Menu

Percik Kata Nieke

Senin, 24 Agustus 2020

Hujan (Tak Lagi Mampir) di Bulan Juni

 Bagaimana bila suatu hari nanti bumi tak lagi bisa dihuni karena perubahan iklim sudah sedemikian parahnya? Kala suhu panas, udara kotor, pencemaran, krisis air dan pangan membuat kita--manusia--sulit bertahan hidup.

Foto ilustrasi perubahan iklim
Foto oleh: Nieke.

Barangkali pujangga idola saya kecewa lantaran hujan tak lagi singgah di bulan Juni, beberapa tahun belakangan ini. Saya saja kecewa. Biasanya bulan Juni, saya mengunggah status romantis di Instagram, yang kalau anak zaman now bilang bucin (budak cinta). Tulisan rada puitis sambil mengutip puisi Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni. Realitanya, Juni lalu hujan tak mampir sedikit pun. Baru muncul Juli, itupun jarang-jarang.

Saya juga tak bisa lagi pamer status mengutip lagu legendaris Guns N' Roses, November Rain, lantaran alasan yang sama. Hujan bersembunyi entah di mana. Bumi belahan tempat saya tinggal kering berkepanjangan. 

Periode musim hujan dan panas tidak lagi seperti dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang saya pelajari di diktat sekolah dasar. Musim hujan tak lagi singgah kala bulan berakhir dengan ‘ber’ yang biasanya dimulai sejak Oktober. Musim telah bergeser. Kemarau menjadi sangat panjang dengan hawa yang luar biasa panasnya. Dan ini telah saya rasakan lebih dari sepuluh tahun belakangan. Yap, inilah perubahan iklim. 

Kita menyadari sesuatu yang berbeda terjadi dengan alam. Tapi kita menyikapinya dengan cara yang berbeda. Perubahan iklim terbesar dirasakan paling besar oleh kelas menengah ke bawah tentunya. Contohnya, ketika udara menjadi sangat panas, orang berduit tinggal menyalakan penyejuk ruangan atau air conditioner. Tentu saja biaya listriknya juga lumayan, apalagi kalau seharian.

Sementara para sobat missqueen hanya bisa mengandalkan kipas angin—yang ternyata tak bisa mengalahkan hawa panas yang menyengat. Orang berduit santai di dalam ruangan kantor atau mobil yang sejuk, sobat missqueen yang bekerja di luar ruangan atau ruangan tanpa penyejuk diterjang sinar surya.

Di wilayah lain, sejumlah daerah lebih fatal. Sumber-sumber air mengering. Mereka yang tinggal di pedesaan dan mengandalkan pertanian sebagai pencaharian, kesulitan mengairi sawahnya. Kalau sawah tidak panen, kita mau makan apa, Bro? Kekeringan yang mengakibatkan gagal panen biasanya diikuti dengan harga komoditas yang naik lantaran persediaan terbatas. Hukum ekonomi berlaku, Agan-agan. Jajaran Emak Squad sudah pasti menjerit.

 Misalnya begini:

“Harga cabai naik. Kita enggak makan pakai sambal dulu ya!”

 Atau begini:

Anak zaman zenial:  “Ma, duit jajan kok berkurang?”

Emak dari zaman gen X sampai milenial: “Sudah, jangan cerewet. Harga-harga pada naik. Kita kudu ngirit.”

Bisa juga begini:

Saya, generasi awal milenial, kelas menengah ngehek yang pernah merasakan ngekos dan merantau di Ibu Kota: "Alamak, harga beras, cabai, sayur pada naik. Dahlah, enggak usah beli kopi setarb  eh..." *tekapmulut

NB: Percakapan di atas adalah contoh dampak perubahan iklim terhadap kehidupan ekonomi manusia.  Itu adalah percakapan imajiner. Sst, saya tidak bertanggung jawab kalau ternyata itu kejadian nyata.  Intinya, perubahan iklim bukan isu yang di awang-awang, tapi problem bersama yang kita hadapi.

Alangkah asyiknya kalau cuaca tidak panas secara ekstrem. Tinggal buka jendela, angin semilir sudah sejuk. Sinar matahari yang hangat. Pepohonan yang rindang. Udara yang bersih nikmat dihirup. Dan ini bisa dinikmati semua kalangan tanpa terkecuali. Listrik irit karena tidak perlu menyalakan penyejuk udara. 


