Menu

Percik Kata Nieke

Jumat, 19 Maret 2021

Space Sweepers: Membedah Simbol-simbol di Film Song Joongki

Space Sweepers perpaduan antara Star Wars dan The Guardian of the Galaxy. Film ini mendobrak pakem Hollywood yang selama ini mendominasi perfilman, bangsa Asia bisa jadi pahlawan bagi semesta.

Song Joongki di pesawat Victory
Song Joongki, Kim Taeri, Yoo Haejin dalam Space Sweepers. Foto: IMDB



Film dengan tema menyelamatkan dunia yang di ambang kiamat, tentu bukan hanya Space Sweepers. Sebelumnya telah berderet judul seperti Armageddon, Independence Day, Interstellar, dan serentetan lainnya. Namun melihat film heroik yang menampilkan pahlawan dari bangsa Asia tentu punya kesan tersendiri, di tengah bombardir dominasi film barat. 

Space Sweepers disebut-sebut sebagai film sains fiksi antariksa Korea Selatan yang pertama. Efek-efeknya lumayan bagus. Tak mengecewakan. Pun dengan jalinan cerita yang berjalan cepat tanpa bertele-tele.

Space Sweepers perpaduan antara Star Wars dan The Guardian of the Galaxy. Film ini juga mendobrak pakem Hollywood yang selama ini mendominasi perfilman, bangsa Asia bisa jadi pahlawan bagi semesta.

*

Seperti kebanyakan film sains fiksi, Space Sweepers berlatar bumi pada 2092 yang keadaannya sudah sangat parah. Udara tak lagi nyaman dihirup. Hutan telah lenyap dan padang gurun semakin luas. Tanah juga tak lagi gembur untuk bisa ditanam.

Pemandangan gedung-gedung menjulang tinggi dengan kabut tebal hingga berwarna kecoklatan adalah hal pertama yang disuguhkan kepada penonton, untuk memaparkan gambaran bumi yang rusak parah.

Lantaran keadaan bumi yang tak lagi layak huni, UTS Corporation milik seorang konglomerat, James Sullivan (Richard Armitage) membuat habitat baru di luar bumi bernama UTS Residential District. Sayangnya, tak semua manusia bisa pindah ke sana.

Song Joongki memerankan Kim Tae-ho, mantan tentara yang kehilangan pekerjaan karena insiden dalam hidupnya. Ia memiliki anak angkat seorang perempuan, Suni. Gadis kecil ini sebenarnya adalah korban peperangan di sebuah tempat yang diserbu pasukannya. Lantaran penyerbuan itu pula, gadis kecil itu menderita gangguan pendengaran.

Dalam sebuah insiden penyerangan, Tae-ho kehilangan Suni, anak angkatnya. Kejadian itu cukup menghantamnya. Tae-ho mengumpulkan uang melakukan pekerjaan apapun untuk menemukan jejak anak angkatnya yang hilang. Termasuk berburu sampah antariksa.

Pada 2092, manusia telah mampu melakukan perjalanan antariksa dengan pesawat--seperti halnya sains fiksi dalam Star Wars. Lantaran tak lagi jadi tentara, Tae-ho bekerja menjadi semacam pemburu rongsokan di antariksa.  Rongsokan itu berupa material pesawat, satelit, atau benda-benda buatan manusia yang telah rusak dan melayang-layang di antariksa.

Tae-ho bekerja bersama Kapten Jang (Kim Tae-ri), yang mengepalai pesawat Victory. Awak pesawat lainnya Tiger Park (Jin Seon-kyu) dan Bubs--android (Yoo Hae-jin). Tokoh Bubs mengingatkan saya pada droid C-3PO dalam film Star Wars. Komposisi awak kapal antariksa ini mengingatkan saya pada Star Wars di era Han Solo dan The Guardian of the Galaxy. 

 

Kru pesawat Victory:Song Joongki, Kim Taeri, Yoo Haejin, Jin Seonkyu.

