan menghemat lho ini harganya. Apalagi kalau menginap selama beberapa hari. Ada tiga paket. Misalnya paket 3, mencuci tiga kemeja, tiga kaus, enam pakaian dalam Rp 95.000 (++).

Check-in tak butuh waktu lama, saya kemudian menuju kamar di lantai 5. Sejumlah dinding hotel Cordela Kartika Dewi dihias dengan wallpaper bertema olahraga. Di kamar saya, pada dinding pada bagian kepala ranjang, terpasang wallpaper bertema mobil balap. 

Ukuran kamarnya mungil yakni sekitar 18 meter persegi. Tapi untuk selevel hotel bintang dua, baru kali ini melihat kamar yang ada sofa duduk, kamar mandi lengkap dengan amenities, kotak brankas, termos untuk memasak air panas lengkap dengan kopi, teh, gula dan krimer. Ini sih, kita bayar harga bintang dua dapat pelayanan bintang tiga.






Sejauh pengalaman saya kalau menginap di hotel bintang dua, biasanya tak ada amenities, tak ada brankas, dan tak ada termos air panas beserta teh dan kopi saset. Hanya disediakan dispenser di koridor lorong hotel di tiap lantai. Minuman saset ya bawa sendiri.




Saya mengintip kamar mandinya yang mungil dan desainnya unik. Bagian toilet dan wastafel lantainya dari kayu. Dua gelas kaca, dua sikat gigi dan dua penutup rambut ditata di atas meja sebelah wastafel. Cermin yang cukup besar dengan penerangan lampu tergantung di atas wastafel.




"Ini kamar mandinya desainnya kayak di kapal pesiar, cruise," kata tante saya.

Setelah itu, saya mengempaskan tubuh ke kasur. Whoa! Nyamannya. 

 "Pemandangannya bagus nih," kata tante saya. Sebenarnya gunung Merapi bisa terlihat dari jendela kamar. "Sayangnya lagi tertutup awan."

Lantaran lapar, kami segera memesan makan siang dari kamar. Saya meraih telpon yang ada di samping ranjang. Memencet nomor ke restoran. Cukup banyak pilihan masakan Indonesia di menu dengan harga yang tak mahal, sama kalau kita makan di restoran-restoran. Setelah membaca menu yang tersedia di kamar, kami memutuskan memesan nasi goreng ikan asin dan nasi gudheg. Sambil menanti hidangan, kami menata barang bawaan, leyeh-leyeh di kasur yang seempuk K**g K**l, dan mengaktifkan layanan wi-fi atau internet nirkabel yang tersedia di tiap kamar.





Kejutan, ternyata password yang diberikan pihak Hotel Cordela untuk penghuni kamar menggunakan nama saya. Wi-fi cukup lancar jaya. Saya mengisi waktu dengan berselancar di dunia maya.

Tak berapa lama terdengar ketukan di pintu. Petugas hotel Cordela mengantarkan hidangan yang kami pesan: nasi goreng ikan asin dan nasi gudheg. Aroma sedap memenuhi ruangan dan menggugah selera. Saya dan tante bergegas menyantap masakan yang lezat. Selamat  makan! Bon apetite!


Nasi gudheg. Copyright @katanieke

Nasi goreng ikan asin. Copyright @katanieke

copyright @katanieke

Tempatnya Strategis
Omong-omong, dekat Pasar Pathuk dan toko oleh-oleh yang berada di jalan yang sama dengan hotel, juga ada tempat pijat dan refleksiologi Kakiku. Tenang, ini bukan tempat pijat yang 'aneh-aneh'. Lumayan mengobati kaki dan tubuh yang pegal-pegal selepas ngebolang seputar Malioboro. 

Tak jauh dari hotel Cordela, di Malioboro juga ada Hamzah Batik, tempat menjual cinderamata. Pada hari-hari tertentu, di lantai paling atas gedung Hamzah Batik ada pertunjukan kabaret dan sendratari klasik. Gratis lho. Minggu sore harinya, saya berkesempatan menyaksikan tari Jawa klasik sambil makan bakmi godhog di restoran yang berada di atap gedung Hamzah Batik, Malioboro. Pertunjukan tari pada Minggu dimulai pukul 19.00 WIB (7 malam).

