Menu

Percik Kata Nieke

Senin, 21 September 2020

Wisata Virtual ke Seoul dan Nostalgia Drama Korea

Cerita perjalanan saya ke Seoul dengan virtual tour. Napak tilas lokasi drakor dan mencari asal mula Korean Garlic Bread.


Istana Gyeongbok, Seoul
Saya di istana Gyeongbok, Seoul, 2015. Foto: Nieke.

Akhirnya kembali lagi ke Seoul setelah lima tahun berlalu. Bahagia sekali ketika mendapat kabar dari Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB) bahwa saya terpilih mengikuti virtual tour (wisata virtual) ke Seoul bersama Wisata Kreatif Jakarta dan teman-teman blogger dari Komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB). Yayyy!

Tak sabar saya menanti-nanti tibanya hari Sabtu malam, 19 September 2020. Penasaran, seperti apa tur virtual itu. Apalagi ini pertama kalinya saya ikut tur virtual. 

Seluruh peserta tur berkumpul di bandara grup Whatsapp sebelum keberangkatan ke Seoul secara virtual. Kak Ardan mengirim info iklim Seoul hari itu berikut itinerary. Seluruh peserta antusias. Ada yang bergegas mengambil syal dan jaket musim dingin. Ada yang dandan barangkali ketemu Lee Min-ho. Ada yang makan ramen dulu sebelum keberangkatan. Ada yang mengepak kopernya. 


Iklim Seoul pada 19 September 2020.


Lalu tibalah saat yang dinanti-nantikan. Setengah jam sebelum pukul 19.00, saya telah memasuki ruang tunggu keberangkatan di 'bandara' Zoom melalui link atau tautan yang telah dibagikan di dalam grup Whatsapp. Deg-degan nih. Kak Ira Lathief (@creative_traveler) sebagai pemandu wisata sudah siap di ruang keberangkatan. Saat saya tiba, baru ada beberapa peserta yang berkumpul. Menjelang pukul 19.00 makin banyak peserta yang memasuki ruang pertemuan Zoom.

Kak Ira menginformasikan, penerbangan Jakarta-Seoul makan waktu sekitar tujuh jam. Ada banyak penerbangan langsung tanpa transit dari Jakarta ke Seoul. Sayangnya, harga tiket saat pandemi melejit hingga Rp 4 jutaan sekali pergi, dibanding sebelum Covid-19. 

Di tengah penjelasan Kak Ira soal lama perjalanan Jakarta-Korea, ingatan saya terlempar ke masa silam saat bersiap berangkat ke Seoul. Saya sudah tiba di bandara Soekarno Hatta, Tangerang sejak pukul 16.00 meski penerbangan saya sekitar pukul 21.00. Pertama, tahu sendiri kan Jakarta macetnya tidak terprediksi. Biasanya untuk perjalanan jarak jauh dengan pesawat, saya kerap memilih menunggu lebih awal di bandara Soekarno Hatta yang letaknya di Tangerang ketimbang menemui risiko tetiba macet dan harus ketinggalan pesawat. Kedua, saya juga mengantisipasi adanya kemungkinan mengantri di pemeriksaan imigrasi. 

Tak ayal, saat ini saya membayangkan seolah sedang duduk di boarding room bandara Soekarno Hatta dengan sebuah tas ransel sambil memangku jaket. Sama seperti dulu. Satu koper sudah dimasukkan ke bagasi saat pemeriksaan tiket dan paspor.  Ah ya, saya tipe orang yang ringkas. Bepergian ke luar kota atau negeri hanya bawa satu koper dan sebuah tas ransel. Sambil menanti panggilan pesawat virtual ke Seoul, saya memejamkan mata melamunkan bertemu Song Seungheon dan Won Bin musim gugur seperti adegan dalam Autum in My Heart/Endless Love


Itinerary virtual tour ke Seoul.

Perjalanan tujuh jam saya pada lima tahun lalu adalah sebuah perjalanan solo dengan Korean Air. Saya makan bimbimbap untuk pertama kalinya sebagai makan malam di pesawat, atas saran pramugari yang orang Korea. 

