Menu

Percik Kata Nieke

Senin, 22 November 2021

Review Drama Viu: The Publicist, Profesi yang Identik dengan Pencitraan

Ramuan kisah dari benci jadi cinta, bukanlah hal baru. Hal menarik dari drama The Publicist adalah profesi tokoh utamanya, Julia Tanjung, seorang konsultan personal--semacam public relations. 

Drama original Viu, The Publicist, Monty Tiwa
Drama original Viu, The Publicist yang mengangkat dunia kehumasan.
Sumber foto: Viu Indonesia


Adalah Julia Tanjung (diperankan Prisia Nasution), yang memiliki perusahaan di bidang kehumasan (hubungan masyarakat) atau public relations. Ia 'membereskan' problem perusahaan dan memoles citranya agar menjadi baik. Dikisahkan, Julia cukup tenar di profesinya. Bahkan, salah satu kliennya adalah konglomerat yang hendak terjun ke dunia politik, Robert (Baim Wong).

Tak seperti kebanyakan karakter tokoh perempuan dalam drama atau sinetron Indonesia, Julia Tanjung menampilkan perempuan masa kini yang tinggal di kota metropolitan. Cerdas, berani, independen, tegas, cekatan dan sukses dalam pekerjaannya. Perempuan yang menempati posisi tertinggi di perusahaannya. Bahkan membangun perusahaan itu sendiri.

Keberhasilan Julia memperbaiki reputasi Robert beserta perusahaannya, membuatnya memiliki kedekatan dengan pengusaha itu. Robert bahkan memberinya sebuah tawaran. Di tengah tawaran itu, datanglah Erika (Poppy Sovia), memohon kepada Julia agar menjadi konsultan personal bagi Reynaldi (Adipati Dolken), seorang aktor yang tersandung kasus narkoba. Karirnya tenggelam akibat kasus tersebut, membuatnya kehilangan nama dan kontrak.

"Saya konsultan perusahaan, bukan konsultan personal," kata Julia, menanggapi permintaan Erika.

Baca jugaDrakor yang mengangkat perempuan sebagai figur pemimpin, Start Up dan Search: WWW

Erika tidak menyerah. Hampir tiap hari ia menyambangi kantor Julia untuk menarik perhatian dan iba agar mau menangani Reynaldi. Julia makin jengah, apalagi ketika Reynaldi dengan pongah datang ke kantornya. Reynaldi membuat pernyataan-pernyataan yang membuat Julia tersinggung. 

Di tengah upayanya memohon kepada Julia, Erika jatuh sakit. Julia iba. Ia pun mengabulkan dengan syarat, Reynaldi datang sendirian ke kantornya serta meminta maaf atas perlakuan kasarnya. Dari sinilah hubungan bertema dari benci menjadi cinta dimulai.

The Publicist tak melulu bercerita tentang Julia dalam menjalankan profesinya serta upayanya memulihkan citra Reynaldi. Drama ini memakai ramuan lama untuk membuat ceritanya gereget, yakni cinta segitiga antara Julia-Reynaldi-Robert.

*

Sumber video: embed trailer dari Youtube Viu Indonesia


Kenapa The Publicist Layak Ditonton 

The Publicist bukanlah drama terbaru. Viu merilisnya pada 2017. Saya akui, saya yang terlambat menontonnya. Namun tertarik menonton lantaran profesi tokoh utamanya serta nama sutradaranya, Monty Tiwa. Oya, drama ini bisa ditonton di aplikasi Viu. Drama bisa diakses gratis, yang tidak berlangganan pun bisa menonton.

Menyimak dari episode pertama, saya suka dialog-dialog para tokohnya yang tidak 'basi' dan cerdas. Tidak bertele-tele, tidak berbunga-bunga, tidak klise. Tak ada pula dialog-dialog basi versi sinetron. Rasanya seperti menonton drama luar negeri yang biasa ditayangkan di televisi kabel merek asing. 

Sekilas, mengingatkan saya pada drama Scandal yang dibintangi Kerry Washington. Ia memerankan Olivia Pope, seorang konsultan media Presiden Amerika Serikat, yang juga memiliki perusahaan yang menangani manajemen krisis dalam perusahaan. Namun dalam Scandal, unsur politiknya cukup kental.