 

Biar lebih jelas, saya perlihatkan komposisi awak di antara tiga film yang saya sebutkan.  


Anggota pesawat penjelajah antariksa Space Sweepers
Dari atas-bawah: Space Sweepers, Star Wars, Guardian of the Galaxy.


Bisa menebakkah kesamaan komposisi kru ini? Di mata saya, komposisi anggota di ketiga film ini, ada android atau makhluk dari planet lain. Kemudian, ada karakter perempuan jagoan.

Bahkan, karakter Tae-ho ini menurut saya perpaduan antara Star Lord di Guardian of the Galaxy, Han Solo di Star Wars, dan Rey di Star Wars teranyar. Ehm, apa hubungannya ya?

Begini. Tae-ho bekerja mengumpulkan barang rongsokan mengingatkan saya pada Rey di Star Wars teranyar. Tae-ho yang melankolis mengingatkan saya pada Han Solo di Star Wars. Dan, Tae-ho yang lincah dengan kepribadiannya mirip Star Lord (minus sisi jenakanya, karena Tae-ho lebih dominan melankolis). Ketiganya jago menyetir pesawat dan kendaraan luar angkasa.

Balik ke laptop. Suatu ketika, kru pesawat Victory menemukan seorang anak kecil bernama Dorothy. Mereka ketakutan karena menemukan informasi bahwa Dorothy adalah sebuah bom hidup, yang bisa sewaktu-waktu meledak.

Tae-ho Cs pun berniat menyerahkan Dorothy ke sekelompok orang yang mencarinya dengan imbalan uang yang cukup menggiurkan. Khususnya Tae-ho, ia butuh uang dalam jumlah cukup besar untuk melacak jejak Suni.

Belakangan, terkuak nama asli Dorothy adalah Kot-nim. Ia bukan gadis biasa, memiliki kemampuan spesial dalam tubuhnya hingga James Sullivan pun mengincarnya. Sebuah kelompok yang jadi musuh UTS-- Black Fox juga mencari-cari Kot-nim. Gadis kecil ini mampu menciptakan kehidupan.

Cara film ini mengupas lapis demi lapis soal identitas Kot-nim cukup menarik rasa penasaran. Penonton dituntun untuk bertanya-tanya soal siapa Kot-nim dan kenapa ia diburu begitu banyak orang. Benarkah ia senjata hidup berbahaya? Bagaimana pula dengan perjalanan Tae-ho mencari Suni, anak angkatnya?

Penonton juga baru akan mengetahui masa lalu Tae-ho yang manis sekaligus kelam menjelang satu jam film tayang. Di sinilah baru ada permainan alur kilas balik yang memainkan emosi penonton.


*
Kenapa Space Sweepers Layak Ditonton

Space Sweepers ditonton di Netflix
Space Sweepers tayang di Netflix.


Tak ada kisah romansa di sini. Jangan berharap ada love line antara Song Joongki dengan Kim Tae-ri. Space Sweepers murni film sains fiksi dengan genre laga. Toh, penonton disuguhkan manisnya hubungan antara Song Joongki alias Tae-ho dengan anak angkatnya, Suni, serta antara Tae-ho dengan Kot-nim.

Seperti kebanyakan film sains fiksi yang visioner, Space Sweepers menampilkan teknologi-teknologi yang kini belum ada namun sedang dalam pengembangan.

Beberapa di antaranya: alat penerjemah otomatis menerjemahkan segala bahasa, upaya manusia menemukan habitat baru selain bumi (NASA dan konglomerat Elon Musk sedang menjajaki kemungkinan manusia hidup di Mars), kendaraan luar angkasa yang sudah seperti kendaraan bumi--dengan leluasa mondar-mandir di antariksa, satelit, dan bumi. 


Baca juga: Virtual Tour ke Antariksa: Main ke Bulan dan Planet Mars

 

Space Sweepers juga berusaha menggambarkan keadaan manusia berkaca dari perilaku di masa kini. Misalnya kebiasaan manusia yang cenderung 'nyampah', hingga antariksa pun ternoda. Kondisi bumi dalam puluhan tahun mendatang juga ditampilkan, sesuai dengan prediksi lembaga dan organisasi lingkungan hidup soal perubahan iklim.