Dalam perjalanan kali ini, cukup minum susu coklat panas sambil mendengarkan cerita Kak Ira soal harga tiket ke Korea yang justru melejit pasca-pandemi Covid-19. Saya memutar lagu-lagu Korea yang selow untuk membangun suasana. Cukup lamat-lamat saja, agar suara Kak Ira tak tenggelam dalam musik. Realisasi perjalanan kali ini tak sampai tujuh jam. Beberapa menit saja, dan tadaaaa... pesawat virtual kami sudah mendarat di Incheon, Korea. 

"Kebanyakan penerbangan ke Seoul penerbangan malam," Kak Ira menjelaskan di ruang Zoom. "Biasanya sampai pukul tujuh pagi di Korea dan kalau ikut tur, langsung jalan karena belum bisa masuk hotel."

Kak Ira menayangkan foto-foto bandara Incheon, Korea Selatan. Duh, jadi sentimental mengingat pertama kalinya menjejakkan kaki di sana. Saya membayangkan pesawat yang mendarat di Incheon, lalu melangkahkan kaki menyusuri bandaranya sambil memanggul ransel dan menenteng jaket. Berjalan sesuai petunjuk arah bandara, mengambil koper, lalu melewati pemeriksaan imigrasi setempat.

Lima tahun lalu saya tak punya kesempatan keliling Incheon, karena harus segera menuju hotel. Jadi saya sekarang cukup senang mendengar cerita Kak Ira soal bandara Incheon yang merupakan salah satu bandara terbaik di seluruh dunia. Survei Global Traveler menyebut Incheon tiga kali menyandang predikat tersebut, yakni pada 2006, 2007, dan 2008. Selain interiornya yang cantik dan nyaman, Incheon cukup memanjakan pengunjungnya dengan berbagai fasilitas dan aktivitas.  Ada tempat meminjam hanbok gratis, tempat mengenal budaya Korea, hingga pertunjukan upacara tradisional.


Tur virtual ke Seoul
Sejumlah peserta virtual tour bersama Komunitas Indonesian
Social Blogpreneur (ISB) dan Wisata Kreatif Jakarta.
Foto: Zoom

Omong-omong, bandara Incheon yang kerap muncul sebagai lokasi syuting drama-drama Korea ini mulai dibangun pada 1992 di atas tanah reklamasi antara Pulau Yeongjong dan Youngyu. Pengerjaannya butuh waktu bertahun-tahun. Bandara Incheon dibuka pada 2001. Bandara ini memiliki banyak persamaan dengan Soekarno Hatta. Letaknya bukan di Seoul, tapi di Incheon. Nah dari Incheon ke Seoul berjarak sekitar satu jam perjalanan. Mirip Soekarno Hatta yang terletak di Tangerang ke pusat kota Jakarta juga kan ya? 

"Dari bandara ke Seoul, kita naik kereta bandara ya," ucap Kak Ira. 

Foto-foto yang ditayangkan Kak Ira cukup detil menggambarkan dari sejak turun pesawat, melalui lorong bandara, menuruni eskalator untuk menuju area kereta bandara. Saya jadi bisa membayangkan sedang menggeret koper mengikuti langkah kaki Kak Ira dari belakang. Ancer-ancer untuk naik kereta bandara, lokasinya dekat dengan bioskop CGV. Yap, ada bioskop di bandara! Oh waw, saya baru tahu kalau CGV itu jaringan bioskop Korea Selatan. Padahal sewaktu tinggal di Jakarta saya hobi nonton di CGV. *tepokjidatsayasendiri* *yamasakjidatnyaLeeMinho,bisadigebukinfandom*

"Nah ini dia, kita sudah lihat CGV-nya," kata Kak Ira sambil menayangkan foto bioskop CGV dalam bandara Incheon. "Jangan lupa siapkan kartu buat naik kereta bandara ya."