"Kita ini merasakan dampak sekaligus menyumbang perubahan iklim. Paling terasa dampaknya adalah musim yang makin tidak teratur dan ekstrem. Musim hujan sangat pendek tapi ketika puncaknya curah hujan sangat intens. Begitu juga musim panas, bisa pendek atau panjang, tapi ketika puncaknya terasa sangat panas." 

Mubariq Ahmad, Direktur Eksekutif Yayasan Strategi Konservasi Indonesia, dalam acara Webinar KBR bertajuk Suara Kita tentang Perubahan Iklim, Jumat 14 Agustus 2020.

 

Omong-omong, tahukah kamu apa yang sebenarnya terjadi dengan bumi? Kenapa musim berantakan tidak karuan seperti hatimu kebat-kebit ketika melihat gebetan berduaan dengan yang lainnya? Lalu kenapa media mengkaitkan perubahan iklim dengan pandemi Covid-19?


Infografis penyebab perubahan iklim

Pertama kalinya saya mengenal istilah 'perubahan iklim' adalah saat saya baru menjadi jurnalis di Ibu Kota. Masih unyu-unyu, kinyis-kinyis, alias newbie. Jakarta kala itu--pada 2006, baru menggalakkan uji coba emisi terhadap kendaraan-kendaraan bermotor. Saya ditugaskan redaktur untuk mendatangi sejumlah bengkel yang melakukan uji coba emisi. 

Bahan bakar fosil, di antaranya bensin adalah salah satu faktor yang 'menyumbang' emisi karbon dan berdampak pada pencemaran udara. Uji emisi jadi salah satu cara mengendalikan polusi udara. Dengan uji emisi, kita bisa tahu tingkat efektivitas proses pembakaran bahan bakar pada mesin mobil melalui analisa kandungan karbondioksida dan hidrokarbon (HC) dalam gas buang.  

Sekarang bayangkan sekitar 15 juta kendaraan bermotor yang memadati jalanan Jakarta setiap harinya, mengepulkan asap dari knalpotnya. Tak heran jika kota terasa sangat panas. Belum lagi polusi asapnya. Itu sebabnya penduduk Jakarta--terutama yang menggunakan kendaraan umum dan sepeda motor, telah terbiasa mengenakan masker bahkan sebelum pandemi Covid-19.  

Saat mendatangi kantor sebuah lembaga swadaya masyarakat bidang lingkungan, saya menyaksikan presentasi yang menunjukkan foto-foto langit Jakarta. 

"Yang Anda lihat ini bukan kabut di Jakarta. Bukan pula awan. Ini polusi," kata seorang narasumber, aktivis lingkungan kepada saya. Jarinya menunjuk kabut tipis putih di langit, yang tadinya saya pikir awan. Emisi karbon mempertebal gas rumah kaca dan suhu bumi kian panas, lalu terjadilah pemanasan global dan perubahan iklim.  

Selanjutnya ia menunjukkan foto-foto termometer suhu Ibu Kota. Jakarta barulah bebas polusi kala libur Lebaran, kala jalanan kosong karena sebagian orang mudik dan berlibur ke luar kota. Langitnya tampak biru jernih. Itu baru kondisi udara satu kota. Bagaimana dengan kota-kota lain? Apalagi ditambah dengan kota-kota seantero dunia?

Pada 2018, Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovermental Panel on Climate Change/IPCC) menyatakan bumi mengalami peningkatan suhu sebesar 1,5 derajat Celcius. Di tahun yang sama, PBB juga telah mengeluarkan peringatan soal prediksi kenaikan suhu global sekitar lebih dari 3 derajat Celcius pada akhir abad ini. Jika itu terjadi, bakal lebih buruk dari apa yang kita alami sekarang. Misalnya, bisa-bisa satu kota atau desa tenggelam karena permukaan air laut naik. Lantas, ratusan orang terpaksa direlokasi karena tak bisa beradaptasi dengan kerusakan ekologi yang sudah terjadi di tempat tinggalnya. Belum lagi, tanaman dan hewan yang punah serta penyakit-penyakit baru  yang timbul.

Di Indonesia, warga Desa Bedono, Kecamatan Sayungan, Kabupaten Demak yang berada di pesisir Jawa Tengah sudah direlokasi karena nyaris tenggelam. Dulunya warga sekitar mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian. Bertahun-tahun kemudian, mulai terjadi abrasi. Warga mengubah pertanian menjadi tambak karena permukaan air laut telah naik. Bertahun-tahun setelah itu, air laut naik lebih tinggi hingga permukiman itu tak memungkinkan untuk dihuni. Warga pun direlokasi. Hal yang sama bakal terjadi di desa-desa, serta kota pesisir lainnya di Indonesia.