Space Sweeper tayang di Netflix, klik di sini untuk melihat trailernya.
*

Simbol-simbol dalam Film Bertema Penyelamatan Manusia

 

Setelah sekian dekade film Hollywood mendominasi dunia, penonton kerap disodori film bertema penyelamatan bumi dengan patriotisme bangsa barat. Space Sweepers tak sekadar film sains fiksi antariksa pertama bagi Korea. Bisa jadi, film ini mendobrak pakem bahwa bangsa Asia juga bisa menjadi pahlawan utama dalam menyelamatkan bumi dari kiamat.

Dominannya film bertema penyelamatan bumi dengan bangsa barat sebagai pahlawan tentu tak lepas dari situasi politik internasional. Seluruh dunia tahu, negara Paman Sam adalah negara adikuasa sejak era 1990-an, dengan bubarnya negara Uni Soviet.

Sejak era 2000-an ketika Amerika dilanda Subprime Mortgage (kasus kredit macet perumahan yang berimbas ke perbankan dan perusahaan ketiga) yang menyebabkannya didera krisis ekonomi, bermunculan negara-negara dari Asia yang menonjol dalam bidang ekonomi perdagangan. Cina, misalnya. Korea juga termasuk yang menunjukkan taringnya di bidang musik dan perfilman melalui K-pop dan K-dramanya. Ini menjadi landasan negara ginseng cukup pede menempatkan diri sebagai penyelamat dunia dalam sebuah film fiksi sains antariksa.

Jika para pecinta sinema jeli, tentu akan melihat simbol-simbol tergambar dalam film Space Sweepers soal masa depan. Berikut beberapa di antaranya:


Tak Ada Bahasa Dunia

Pada 2092, tak ada bahasa yang mendominasi dunia. Setiap orang dari berbagai bangsa dan negara dapat berbicara dengan bahasanya masing-masing. Mereka cukup menggunakan alat penerjemah yang digantung di daun telinga. Alat itu dapat menerjemahkan orang yang berbicara dengan bahasa asing. 

Ini diperlihatkan dalam sepuluh menit pertama Space Sweepers. Saat Tae Ho tengah bertransaksi menawarkan beras miliknya, ia berbicara dengan bahasa Korea. Si penjual berbahasa Jerman dan Inggris.

 
Perilaku Manusia Nyampah di Antariksa
 

Space Sweepers menggambarkan adanya satelit yang menjadi pabrik pengolahan sampah. Di sanalah para 'pemulung' material antariksa ini menyetorkan barang-barang. Material tersebut akan diperiksa dengan sebuah alat khusus untuk menakar nilainya dalam uang. Jadi tidak lagi menggunakan timbangan seperti kalau kita meloak koran.

Rupanya, inovasi manusia mencari dan menciptakan habitat baru di luar bumi beserta teknologinya, tak diiringi dengan perubahan perilaku menjaga lingkungan. Di mana-mana, manusia tetap 'nyampah'. Sebuah pesan tersembunyi dalam film yang semestinya menohok.

 

Mempertanyakan Moral Manusia

Dalam sebuah adegan, reporter dari bumi diberangkatkan ke UTS Residential Distric. Salah seorang reporter dengan kritis mempertanyakan nasib 95 persen manusia yang masih tinggal di bumi yang keadaannya sudah tak layak huni.

"Ada krisis kemanusiaan di depan mata kita," ujar reporter tersebut. Ia juga mengkritisi keadaan antariksa yang penuh dengan sampah manusia seperti satelit yang sudah kadaluwarsa, pesawat luar angkasa yang sudah diabaikan, serta material kedua benda tadi yang jumlah kepingannya bisa mencapai jutaan.