Untuk menggunakan kereta bandara, pembayarannya menggunakan kartu lokal semacam e-money yang digunakan di Indonesia. Kartu ini bisa dibeli di bandara. Uniknya, bentuknya sungguh lucu-lucu. Malah ada yang bentuknya seperti gantungan kunci. Realisasi perjalanan Incheon-Seoul satu jam lamanya. Namun dalam waktu cuma lima menit, rombongan virtual tour kami turun di stasiun Seoul. 

Di Stasiun Seoul, kata Kak Ira, terdapat tempat penitipan koper. Bahkan ada jasa pengantaran koper ke tempat hotel menginap, sehingga tak perlu geret-geret barang bawaan. Asyik juga ya. Ini tentu memudahkan pengunjung kalau mau pergi ke tempat lain dulu sebelum menuju hotel. Berhubung rombongan kami adalah tur virtual, Kak Ira langsung mengajak kami ke persinggahan pertama sesuai itinerary ke Seoul.

가자! Let's go!


Dari Kawasan Sejong ke Istana Gyeongbokgung

Perjalanan rombongan tur virtual dari Stasiun Seoul menuju Istana Gyeongbokgung atau Gyengbok, Kak Ira bercerita soal kota Seoul yang populasinya cukup besar. Miriplah dengan Jakarta. Pada jam-jam orang berangkat dan pulang kantor kemacetannya luar biasa. Itu sebabnya, kalau tur beneran di Seoul, rombongan baru berangkat wisata pukul 9 pagi, bukan pukul 7 pagi. Bedanya dengan Jakarta, Seoul dikelilingi bukit dan pegunungan yang bisa terlihat jelas dari pusat kota.  

Di depan istana Gyeongbok persis, terdapat Sejong Square alias kawasan Sejong. Di situ ada monumen patung raja Sejong, raja keempat pada masa dinasti Joseon. Pencipta aksara Hangul ini merupakan anak ketiga dari Raja Taejong. Sebelumnya, rakyat Korea menggunakan aksara Mandarin (Hanzi/Hanja). Lantaran aksara itu terlalu sulit dikuasai rakyat, sementara Raja Sejong ingin meningkatkan kesejahteraan dan pendidikan rakyatnya, maka Sejong pun menciptakan aksara Hangul. Jasanya tak sampai di situ, tapi juga teknologi pertanian, senjata, hingga sastra. 


Sejong Square
Monumen Raja Sejong. Foto: Google Map,
presentasi Kak Ira saat virtual tour.

Ah, jadi teringat ada beberapa drama Korea yang mengisahkan Raja Sejong seperti Splash Splash Love (2015), cuma dua episode langsung tamat lho. Genrenya komedi-romantis, jadi bukan kisah nyata ya meski ada Raja Sejong. Lalu drakor berjudul Deep Rooted Tree (2011) yang lebih banyak mengulas sisi intrik-politik pemerintahan Raja Sejong saat mencipta Hangul. Keduanya drama fiksi berlatar sejarah. 

Depan istana Gyeongbok juga jadi lokasi Park Bo-gum melakukan tantangan tarian sebagai bagian dari janjinya ketika drama Korea Moonlight Drawn by Clouds/Love in the Moonlight mencapai rating tinggi. Masih ada yang ingat joget-jogetnya Park Bo-gum? 

Berikut cuplikan video Park Bo-gum di depan istana Gyeongbokgung:



Kawasan Sejong ini kerap menjadi tempat berkumpul masyarakat, termasuk dijadikan tempat berunjuk rasa. Yap, ada demo juga di negara ginseng. Mirip Jakarta juga ya? Kalau di Jakarta, lokasinya di depan Monumen Nasional (Monas). Tak cuma Indonesia yang mau pindahan Ibu Kota. Korea juga sedang mempersiapkan Ibu Kota baru di sebuah lahan baru yang bakal dinamakan Kota Ekonomi Sejong. "Sudah disiapkan 10 tahun," ujar Kak Ira. 