Dampak perubahan iklim lainnya adalah fenomena alam kebanggaan Indonesia sebagai negara tropis: gletser di puncak pegunungan Jayawijaya di Papua. Puncak salju yang berada di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut itu memiliki ketebalan 32 meter pada 2010, namun menyusut tiap tahunnya sebanyak tujuh meter. Hingga saat ini, gletser di Puncak Jaya luasnya kurang dari 100 hektare, dari sebelumnya 2.000 hektare. 

Contoh lainnya adalah kebakaran hutan besar yang terjadi tahun lalu, 2019. Salah satunya di Kalimantan. Asap tebalnya tidak hanya merangsek ke kota-kota bahkan negara sekitarnya dan mengganggu kesehatan warga. Kebakaran hutan dan asap itu juga mengancam eksistensi satwa langka orangutan.

Perubahan iklim juga menyebabkan La Nina dan El Nino makin meningkat frekuensinya. Dari semula periode 5 hingga 7 tahun sekali menjadi 3-5 tahun sekali. La Nina dapat menyebabkan banjir besar akibat curah hujan tinggi, sedangkan El Nino menimbulkan musim kemarau ekstrem.


Infografis dampak perubahan iklim


Di Surabaya--tempat saya bermukim, kenaikan suhu juga terjadi lebih dari sepuluh tahun belakangan ini yakni kisaran 30-31 derajat Celcius. Tri Rismaharini sebagai Wali Kota Surabaya kemudian memperbanyak ruang terbuka hijau sehingga suhu kota kini turun hingga 28-29 derajat Celcius. Dia berharap suhu kota bisa mencapai 22 derajat Celcius dengan terus memperbanyak ruang terbuka hijau. Keberhasilan Risma menurunkan suhu kota ini menjadi inspirasi dan harapan, ihwal upaya mengatasi perubahan iklim. 

Kalau kita tidak melakukan hal apapun, kenaikan suhu akan terus naik. Kevin Walsh, peneliti dari Universitas Queensland memprediksi suhu bumi akan naik lebih dari 2 derajat Celcius pada akhir abad ini. Bahkan, ia memperkirakan kenaikan sekitar 4-5 derajat Celcius apabila tingkat emisi seperti yang terjadi sekarang. Akibatnya, daratan es di Antartika lebih banyak yang mencair, diikuti tingkat permukaan laut secara global, sehingga mengancam masyarakat yang bermukim di pesisir. Tak hanya itu, akan lebih banyak badai akibat kenaikan permukaan laut tersebut.

Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorology Organization/WMO) juga membuat perkiraan yang tidak berbeda, yakni kenaikan suhu global lebih dari 1,5 derajat Celcius selama lima tahun mendatang. Menurut para peneliti, suhu bumi rata-rata sudah naik lebih dari 1 derajat Celcius per tahun dibanding pada era 1850.

Foto suasana Taman Bungkul Surabaya, sebelum pandemi Covid-19.
Keberadaan ruang terbuka hijau membantu menurunkan
suhu kota. Rindangnya Taman Bungkul Surabaya.
(Foto diambil pada 2019, sebelum pandemi virus Corona). 
Kredit foto: Nieke

Di tengah carut-marut kerusakan ekologi bumi, merebaklah pandemi Covid-19 berawal dari sebuah kota di Tiongkok, Wuhan lalu menyebar ke seluruh dunia. Di linimasa inilah kita berada sekarang. Sebagian masyarakat mengalami lockdown, sebagian bekerja dan sekolah dari rumah, sebagian telah beraktivitas namun dengan protokol-protokol kenormalan baru. 

Manusia mengurangi aktivitasnya di luar rumah, kegiatan bisnis dan pabrik mengurangi laju produksi, transportasi di laut, darat dan udara tak riuh lalu lalang. Lalu viral di media internet, misalnya foto-foto langit yang lebih biru dan jernih, laut yang biru. Benarkah bumi seperti sedang menyembuhkan dirinya sendiri?


"Aktivitas manusia menurun drastis membuat alam bisa regenerasi. Selama ini kita mengeksploitasi alam dengan tingkat luar biasa. Tapi hal-hal lain meningkat, seperti sampah. Kegiatan di rumah ternyata juga berdampak lingkungan luar biasa." 

Davina Veronica, Pegiat Lingkungan dan Perlindungan Satwa, dalam acara webinar KBR bertajuk Suara Kita tentang Perubahan Iklim, Jumat 14 Agustus 2020.