Di lain waktu, James Sullivan memanggil kembali reporter tersebut dan mengkonfrontasi idealismenya. Sang reporter diiming-imingi menembak seseorang dengan imbalan seluruh keluarganya akan dibawa ke habitat baru. Pilihan sang reporter memperkuat hipotesis Sullivan bahwa pada dasarnya manusia tamak dan menghalalkan segala cara demi kepentingan dirinya sendiri. 

Toh, penonton masih diberi harapan masih ada manusia-manusia baik yang tidak sempurna. Bisa membuat keputusan salah, namun mendengar nuraninya. Sullivan menyodorkan tawaran yang sama pada Tae-ho segabrek duit untuk mencari Suni anak angkatnya, tapi melepas Kot-nim dan meninggalkan teman satu timnya. Tae-ho memenuhi egonya pada respon pertama. Namun ia tak mengabaikan suara hati dan kemanusiaan yang menggedor-gedor dalam batinnya. 

(Tokoh-tokoh seperti Tae-ho Cs ini memberi gambaran manusia yang tak sempurna. Kapten Jang adalah tentara desersi dan Tiger Park adalah buronan yang kabur dari bumi. Namun kemanusiaan mereka tergugah untuk menyelamatkan bumi).

 

Richard Armitage saat mengendarai pesawat mengejar Song Joongki
Richard Armitage sebagai James Sullivan, pendiri UTS Corporation.


Karakter James Sullivan ini serupa Thanos dalam film ciptaan Marvel, dengan masa lalu yang kelam. Ia hendak mengubah dunia menjadi lebih baik, namun dengan 'caranya' yang mengesampingkan kemanusiaan. Ia berkeyakinan manusia pada dasarnya akan memenuhi instingnya akan kebencian dan keserakahan--seperti halnya Sullivan.

Belakangan penonton akan mengetahui bahwa kelompok Black Foxes--musuh UTS Corporation--ini serupa kelompok pemberontak dalam film  Star Wars yang berusaha melawan keserakahan dan kejahatan Sullivan. Plus, pada bagian klimaks film, penonton disuguhi peperangan kolosal kolaborasi antar-etnis dan bangsa dengan 'kerajaan' Sullivan. Pertempuran di antariksa ini mengingatkan saya pada peperangan di klimaks Star Wars: The Rise of Skywalker--walau di Space Sweepers tak semegah Star Wars.

Space Sweepers juga menyampaikan persoalan watak manusia yang tak berubah, tak heran jika kesenjangan ekonomi akan selalu ada. Kapitalisme dan kemiskinan selalu jadi problem. Moral dipertanyakan. Maka orang kaya cenderung mendapat privilese untuk selamat dalam sebuah bencana--sebuah sindirian terhadap situasi sosial. Serupa kritik sosial yang disisipkan dalam film Parasite. (Omong-omong, hipotesis ini terpatahkan hanya pada saat pandemi, orang kaya dan miskin sama-sama kesulitan dan menderita).

 

Antar-bangsa Berkolaborasi

Sebagai penonton, saya cukup menikmati hadirnya berbagai bangsa, ras, dan bahasa seperti Arab, Rusia, Inggris, Jerman, Spanyol, Cina, Prancis, Denmark di film ini. Tak adanya bahasa yang mendominasi dunia sebenarnya bisa menjadi harapan bahwa tiap bangsa bisa menyelamatkan budaya dan bahasanya sendiri sebagai identitas.

Tanpa bahasa mendominasi, setiap bangsa, etnis dan ras bisa memiliki kedudukan yang setara dan bisa berkolaborasi.


*
Hal-hal yang Meninggalkan Pertanyaan

Space Sweepers memukau saya, yang kebetulan juga penggemar film-film sejenis seperti Star Trek dan Star Wars. Namun ada beberapa hal yang masih menjadi beban di pikiran, barangkali teman-teman berpikir sama atau malah tahu jawabannya.

- Sullivan punya duit segitu banyak, sanggup buat habitat baru di tempat yang sebenarnya minim tanda kehidupan kenapa enggak perbaiki bumi aja?