Drama Viu, The Publicist drama Indonesia  versus Drama Scandal Kerry Washington
Kiri: The Publicist dibintangi Prisia Nasution.
Kanan: Scandal dibintangi Kerry Washington..
Sumber foto: Viu dan IMDB


Alur The Publicist dengan Scandal jelas berbeda. Bahkan tak ada tanda-tanda kemiripan selain tokoh utamanya seorang perempuan berkarakter kuat. Jalan ceritanya juga berbeda. The Publicist menceritakan upaya Julia memulihkan citra Reynaldi yang ambruk. Ia membantu mencarikan proyek-proyek bagi Reynaldi agar bisa tampil dan pulih kredibilitasnya sebagai aktor. 

Tak ada cerita ala-ala Cinderella yang biasanya muncul dalam drama Indonesia, China, maupun Korea. Cerita ala Cinderella maksudnya pria kaya atau berpengaruh jatuh cinta pada perempuan biasa. Di The Publicist, justru Erika sang manajer malah nyaris kehilangan aset-aset pribadinya lantaran polah Reynaldi. Sang aktor ganteng justru jatuh miskin dan kerap minta uang jajan pada Erika. 

Sekalipun dialog-dialognya cerdas, namun bukan berarti cerita melulu berjalan serius. Tak jarang penonton justru dibuat tertawa dengan dialog yang cerdas tersebut. Kelucuan muncul bukan karena akting slapstick. Drama yang bisa ditonton semua kalangan, karena bahasa yang digunakan juga mudah dipahami penonton. 


Sumber video: embed trailer dari Youtube Viu Indonesia


Gaya editingnya pun jauh dari rasa sinetron dan FTV. Lebih pada perpaduan antara drama China, Korea, dan Thailand yang kerap populer di Indonesia. Per episodenya tak sampai 60 menit. Keseluruhan episodenya sebanyak 13. Syuting melibatkan dua lokasi, Indonesia dan Jepang. Menonton The Publicist membuat penonton dibawa ke dunia profesi yang identik dengan pencitraan. 

Seandainya saya seorang dosen ilmu komunikasi, saya akan menyarankan mahasiswa yang berniat terjun di dunia kehumasan untuk menonton drama ini. Alasannya? Ada semacam persepsi dunia humas atau public relations itu identik dengan berpakaian rapi dan cantik, modis, bergaya, berkelas. Padahal, orang-orang yang berkecimpung di sana dituntut untuk lincah, pandai berelasi, dan handal menangani krisis. 

The Publicist bukan drama yang sempurna, tapi layak ditonton. Tak sedikit beberapa scene yang rada 'halu'.  Misalnya saat Erika mabuk di episode pertama. Namun adegan-adegan halu yang ditemukan, masih bisa 'dimaafkan'.  Saya tak bosan menonton episode yang rata-rata durasinya sekitar 20 menitan ini.  

 Tak heran, kalau drama The Publicist diganjar tiga penghargaaan dari Asian Academy Creative Awards. Masing-masing dengan kategori: Best Drama Series, Best Promo/Trailer, Best Actress in Supporting Role. Bagi saya--pendapat pribadi, The Publicist termasuk yang terasa dramatisasinya dan meninggalkan jejak di pengujung menonton. Seperti halnya dua film Monty Tiwa terdahulu, Critical Eleven dan Sabtu Bersama Bapak. 

Drama The Publicist ditayangkan di Viu
Prisia Nasution terlibat cinta segitiga dengan Baim Wong dan Adipati Dolken 
dalam Drama Viu, The Publicist. Siapa yang akhirnya dipilih Prisia?
 Sumber foto: Viu Indonesia


Dunia Humas di Kehidupan Nyata

Orang-orang yang terjun di bidang humas, biasanya menangani urusan hubungan-hubungan internal maupun eksternal perusahaan. Internal dalam artian hubungan antara perusahaan pusat dengan anak perusahaan, kantor pusat dengan kantor cabang, membuat media atau buletin perusahaan. Sementara eksternal, menangani hubungan-hubungan dengan klien, institusi, dan siapapun yang bersentuhan.

Tak melulu pekerjaannya semanis dalam persepsi yang tercipta. Berpakaian rapi, duduk manis di kantor, harus tampan dan cantik serta wangi. Tak jarang, humas yang berhadapan dengan warga dan buruh yang berunjuk rasa terhadap perusahaan. Berhubungan dengan wartawan dari berbagai media, menjawab pertanyaan-pertanyaan media, dan sejenisnya.