Sejumlah peneliti memperkirakan terjadi penurunan emisi gas karbon sekitar 17 persen atau 17 juta ton total karbondisida di seluruh dunia, ketika negara-negara melakukan pembatasan sosial berskala besar. Namun, penurunan emisi tersebut diperkirakan tidak bisa mengurangi konsentrasi karbondioksida yang  menyebabkan pemanasan global. Sebab, karbondioksida yang sudah terlanjur menetap di atmosfer, sifatnya bertahan lama. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan perlambatan industri akibat Covid-19 bukan solusi memperbaiki iklim secara berkelanjutan. 

Kondisi alam yang sedang memulihkan diri juga diprediksi sifatnya sementara. Sebab, begitu manusia menemukan cara menghadapi virus Corona, tak elak roda akan berputar kembali--bahkan lebih kencang untuk mengejar laba yang hilang saat pandemi mengurung manusia. Alam kembali terganggu.


Webinar KBR bertema Suara Kita tentang Perubahan Iklim
Davina Veronica, pegiat satwa langka (kanan) saat diwawancarai
Don Brady dari KBR dalam acara Webinar "Suara Kita tentang
Perubahan Iklim", Jumat 14 Agustus 2020. Foto: screenshot dari 
saluran Berita KBR di Youtube.

Davina Veronica, pegiat lingkungan dan perlindungan satwa yang juga model, mengatakan bahwa problem lingkungan ternyata juga muncul ketika manusia menjalani pembatasan sosial berskala besar dan harus beraktivitas dalam rumah, yakni sampah

"Kegiatan di rumah ternyata juga berdampak lingkungan luar biasa," ucapnya dalam acara Webinar KBR bertajuk Suara Kita tentang Perubahan Iklim, Jumat 14 Agustus 2020.

Perilaku manusia yang kerap abai terhadap lingkungan ini, menurut dia, lantaran manusia tidak tinggal di dekat hutan dan laut. Itu sebabnya, manusia merasa tidak terkoneksi dengan alam. Padahal, ia melanjutkan, manusia bisa bertahan hidup di bumi karena unsur alam yakni hutan sebagai produsen udara bersih, air bersih, dan tanah bersih. 

Manusia cenderung terus menerus mengeksploitasi alam untuk memenuhi kebutuhannya, termasuk hutan. Binatang-binatang dan spesies yang berada di hutan juga diabaikan. Padahal tiap spesies itu memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam. "Kalau manusia terus-terusan eksploitasi, yang selanjutnya habis adalah manusia," Davina mengingatkan. 

Davina yang giat berkampanye penyelamatan orangutan bercerita, satwa langka yang berada di rehabilitasi belum dilepas ke hutan selama pandemi. Selain hutan yang kondisinya mengkhawatirkan karena ulah manusia, keputusan itu juga untuk menjaga agar tidak orangutan tidak tertular dan menularkan Covid-19. Sebab, 90 persen DNA orangutan sama dengan manusia.

"Binatang masih dianggap pengungsi, semuanya diambil untuk pemenuhan kebutuhan manusia. Mereka kehilangan tempat tinggal. Padahal satwa punya peran menjaga keseimbangan alam. Kita manusia menjadi populasi tidak terkontrol, mengambil setiap jengkal tanah yang ada di bumi ini, seperti seolah tidak ada spesies lain di bumi." 

Davina Veronica, Pegiat Lingkungan dan Perlindungan Satwa, dalam acara webinar KBR bertajuk Suara Kita tentang Perubahan Iklim, Jumat 14 Agustus 2020.


Problem lingkungan yang serupa juga menjadi keresahan Zul Karnedi, penyelamat penyu di Bengkulu. Ia pernah menemukan penyu yang mendarat di pantai dalam keadaan mati. Saat dibedah, sungguh mengenaskan--di dalam perutnya terdapat sampah-sampah plastik dan kaleng. Zul Karnedi kemudian merangkul komunitas-komunitas di Bengkulu, termasuk para mahasiswa untuk sosialisasi masalah sampah agar tidak mencemari laut. Kalau laut bersih, Zul bisa dengan lega melepas penyu dari penangkaran ke laut agar bisa hidup sesuai habitatnya.


Webinar KBR tentang perubahan iklim di Indonesia
Zul Karnedi, penyelamat penyu di Bengkulu (kanan) saat diwawancarai
Don Brady dari KBR dalam acara Webinar "Suara Kita tentang 
Perubahan Iklim", Jumat 14 Agustus 2020. Foto: screenshot dari 
saluran Berita KBR di Youtube.