- Sebagai ayah kandung dan anak, antara Kot-nim dengan dokter Kang selaku ayah kandungnya kurang terlihat chemistry. Bukan lantaran akting keduanya yang tak ciamik, tapi sedikitnya interaksi antara Kot-nim dan ayahnya. Ayahnya meninggal, kenapa tak ada adegan Kot-nim menangisi ayahnya?


Nieke Indrietta

Tulisan saya soal film dan drama lainnya, klik di sini.

 


40 komentar:

  1. Mbak Nieke, sepuluh menit pertama di atas dituliskan para pemerannya bicara dengan bahasa masing-masing untuk menggambarkan mereka ada cara menerjemahkan sendiri ... nah setelah itu pakai bahasa Korea ya?

    Keren ya baru tahu film sains fiksi ala Korea. Kalau suamiku tahu, dia cari nih karena dia penggemar sains fiksi juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sangat direkomendasikan untuk suaminya Mbak Mugniar. Pasti suka deh, heheheh.

      Bahasa yang digunakan dalam film ini adalah bahasa Korea. Tapi ketika para tokoh Korsel ini bertemu dengan tokoh dari bangsa lain, mereka bicara dengan bahasa masing-masing seolah tetap ngerti. Soalnya mereka pakai alat penerjemah yang dipasang di telinga. Alat itu otomatis menerjemahkan apa yang diucapkan lawan bicara. Keren kan ya, Mbak?

      Ibaratnya, saya ngomong bahasa Jawa ke Mbak Mugniar, terus Mbak Mugniar balasnya pakai bahasa Makassar. Terus kita tetep bisa ngobrol asyik gitu walau pakai bahasa masing-masing.

      Kalau begini kan kita enggak perlu takut bahasa daerah akan punah, karena akan terus digunakan. Yang dipercanggih adalah teknologinya. Yay!

      Hapus
  2. Ulasan yang menarik sekali. Sebagai penggemar drakor tadi langsung intip di youtube. Filmya pasti keren layak ditonton meskipun saya bukan penggemar film genre seperti ini. Film Korea makin berkibar saja kelihatannya ga cuman drakor mereka ternyata bisa film seperti Starwars ini. Kerenlah pokoknya apalagi ada Song 👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiih langsung sat set ke youtube ya, Mbak Risma. Trailernya lupa saya sertakan di artikel ini. Entar saya tambahin ke tautan trailernya di youtube ah.

      Worth it kok film Space Sweepers ini ditonton.

      Hapus
  3. Mb Nieke...saya sellau suka dengan cara mengulas filmnya...setiap berkunjung ke sini selalu diajak ikut merasakan bagaimana serunya film yang diulas. Seperti film ini diajak merasakan keseruan pengumpulan barang robgsokan di antariksa. Lagi-lagi saya baru tahu film ini...ga kalah seru dengan hollywood.

    Jadi membayangkan haruskan kita lewati begitu saja dan hanya menikmati film-film yang banyak menginspirasi, memberikan peringatan kepada manusia tentang kondisi bumi.

    BalasHapus
  4. Wah filmnya ada di youtube ya, jadi pengen nonton nih saya juga suka film science fiction gitu macam Star wars dan Marvel, film ini menambah wawasan saya akan film korea yang selalu unik :)

    BalasHapus
  5. Btw baru ngeh dong, Richard Armitage ini yg pernah main jadi Thorin Oakenshield di film the Hobbit, kudu nonton filmnya walaupun dia jadi antagonis wkwk

    BalasHapus
  6. Aku gagal fokus sama gambar jongki yang kurang terlihat tamvan. Hahaha
    Lama juga nih nggak nonton drakor.

    BalasHapus
  7. Udah dari kapan itu penasaran sama space sweepers tapi belum nonton juga. Ternyata seru ya, apalagi saya belum pernah nonton SJK main film. Kalau drakor juga yang saya tonton romcom hehehe. Sip lah bakal masuk daftar tontonan. Makasih ulasannya, Mbak.