Lobi dan resepsionis Hotel Cordela Kartika Dewi. Copyright @katanieke


Suasana Malioboro di siang hari dan malam hari agak berbeda. Cobalah jalan-jalan di pedestrian Titik Nol pada malam hari. Perempatan itu masih ramai pengunjung. Saya dan tante berjalan kaki menuju Titik Nol yang berada di ujung Malioboro. Dari hotel Cordela, jaraknya cuma 7-10 menit kalau jalan kaki. Orang-orang duduk di bangku taman, ada yang lesehan di trotoar sambil bersenda gurau dan berfoto ria, ada yang menikmati secangkir kopinya di bangku, ada yang bermain gitar dengan kawan-kawannya. Pun di depan Benteng Vredenburg, orang-orang sibuk mengambil foto. Kendaraan lalu lalang. 
 
Dokar di seberang Pasar Beringhardjo, di kawasan Malioboro. Copyright @katanieke

Usai menikmati suasana di Titik Nol, kami bergeser ke arah seberang Pasar Beringhardjo. Di situ, kami kembali duduk menikmati wedang ronde--ini minuman tradisional dengan air jahe, kacang tanah, ronde--semacam moci, dan kolang-kaling. Harganya Rp 7.000 per mangkok. Cukup menghangatkan tubuh di tengah dinginnya udara malam. Selepas pukul 21.00 atau 9 malam, lapak-lapak lesehan di pedestrian menata meja, tikar, dan barang dagangannya. 

Penjual ronde di Malioboro. Copyright @katanieke

Sejumlah tukang becak di Malioboro menawarkan jasa wisata malam, yakni main ke alun-alun keraton dan Tugu. Kalau di alun-alun keraton, kita bisa menaiki kendaraan yang dikayuh seperti sepeda, bentuknya menyerupai kendaraan diberi lampu warna-warni. Di sana juga ada dua pohon beringin besar. Biasanya orang-orang melakukan permainan dengan menutup mata, lalu mencoba berjalan lurus menuju di antara kedua pohon tersebut. 

Suasana Titik Nol, Malioboro. Copyright @katanieke
Kalau masih lapar, ingin ngemil, atau sekadar minum kopi, teh dan wedang jahe, di alun-alun juga banyak terdapat lesehan-lesehan. Sementara di Tugu, banyak orang-orang berdandan semacam cosplay. Biasanya sih berdandan ala pahlawan atau pocong. Pengunjung berfoto bersama mereka dengan imbalan biaya tertentu.

Menginap di Hotel Cordela Kartika Dewi ini banyak keuntungannya menurut saya. Letaknya yang tepat berada di belakang Malioboro membuat saya memungkinkan mengunjungi banyak tempat wisata sekaligus tanpa susah payah. Biasanya jalan Margo Mulyo alias Malioboro ditutup jika tingkat kepadatan kendaraan sudah cukup tinggi atau jika ada acara tertentu. Nah, kalau menginap di Hotel Cordela Kartika Dewi, kita tidak bakal kesulitan menjangkau ke kawasan Malioboro. Mau jalan kaki bisa. Mau naik becak juga bisa. Jaraknya tidak sampai 1 km.

Kalaupun Malioboro tidak ditutup kendaraan, mobil tidak bisa parkir di area tersebut. Kita hanya bisa parkir di tempat parkir umum kendaraan di dekat Stasiun Tugu. Wah bakal sulit mencari tempat parkir. Menginap di Hotel Cordela Kartika Dewi, tentu akan memangkas ongkos transportasi kita dalam bepergian ke tempat wisata. 

Sebelum tengah malam, sebelum kereta kencana Cinderella berubah menjadi labu, kami telah kembali ke Hotel Cordela. Puas banget jalan-jalan. Ohya, dekat hotel ada minimarket, kami sempat mampir membeli camilan dan minuman kemasan dingin sebelum kembali ke kamar. Sepanjang perjalanan pulang kami melewati setidaknya dua apotek. Mungkin karena hotel Cordela Kartika Dewi dekat dengan rumah sakit.