"Ekosistem di Bengkulu masih cukup lumayan baik karena terumbu karang masih bisa dijaga," katanya, dalam acara Webinar KBR bertajuk Suara Kita tentang Perubahan Iklim, Jumat 14 Agustus 2020.

Cerita menarik dari Zul Karnedi adalah kisah tentang dirinya sendiri. Sebelum menjadi penyelamat penyu, dulunya ia justru pemburu penyu dan telur-telurnya. Sekitar 2015, ada sosialisasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan dari provinsi dan kabupaten, Zul baru menyadari bahwa penyu termasuk satwa yang nyaris punah. Dari situlah, ia dan warga sekitarnya tergerak membangun kelompok Alun Utara Bengkulu, yang bergerak melestarikan penyu.

Problem sampah di tempat wisata alam maupun sampah rumah tangga, sama-sama meresahkan. Mubariq Ahmad, Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Indonesia mengatakan masalah ini harus diatasi dengan kebijakan dan sistem pengelolaan sampah yang baik.

"Perilaku kita dalam memproduksi dan mengolah sampah, itu sangat perlu dikampanyekan," ucapnya, dalam acara Webinar KBR bertema Suara Kita tentang Perubahan Iklim, Jumat 14 Agustus 2020. 

Soal sampah rumah tangga, menurutnya seorang perempuan dan ibu rumah tangga bisa berperan besar, yakni memberikan pendidikan lingkungan kepada anggota keluarganya. Dimulai dari hal-hal sederhana misalnya dengan memilah sampah, membuang sampah pada tempatnya, mengurangi pemakaian kantong kresek dan plastik, menggunakan tumbler.

Di sisi produsen barang dan kebutuhan manusia, bisa dengan menggunakan kemasan yang bisa didaur ulang. Untuk mendorong hal ini terjadi, pemerintah bisa mengeluarkan insentif-insentif yang menarik. Dengan demikian, tak hanya sampah rumah tangga yang paling tidak bisa berkurang, sampah yang mencemari lingkungan juga.

Kerusakan lingkungan yang mengancam Indonesia--bahkan dunia-- saat ini bukan hanya sampah. Problem kedua adalah kenaikan permukaan air laut. Masyarakat yang tinggal di pesisir atau daerah pantai utara Jawa (Pantura) sudah mulai merasakan dampaknya. Warga tak hanya menghadapi kenaikan permukaan air laut, tapi juga penurunan permukaan tanah karena pemadatan.  

Mubariq mencontohkan pasar ikan di Pelabuhan Sunda Kelapa Jakarta yang sebenarnya sudah berada di bawah permukaan air laut. Pasar dan pelabuhan, kata dia, masih bisa beroperasi karena terpasang dinding beton di dermaganya. Ini baru satu contoh. Masih ada penduduk Jawa di pesisir Pantura mulai dari Pekalongan hingga Jawa Timur. Belum lagi yang bermukim di luar Jawa.

"Kita mungkin tertawa kalau dengar kenaikan permukaan air laut, tapi yang tinggal di daerah Pantura Jawa ini pasti sudah merasakan dampaknya," katanya.  

Kerusakan lingkungan berikutnya adalah krisis air yang sudah mulai terlihat di beberapa tempat di Indonesia. Penyebabnya tentu saja musim kemarau yang berkepanjangan dengan tingkat panas yang ekstrem. Kekurangan air sangat dirasakan untuk kebutuhan rumah tangga di daerah yang kesulitan air. "Yang pertama kali susah adalah ibu-ibu, ini tidak adil secara gender," kata Mubariq.

Erosi keanekaragaman hayati termasuk kerusakan lingkungan. Mubariq menyebut empat ikon satwa langka di Indonesia, yakni orangutan, harimau, gajah, dan badak. Hewan-hewan ini membutuhkan habitat hutan sebagai tempat tinggalnya. Namun hutan mengalami deforestasi, kebakaran, dan konversi lahan menjadi pertanian dan tambang, untuk pemenuhan kebutuhan manusia. 

"Ketika habitat harimau punah, yang punah bukan hanya kayu hutan, harimau, tapi juga semua biodiversity (keanekaragaman hayati) berikut rantai makanannya di sana," Mubariq menjelaskan.

Kerusakan lingkungan ini kemudian menimbulkan perubahan iklim. Dampaknya tentu saja kembali dirasakan manusia, yakni musim yang makin tidak teratur dan ekstrem. Musim hujan bisa sangat pendek namun curah hujan sangat tinggi pada masa puncaknya. Sebaliknya, musim panas bisa pendek atau panjang namun suhu sangat panas pada masa puncaknya. Pergeseran musim ini berpengaruh besar terhadap sektor pertanian. Petani kebingungan dengan pola tanam.