    BalasHapus
  8. Pilihan sang reporter memperkuat hipotesis Sullivan bahwa pada dasarnya manusia tamak dan menghalalkan segala cara demi kepentingan dirinya sendiri. >>>> setuju dengan kutipan ini Mbak Nieke. Selamat malam.

    BalasHapus
  9. Saya sudah nonton ini filmnya dengan anak2 di rumah. Meski bukan pemhgemar drakor, ini film yang bagus banget

    BalasHapus
  10. Tabiat jelek manusia saat ini sudah terekam di tahun 2090 lewat nanti ya... Masalah sampah dan buang sampah sembarang ini memang pada bandel. Kasihan bumi jadi rusak

    BalasHapus
  11. Jadi penasaran sama filmnya, cocok buat anak2 gak mbak? Cerita aci fiction seperti ini biasanya disukai anak2, terutama remaja. Bisa lihat dimana ini?

    BalasHapus
  12. Filmnya bagus sdh nonton juga saya kisahnya inspiratif heheh

    BalasHapus
  13. Uwoo, Babang Song Jong Ki makin gagah di sana. Pesan moral yang ada di film ini dalem banget ya. Selian menghibur juga dapat emmbuat kita berpikir.

    BalasHapus
  14. Bener juga ya, banyak pesan yang sebenarnya cukup menohok dari film ini. Terutama yang perilaku manusia doyan nyampah, ga di bumi ga di antariksa, kok ya menimbulkan permasalahan terus.

    Nah kan, daripada invest bikin hunian di luar angkasa, kenapa enggak buminya aja yang diperbaiki siiihh...

    BalasHapus
  15. Baca ini jadi inget film The Guardian ya. Film Korea makin keren aja nih visualisasi effectnya, udh nggak mau kalah sama hollywood sekarang. Tema-tema yang diangkat juga banyak yg nggak biasa. Keren deh! Penggemar song joong ki wajib dong yaaa liat doi dimari..

    BalasHapus
  16. Aku sudah nonton mam. Film ini merubah pandanganku terhadap Song Jong Ki. Pantesan dia banyak fans ya. Memang oke banget aktingnya. Tp aku paling tau sama dubber Bulb, si robot. Soalnya ngefans sama Yoo Hae Jin sejak di reality show 3 Meals A Day

    BalasHapus
  17. Mba Nieke emang top markottoppp!
    selalu bisa cari angle dan point of view yg menariiik
    Berkelas buangeett dirimu mbaa

    BalasHapus
  18. Keren nih filmnya. Udah masuk wishlist tapi aku nggak ngerti nontonnya di mana 😂 Mbak Nieke nonto. Di mana mbak?

    BalasHapus
  19. Aku coba kasih pandanganku yaa...kak mengenai pertanyaan terakhir.

    1. Sullivan banyak duit kenapa gak memperbaiki bumi?
    Karena ia menyaring kembali manusia siapa saja yang akan masuk ke UTS. Kalau memperbaiki bumi, aku rasa ia akan kembali berhadapan dengan orang-orang yang gak sepaham dengannya.
    Ini tentu akan merusak idealisme UTS itu sendiri.

    Pertanyaan berikutnya, setelah Sullivan gak ada alias wafat, siapa yang mengurusi UTS yaak??
    Akankah ada Space Sweepers 2?


    2. Gak ada adegan Kot-nim menangisi ayahnya, ini karena saat Ayahnya meninggal, kalau gak salah Kot-nim gak dikasih tahu karena ia udah keburu diculik. Lalu saat ia menanyakan kemana Ayahnya, semua kompak kasih jawaban yang sama kalau Ayahnya masih bertugas meneliti.

    Akhirnya mungkin seiring berjalannya waktu, Kot-nim paham keadaan dan bertumbuh besar bahagia bersama keluarga The Victory.