Humas juga bisa masuk ke dunia politik. Mendirikan perusahaan konsultan media dan politik misalnya. Tugasnya menjadi bayang-bayang dari tokoh politik, semacam bodyguard atau pengawal yang menjaga dari belakang dan depan layar. Menyuguhi sang tokoh dengan riset-riset terbaru yang isunya layak didengungkan, membantu sang tokoh agar lincah menjawab pertanyaan wartawan, melatih gaya bahasa dan bahasa tubuh tokoh politik, hingga memberikan saran dan rekomendasi dalam mengambil langkah-langkah politiknya. 


#jurnalistikdalamfilm

***

Salam,

Kata Nieke

@katanieke_blog


Tulisan saya lainnya soal film dan drama termasuk drama Korea bisa klik di sini.

Ketika Yoona Jadi Wartawan dalam Drama Hush

Cyrano deBergerac dan Han Jipyeon: Dari Drama Prancis ke Drama Korea


14 komentar:

  1. Wah menarik juga ya Viu. Serial dramanya mengangkat topic serius seperti drama korea. Makasih sudah merekomendasikan Viu melalui tulisan ini Kak.

    BalasHapus
  2. Wah asik nih bisa ditonton gratis, nggak harus berlangganan premium. Aku jadi penasaran pengen nonton, baca reviewnya menarik sih

    BalasHapus
  3. aku harus nonton nih, kemaren pas lagi nonton viu lagi ketahan sama drakor belum selesai hihi tapi nanti film ini aku coba tonton.

    BalasHapus
  4. Wah keren nih dramanya pastinya nggak kayak sinetron kita yaa. Coba aja sinetron kita bisa dibikin kayak gini juga biar nggak itu itu melulu ceritanya

    BalasHapus
  5. Penasaran ingin nonton, terutama karena berhubungan dg dunia humas yg ingin lebih dalam saya ketahui

    BalasHapus
  6. Wah di luar dapat banyak penghargaan tapi aku nggak tau :( rugi banget nih harus buruan nonton. Apalagi baca blurb dari sini, berasa nonton film luar ya. Semakin lama Indonesia film dan webseriesnya emang bagus dari segi tone, lighting, setting lokasi, dan dialog makin top ;)

    BalasHapus
  7. Ah jadi pengen nonton deh, soalnya kalau dilihat dari trailernya filmnya keren, aku lebih suka film yg berhubungan langsung dgn kehidupan nyata gini nih. Jadinya kita lebih tau, bukan yg bnyak drama gitu. Hehehe makasih rekomendasi filmnya kak

    BalasHapus
  8. Tenang, kakak enggak terlambat untuk tahu drama ini. Sepertinya saya yang terlambat karena saya baru tahu pas kakak review drama ini. Meskipun itu mirip drama-drama lainnya, tapi enggak terasa berbunga-bunga atau menye-menye ya. Jadi pengen nonton juga buah tahu dunia humas itu bagaimana, tapi kudu download Viu dulu, hehe.

    BalasHapus
  9. Sekarang sinetron/drama Indonesia yang ditayangkan di Viu banyak yang bagus yah. Sering lihat potongannya di Tiktok. Drama The Publicist ini juga sepertinya menarik, ternyata udah ditayangkan pada tahun 2017, pantesan Baim Wong nya masih agak mudaan, hehe.

    BalasHapus
  10. sangat menarik ini dramanya menyajikan kekentalan rasa dari profesi humas, ya. perlu banget tontonan seperti ini biar penonton enggak sekadar mabuk dengan kekebaperan cinta. salut buat monty tiwa!

    BalasHapus
  11. wah ulasan yang menarik nih, suka deh kalau ada film yang mengangkat isu perempuan yang kuat, independen, cerdas dan sukses. layak di tonton nih filmnya

    BalasHapus
  12. Nah iya banget peran humas ga sekadar gitu gitu tok, apalagi kalau ada krisis perusahaan, harus jadi tameng perusahaan buat handle kondisi krisis kan, baik buruknya citra perusahaan ya salah satu hasil dari kerjanya humas

    BalasHapus
  13. Thankiss mbak nieke aku ada list film nih, lumayan sedikit lah tahu cerita tentang apa ini publicist.

    Penasaran sama Julia bisa gak ya membalikkan nama baik si aktor yang kesandung kasus narkoba itu, eh..eh... la terus gimana nasib si aktor yang mau terjun dunia politik itu? Ku kira sama itu. Eeeeeeeh penasaraaaan

    BalasHapus
  14. Awalnya ku kira series Korea lho, eh ternyata produksi lokal yaa,

    seru nih, apalagi syutingnya ada di Jepang. Otw nonton~

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.