Webinar KBR tentang dampak perubahan iklim di Indonesia
Mubariq Ahmad, Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Indonesia (kanan)
 saat diwawancaraiDon Brady dari KBR dalam acara Webinar 
"Suara Kita tentang Perubahan Iklim", Jumat 14 Agustus 2020.
Foto: screenshot dari saluran Berita KBR di Youtube.

"Unpredictability musim itu maka pertanian yang pertama kali jadi korban karena kekurangan air, musim tanam yang tidak bisa diperkirakan dengan tepat," Mubariq menuturkan.

Berbagai bencana alam yang terpicu dari perubahan iklim bermunculan. Tak hanya banjir, namun juga tanah longsor, kebakaran hutan karena suhu panas. Apabila hutan terletak di hulu rusak atau dirusak, dampaknya adalah daerah hilir terancam banjir. "Itu bisa dipetakan dari Sabang sampai Merauke, kejadiannya seperti itu," Mubariq berujar.

Indonesia mesti mengurangi penggunakan energi berbahan bakar fosil, salah satu penyumbang terbesar gas rumah kaca, untuk mencegah perubahan iklim makin parah. Apalagi, Indonesia memiliki komitmen menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen dengan upaya sendiri dan sampai dengan 41 persen dengan bantuan internasional. Alih-alih mendorong pembangunan energi terbarukan, Mubariq menilai hingga kini masih banyak deforestasi, kebakaran hutan, dan konversi, juga pembangunan energi berorientasi pada bahan bakar fosil seperti batu bara.  "Kebijakan sangat tidak konsisten," ucapnya.

"Ada dua blok persoalan besar, pertama deforestasi dan konversi hutan, adalah masalah yang kita hadapi sekarang dan kita rasakan dampaknya sekarang. Blok kedua masalah energi, dampaknya belum kita rasakan sekarang, tapi persoalan itu sedang kita buat sekarang untuk masa depan kita sendiri." 

Mubariq Ahmad, Direktur Eksekutif Yayasan Strategi Konservasi Indonesia, acara Webinar KBR bertajuk Suara Kita tentang Perubahan Iklim, Jumat 14 Agustus 2020.

Widyantari Yuliandari, seorang narablog atau blogger, Ketua Umum Komunitas Blogger Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN) mengatakan semua aspek kehidupan terancam dengan perubahan iklim. Mulai dari permasalahan sampah, air bersih, pembuangan limbah, kualitas air sungai. Ia mengaku telah memulai edukasi perubahan iklim sejak sepuluh tahun lalu. Saat itu, kondisi masyarakat masih belum bisa melihat fakta dampaknya terhadap manusia dan lingkungan.

"Saat itu masih berat, tapi sekarang semua sudah mulai melihat bahwa ini adalah real issue. Semua bisa merasakan," kata Widyantari dalam acara Webinar KBR bertajuk Suara Kita tentang Perubahan Iklim, Jumat 14 Agustus 2020.


Webinar KBR tentang dampak perubahan iklim di Indonesia
Widyanti Yuliandari, Ketua Komunitas Bloger Ibu Ibu Doyan Nulis/IIDN(kanan)
saat diwawancarai Don Brady dari KBR dalam acara Webinar 
"Suara Kita tentang Perubahan Iklim", Jumat 14 Agustus 2020.
Foto: screenshot dari saluran Berita KBR di Youtube.

Di dunia narablog Indonesia, isu lingkungan juga masih belum begitu diangkat. Padahal narablog memiliki peran sebagai individu dalam menyebarkan ide dan pengalaman. Blog bisa digunakan untuk berbagi kebaikan termasuk bagaimana menyuarakan kelestarian lingkungan. Toh, ia mengaku senang lantaran akhir-akhir ini mulai tampak para narablog yang menuliskan pengalamannya dalam melestarikan alam terutama dalam perubahan iklim. Mulai dari hal-hal sederhana seperti membawa bekal sendiri, membatasi minuman kemasan, membawa tumbler,  manfaat kesehatan dari mengurangi konsumsi daging. "Hal sederhana yang bisa ditiru semua pembaca," Widyantari berujar.

Sementara itu, Siti Hairul Hidayah, narablog menyuarakan soal penggunaan menstrual cup lewat blognya. Menurutnya, tulisan yang berdasarkan pengalamannya tersebut masuk ke halaman pertama sistem pencarian Google. "Ternyata perempuan Indonesia yang meninggalkan pembalut sekali pakai banyak tapi penggunaan menstrual cup belum populer," ia menuturkan.