    BalasHapus
  20. Waah Korea Selatan punya film sains fiksi, kerennya... Aku belum nonton nih, tapi kayaknya emang harus nonton film ini karena banyak yang bilang bagus

    BalasHapus
  21. kalau baca review film di blog mbak nieke emang enak ngalir. aku juga pernah baca reviewnya di blog mana ya lupa. penasran sih sama filmnya, blm kesampean liat song joki di sini, masih liat di vincenzo aja kwwk

    BalasHapus
  22. aku sudah nonton film ini mbak
    lumayan keren filmnya, ini film korea pertama yg bercerita tentang ruang angkasa ya
    akting SJK juara, meski menurutku dia nggak pantes terlihat miskin, hahaha

    BalasHapus
  23. Memang beda ya kalau jurnalis yang kemudian menulis
    Saya belum nonton film-nya jadi makin pengen nonton aja rasanya
    Maju mundur nonton sebenarnya karena aktornya bukan my fave hahaha

    BalasHapus
  24. Baru Kali ini aku belum nonton song jongki mbak xixixixi karena kupikir berat Dan nggak ada romantisnya wkwkw eh tapi abis baca ini rasa penasaranku terobati dong

    BalasHapus
  25. Ini bagus banget ya mbak filmnya? Mau nonton tapi belum sempet-sempet.. hehe.. Kalau dari visual kayakna standarnya udah mirip sama film-film Hollywood ya

    BalasHapus
  26. Allhamdulilah aku dah nonton Mba hehheeh jadi nggak penasaran lagi awalnya penasaran sosok sing jongki lho eheheh. Seru ya, ada sequelnya nggak ya kirakira

    BalasHapus
  27. Udah lama nih ga langganan Netflix. Jadi agak kudet dgn film2 terbarunya. Kayaknya wajib masukin daftar film layak tonton nih. Secara aku kan suka bgt film science fiction khas Amrik. Mksh reviewnya kak.

    BalasHapus
  28. Duh, udah lama banget aku nggak nge-drakor. Baca ginian bikin mau marathon deh rasanya.

    BalasHapus
  29. Aku suka tema film kayak gini. Dari ulasannya sangat menarik dan berasa sedang nonton filmnya. Keren mbak. Aku langsung cari nih filmnya

    BalasHapus
  30. aaah ini sudah masuk waiting list tontonan tapi belum sempat ketonton juga. makasih mbak jadi bisa baca previewnya dulu hehe

    BalasHapus
  31. Thankyou mb bisa jadi referensi buat nonton diwaktu senggang ni karena sepertinya jalan ceritanya menarik

    BalasHapus
  32. Saya juga mau mengulas film ini. Tapi belum sempat 😂
    Aseli ini film keren... jauh dari kesan korea yang drama drama.

    BalasHapus
  33. Makasih mbak, bisa jadi referensi ne buat tontonan malam minggu.

    BalasHapus
  34. karena film ini seolah "mendobrak" pakem film populer (hollywood) jadinya cukup populer ya, memang cukup beda sih dari drame korea kebanyakan.
    makasih atas review nya yah... barangkali bisa dipertimbangkan nih buat ditonton weekend besok...

    BalasHapus
  35. Film Korea makin keren aja ya. Jadi gak melulu kisah heroik hanya dari film Amerika saja. Dari Asia juga keren ternyata

    BalasHapus
  36. Terima kasih ulasan filmnya, lumayan jadi referensi kalau lagi BT disaat anak-anak dan suami aktifitas masing2

    BalasHapus
  37. kalau sampai terjadi di tahun 2092 ini seru juga kita manusia dari negara manpun tidka ada barrier language karena adanya alat translator bahasa yang memudahkan semua orang komunikasi, seru juga kalau ini terjadi dalam kehidupan nyata, meski sudah ada beberapa aplikasi namun belum semuanya mencakup semua negara dan belum sesimpel itu juga penggunaannya

    BalasHapus
  38. Seru juga ya ngebayangin di masa depan tuh bakal lebih banyak lagi kecanggihan teknologi yg manusia gunakan. Jadi pengen ikutan nonton!

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.