Menu

Percik Kata Nieke

Kamis, 09 Juni 2016

Makna di Balik Motif Batik, Ada yang 'Kode' Menyatakan Cinta


Batik ternyata tak sekadar busana dan karya seni. Lintu Tulisyantoro, pendiri komunitas Batik Jawa Timur mengungkapkan ada makna filosofis dalam tiap motif batik. "Ada batik yang bermakna doa nelayan agar mudah menangkap ikan," ucap Lintu sambil memperlihatkan foto batik di daerah pesisir, dalam acara talk show bertajuk 'Misteri Selembar Kain Batik Jawa Timur' yang diadakan di Tunjungan Convention Center, Tunjungan Plaza, Surabaya, Jumat 13 Mei 2016. Perhelatan ini merupakan bagian dari The 9th Surabaya Fashion Parade 2016.












 Batik Jawa Timur tak hanya kaya motif tapi juga makna filosofis


Lintu memberikan contoh motif batik lain yang juga mengandung 'kode rahasia'. Batik Per Geper biasamya diserahkan dalam pernikahan atau hubungan asmara yang serius. Arti motif tersebut adalah sehidup semati. Motif Reng Pereng biasanya diserahkan kepada pasangan yang baru menikah. Batik ini menggambarkan pohon bambu yang bisa hidup dalam situasi apapun. Maksudnya, pasangan yang menikah mesti bisa menjaga komitmennya dalam situasi apapun.


Batik Sabet Rante juga melambangkan ikatan. Biasanya diberikan saat acara melamar. Motif lain yang bermakna asmara adalah Tong Centong. Centong merupakan peralatan dapur untuk makan. Maknanya, seseorang siap untuk memberi nafkah dan menghidupi keluarga.


Lintu berujar, batik Jawa Timur tak hanya kaya motif tapi juga makna filosofis. Apa yang ia sebutkan hanya beberapa di antaranya saja. Dalam perbatikan Jawa Timur, setidaknya ada tujuh macam jenis antara lain Mentaraman (Pacitan, Magetan, Ngawi, Madiun, Ponorogo, Trenggalek, Bojonegoro), Pesisiran (Kerek, Semanding, Palang, Sendang Duwur, Sendang Agung, Gresik, Sekardangan, Kedungcangkring, Jetis, Tulangan), Madura (Tanjungbumi, Modung, Kotah, Candiburung, Toket, Nong Tangis, Klampae, Bedung, Parteker, Toronan, Pekandangan, Kota Sumenep), Mendalungan (Coto'an, sepanjang pesisir timur), Banyuwangi, dan batik perpaduan (Bangoan, Majan, Kalangbret, Kediri, Mojokerto).




"Kalau batik Malang saya belum menemukan. Barangkali ada yang tahu dan bisa bantu saya?" kata Lintu.


Dari segi karakter pewarnaan, Lintu menjelaskan, batik Mentaraman berwarna dominan sogan dengan kombinasi warna biru dan hitam. Adapun sogan adalah kayu yang berwarna coklat. Kemudian batik Pesisiran cenderung berwarna-warni seperti merah, hijau, kuning, oranye. Kecuali warna sogan. Sedangkan batik perpaduan menggunakan pewarna sogan dan warna-warni. "Batik perpaduan itu contohnya batik Tulungagung."


Batik Madura adalah batik yang memang berasal dari pulau tersebut. Sedangkan Mendalungan dibuat orang Madura yang justru tidak lahir di sana. Misalnya dari Jember, Tuban, Banyuwangi, dan Lumajang.


Lintu menuturkan batik di tiap daerah di Jawa Timur ini punya ciri khas masing-masing. Namun karena adanya hubungan perdagangam, motif batiknya saling mempengaruhi. Tapi tetap bisa menjaga ciri khas mula-mulanya. Misalnya Sumenep bisa ke Mendalungan, Mentaraman ke Pacitan dan Bojonegoro. "Batik Jatim memang saling mempengaruhi."


Ada pula batik Storjoan, ini adalah batik Sidoarjo yang dibuat khusus untuk Madura. Daerah produksinya di Jetis (wak Nyonya, Wida, Koei) dan Kedung Cangkring. Uniknya orang Sidoarjo sendiri tak akan mengenakan batik buatannya yang didesain khusus untuk Madura tersebut. "Orang sering keliru menyamakan bati Storjoan dengan batik Madura, padahal berbeda," tutur dia. Adapun Kedung Cangkring adalah desa perbatikan di Sidoarjo.


Embran Nawawi, perancang asal Surabaya yang sering menggunakan batik Jawa Timur dalam karya busananya. Dia menilai batik adalah budaya yang bertahan di masa depan. "Batik di Jatim itu dibuat bukan hanya budaya tapi berdasar kebutuhan, filosofi, dan doa," tuturnya.


Dia mengaku tak kesulitan berkreativitas dengan batik Jatim. Tantangannya adalah menaklukkan konsumen anak muda yang kekinian. "Anak muda itu seleranya berubah tiap tiga bulan," ucapnya.


Embran jatuh cinta pada batik pada 1993 kala di Malioboro, Jogja. Sejak itu ia belajar membatik. Kemudian dia menjadi asisten perancang Carmanita pada 1996. Di situ Embran belajar lebih banyak tentang batik. Kemudian pindah ke Bali dan tinggal di sana selama sepuluh tahun. Hingga akhirnya kembali ke Surabaya pada 2009 dan menjadi salah satu pendiri Komunitas Batik Jawa Timur.


"Di situ saya jatuh cinta pada batik Madura," ucapnya. Selama empat tahun Embran menekuni batik Madura. Hingga pada perhelatan parade busana kali ini Embran ditantang membawakan karya busana batik Tuban dan Mojokerto.


Bagaimana dengan kain batik milikmu. Kebanyakan bermotif apa? Pernah mendapat kain batik dari teman, kolega, atau gebetan? Jangan-jangan ada kode rahasia di kain batik pemberiannya. 


NIEKE INDRIETTA



Tulisan lainnya: 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.