Webinar KBR tentang dampak perubahan iklim di Indonesia
Siti Hairul, Blogger asal Yogyakarta (kanan) saat diwawancarai
Don Brady dari KBR dalam acara Webinar "Suara Kita tentang 
Perubahan Iklim", Jumat 14 Agustus 2020. Foto: screenshot dari 
saluran Berita KBR di Youtube.

Kendala dalam menyuarakan penggunaan menstrual cup, kata dia, lantaran cara pemakaian alatnya yang dimasukkan ke dalam kelamin perempuan. Alat itu berfungsi menampung cairan haid. Sementara kekhawatiran para perepuan--terutama yang belum menikah adalah penggunaan alat itu bisa merusak selaput dara. Ia juga mengaku banyak menerima pertanyaan soal penggunaan menstrual cup dari sudut pandang agama Islam.

Keputusan Siti Hairul tak lagi menggunakan pembalut sekali berawal dari percakapannya dengan petugas pengumpul sampah dari Tempat Pembuangan Akhir di Piyungan, Bantul, Yogyakarta. TPA tersebut letaknya memang dekat dengan rumahnya. Ia menanyakan soal sampah yang paling tidak nyaman saat dikumpulkan. Petugas tersebut menjawab, pembalut wanita sekali pakai karena tidak bisa didaur ulang. Kejadian itu berlangsung empat tahun lalu. "Sejak itu saya jadi jarang pakai pembalut sekali pakai, kecuali saat traveling" ujarnya.


"Aksi menyelamatkan lingkungan tidak hanya dari satu atau dua orang, atau kelompok yang sempurna. Satu orang pun bisa meski tidak sempurna. Hanya menulis di sosmed bisa memberikan dampak. Tak perlu malu atau nunggu aksi yang sempurna. Mulai saja dari hal-hal kecil dan berbagi ke teman-teman melalui saluran-saluran yang kita miliki." 

Widyantari Yuliandari, Ketua Umum Komunitas Blogger Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN), dalam dalam acara Webinar KBR bertajuk Suara Kita tentang Perubahan Iklim, Jumat 14 Agustus 2020.

 

Menurut Siti Hairul, semua orang bisa berperan dalam menjaga lingkungan dan mencegah perubahan iklim yang lebih parah. Dari keluarga, seorang perempuan dan ibu rumah tangga bisa mengajarkan anak-anaknya bagaimana mengelola sampah. "Semua keluarga di Indonesia bisa melakukan semua itu," ucapnya.

Davina Veronica berpendapat senada. Ia mendorong masyarakat untuk memakai produk lingkungan. Sementara untuk dunia industri, mulai menciptakan produk ramah lingkungan. 

Omong-omong, saya sendiri sudah setop membeli pakaian baru sejak 2015, selalu bawa tumbler jika bepergian, menyiapkan kantong sendiri untuk belanja. Belakangan ini, sejak era pandemi Covid-19, saya belajar menanam di pekarangan rumah. Sebelumnya sudah menanam sih, tapi belum begitu fokus lantaran banyak aktivitas di luar rumah. Lampu-lampu yang saya gunakan adalah merek yang hemat listrik, begitu juga dengan mesin cuci. 

Banyak hal-hal menarik tentang perubahan iklim, kalau kamu ingin tahu lebih banyak bisa menyimak webinar KBR bertema tersebut di sini.

 


Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini. 

Nieke Indrietta

Referensi:

Webinar di KBR bertajuk Suara Kita tentang Perubahan Iklim, tayang 14 Agustus 2020, https://www.youtube.com/watch?v=CJSMs2ufa2w

https://nationalgeographic.grid.id/read/132032481/perubahan-iklim-sebuah-pengetahuan-dasar-dari-sederet-masalah-besar?page=all

Penyebab Perubahan Iklim, Fakta dan Solusinya, https://tirto.id/emYU

https://tirto.id/dunia-it-menyumbang-emisi-karbon-yang-sangat-besar-elcZ

https://asiatoday.id/read/penurunan-emisi-karbon-selama-covid-19-tak-pengaruhi-perubahan-iklim-global

https://www.bmkg.go.id/berita/?p=kepala-bmkg-apresiasi-walikota-surabaya-terkait-mitigasi-perubahan-iklim-juga-bahas-penguatan-sistem-mikrozonasi-gempabumi-dengan-gubernur-jawa-timur&lang=ID

Pemanasan global: Suhu bumi 'kemungkinan naik' lebih dari 1,5 derajat Celcius, apa dampaknya bagi kita?https://www.bbc.com/indonesia/majalah-53333134

https://tekno.tempo.co/read/1310335/ini-alasan-puncak-jaya-bersalju-dan-terancam-perubahan-iklim/full&view=ok

Jika Suhu Global Naik 2 Derajat Celcius, Begini Dampaknya,  https://sains.kompas.com/read/2018/09/24/123200523/jika-suhu-global-naik-2-derajat-celcius-begini-dampaknya?page=all.