Sarapan Pagi dengan Beragam Menu Nusantara



Pagi harinya, kami bangun dengan segar. Malah sempat sulit pisah dengan kasur alias mager (males gerak). Bukan apa-apa, kasurnya nyaman banget. Mantul. Mantap betul. Perut yang keroncongan membuat kami menuju ke restoran di lantai tiga untuk sarapan pagi--yang menjadi jatah kalau menginap di Hotel Cordela Kartika Dewi.




Lagi-lagi kami terpukau melihat menunya. Banyak banget pilihannya. Kalau dibandingkan dengan pengalaman saya menginap hotel bintang dua sebelumnya, jatah sarapan biasa-biasa, bahkan sedikit menunya. Sedangkan di Cordela, saya malah jadi bingung karena menunya begitu beragam.

Hmm... makan apa dulu ya?



Menunya mayoritas adalah masakan Indonesia. Sementara saya masih mempertimbangkan menyantap apa terlebih dulu, tante saya sudah mengambil buah-buahan dan salad sebagai hidangan pembuka. Saya kemudian mengambil koko krunch dengan susu, serta kue-kue mungil. Berikutnya saya mencoba ubi. 

Enak banget ubinya, manis.


Sementara tante saya sudah di babak kedua makan dengan menu nasi, sayur lodeh, ayam. Usai menghabiskan ubi, saya mengambil soto kikil. Ternyata menunya tiap hari bervariasi, soto bisa diselingi dengan rawon.  












Bukan cuma makanan yang begitu banyak pilihannya, minuman juga. Ada infused water, susu, jus, dan jamu. Nah ini yang unik. Ada tiga jamu yang ditawarkan: temulawak, beras kencur, dan kunir asam. Saya tentu saja mencicipi ketiganya. Rasa jamunya enak dan menyegarkan.



Sebelum check-out, saya mampir ke Cokelat Ndalem yang jaraknya cuma tiga menit jalan kaki dari hotel. Di sini, tersedia juga berbagai macam cokelat yang bisa dijadikan oleh-oleh dengan harga terjangkau. Harganya mulai dari Rp 15.000. Lumayanlah buat oleh-oleh.

Nonton yuk video saya di Hotel Cordela Kartika Dewi:



Ohya, biar bisa dapat harga diskon di Cordela, booking atau pesan kamar lewat aplikasi saja. Bisa juga lewat ini:



Banyak Fasilitas
Hotel Cordela Kartika Dewi yang dikelola Omega Hotel Management ini merupakan anak usaha Alfaland Group. Beberapa lokasi Hotel Cordela lainnya antara lain: Bandung,  Kuningan Jawa Barat, Medan, Cirebon, Pangkalpinang, Jakarta di Senen, Ancol dan Menteng. Di Puncak, Cisarua, Bogor terdapat Alfa Resort.

Hotel Cordela Kartika Dewi juga termasuk dalam daftar hotel di Indonesia dengan ulasan terbaik tahun 2018, yang diadakan Traveloka.

Berikut ini beberapa fasilitas lain hotel Cordela Kartika Dewi:

-Hotel Cordela memiliki fitness center di lantai 8. Tamu hotel juga bisa menggunakan peralatan fitness untuk berolah raga, dengan biaya yang tak mahal. Mau ikut yoga juga bisa. Ada banyak jadwalnya. 


-Punya tempat parkir kendaraan yang luas

-Apabila rombongan yang membawa bus, pihak hotel bisa memfasilitasi parkir


-Terdapat ruang pertemuan atau meeting untuk penyelenggaraan acara korporasi

-Wi-fi

-Lobi



Ingin tahu tulisan saya yang lain seputar review hotel, tempat wisata, traveling, dan itinerary, bisa klik di sini

Salam jalan-jalan.

***
Hotel Cordela Kartika Dewi
Jalan Bhayangkara nomor 35, Yogyakarta
(0274) 530 4222
www.cordela-hotels.com

#hotelcordela #hotelcordelajogja #hotelcordelayogya #hotelcordelamalioboro
~~~