Pesisir Indonesia tenggelam: 'Ini bukan bencana alam, ini bencana buatan manusia' - BBC Indonesia https://www.youtube.com/watch?v=jCRTFwd1O10  

7 komentar:

  1. Sangat bermanfaat sekali mb informasinya, sudah seharusny kaum muda peduli akan lingkungan sayangny masih byk yg menggunakan motor 2 tax yg masih berbunyi berisik dan sayangny ketika kampanye motor2 spt itu malah dapet panggung dgn suara khas yg menganggu itu, bikin polusi suara dan polusi udara krn ngga ramah lingkungan

    BalasHapus
  2. hal-hal sederhana yang bisa dilakukan oleh kita untuk menjaga lingkungan kita tampaknya sudah hampir semua, cuman belum maksimal full aja kak, semoga kedepannya bisa lebih sering dna komitmen

    BalasHapus
  3. Betul, bumi di kampung saya pun terasa panas. Berbeda dengan puluhan tahun lalu. Kala remaja SMU saya sering pakai tambahan kemeja kotak-kotak berbahan wol ke sekolah di luar seragam saya karena tidak punya sweater, he he. Pukul 10 pagi tetap terasa dingin bahkan di dalam kelas yang dihuni 40-an murid. Itu karena saya terbiasa dengan suhu Bandung di daerah Kiaracondong yang meski terasa panas tetapi tidak sepanas sekarang. Nah. Bandung sudah kalah dingin, saya jelas sering kedinginan pada pagi sampai pikul 10m bahkan di dalam kelas kala siang malah tidak kepanasan. Lingkungan sekolah juga masih banyak pepohonan.
    Sekarang dingin yang sejuk itu sudah lama tidak saya rasakan. Suhu selalu berada di kisaran di atas 20 derakat Celcois. Pernah 14 derakat Celcius tetapi itu dini hari dan tidak asyik, dong!

    Saya nyamannya 18 arau 20 derajat Celcius dan jangan di atasnya

    Suhu Bumi sedang berantakan, orang kampung di daerah pegunungan ini pun merasakan dampaknya karena rindang pepohonan telah lama berkurang. Banyak bukit yang telah dialihfungsikan jadi ladang padahal dulunya tepian hutan. Makin merambah jauh ke dalam sehingga mengganggu satwa.
    Tahun lalu Gunung Nangkod di arah utara lembah terbakar. Kebakaran hebat yang menyedihkan karena naik sampai puncak. Sejak saya pindah ke lembah ini, terbiasa melihat kebakaran di sepanjang bentang pegunungan arah timur, utara, sampai barat. Sedih dan khawatir. Ada yang disengaja.

    Pada hakikatnya manusia yang terus berbuat kerusakan di atas bumi ini akan menerima akibatnya sekaligus menimpakan akibat buruk tersebut kepada orang lain yang tidak terlibat.

    BalasHapus
  4. Komplit super lengkap ulasannya yaa.. thanks for sharing kak. Btw, mmg klo mo romantis hrs nunggu hujan yak? Wkwk...

    BalasHapus
  5. Informatif sekali. Langsung atau nggak, ternyata kita banyak ngelakuin hal2 buruk seperti tadi di lingkungan. Semoga banyaj orang yang mulai sadar.

    BalasHapus
  6. Semua sesuai data dan fakta. Dulu begitu teratur.musim hujan dan kemarau. Sekarang, begitu banyak kejutan dari alam padahal mnusia yang menyebabkannya.

    Keren tulisannya, Mbak. Saya pengagum tulisan jurnalis atau mantan jurnalis yang ngeblog. Tulisan yang berbobot. 😍 Good luck.

    BalasHapus
  7. Waaah tulisan yang panjang lebar dan sangat menarik.. mbacanya nggak terasa tau tau udah mau selesai... tulisan yang baguss sekali, makasih banyak sudah memberi saya banyak informasi....isu lingkungan memang harus dimulai dari diri sendiri, semakin banyak yang mau memperbaikinya akan semakin baik.

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.