Di bawah monumen Sejong, kata Kak Ira, ada museumnya. Tapi rombongan wisata virtual kami tak masuk ke sana, langsung ke Istana Gyeongbok. Istana ini satu dari lima istana yang berada di Seoul. Gyeongbok istana terbesar, tempat tinggalnya raja. Namun, kini kawasan istana itu tak lagi dihuni keluarga keturunan raja dan menjadi museum (serta lokasi syuting drama Korea dan film). 

Biaya masuk ke Istana Gyeongbok jika ambil paket yang sekaligus sewa hanbok, menurut Kak Ira, sekitar Rp 200 ribu. Harga tiket masuk biasanya lebih murah pada musim gugur dan dingin, asal tahan hawa dingin. 

Memasuki istana Gyeongbok, rombongan kami berjalan melalui gerbang Gwanghamun. Sejauh mata memandang adalah halaman yang teramat luas. Omong-omong halaman ini muncul di drama Korea Rooftop Prince, Queen In-hyun's Man dan The King 2 Hearts. Di ujung mata pelataran terlihat anak-anak tangga yang menuntun langkah menuju bangunan megah bergaya tradisional. 


Gerbang Gwanghamun di Gyeongbokgung palace, Seoul.
Kiri: Gerbang Gwanghamun. Kanan:pelataran depan istana Gyengbokgung.
Maaf teman-teman, muka saya tutup emoticon demi privasi. Ini foto-foto pribadi
saya saat kunjungan ke Seoul, 2015. (Kredit foto: Nieke)


Berjalan lebih jauh secara virtual, mengikuti langkah-langkah kaki foto Kak Ira, kami menyusuri bangunan-bangunan eksotis tradisional khas kerajaan Korea. Warna-warna bangunannya dominan hijau dan merah, dengan batu-batu yang tersusun rapi sebagai dinding berpadu kayu,  serta pilar-pilar kayu.   

Seperti halnya istana, ada beberapa peruntukan bangunan dalam kompleks. Ada ruang semacam balairung dengan tahta raja, bangunan khusus selir-selir raja, bangunan khusus ratu, dan lain-lain. Jumlah ruangan yang terdapat di seluruh istana diperkirakan mencapai 5 ribu kamar.

Di bawah lantai kamar, terdapat ondol yakni sistem pemanas ruangan tradisional Korea. Berbeda dengan pemanas ruangan seperti yang pernah kita tahu yakni tungku atau perapian, ondol berada di bawah lantai bangunan. Panas hasil dari pembakaran kayu akan dialirkan melalui sekat-sekat bawah lantai. 


Saya diapit kawan-kawan (jurnalis) dari Malaysia (kanan) dan Indonesia (kiri)
saat kunjungan ke istana Gyeongbokgung, Seoul, 2015. Ini di halaman
bagian belakang istananya. (Foto: Nieke)

Istana Gyeongbokgung pernah direnovasi sesuai aslinya karena pernah dihancurkan pada masa invasi Jepang. Sejatinya, istana ini dibangun pada 1394. Luas istananya mencapai sekitar 400 ribu meter persegi. Perjalanan terakhir kemari, saya sampai menggos-menggos saking luasnya. Tapi capeknya hilang lantaran melihat bagusnya pemandangan. Salah satunya, bangunan istana dengan pemandangan danau teratai di depannya. Serasa terlempar ke masa lalu pokoknya, kalau jalan-jalan ke sini.    

  

Romantisnya Sungai Cheonggyechon

Puas jalan-jalan di kawasan istana, rombongan virtual tour Seoul bergerak menuju Sungai Cheonggyechon. Ini adalah sungai yang mengalir di pusat kota Seoul dan sudah ada ratusan tahun. Ini juga sungai yang pernah dikunjungi Presiden Joko Widodo pada lawatannya ke Seoul sekitar September 2018.

Dalam perjalanan menuju ke sana, rombongan kami melihat sebuah monumen tinggi berwarna ungu dan kuning. Monumen itu semacam ancer-ancer menuju sungai Cheongggyechon. Kalau malam, monumen itu terlihat dililiti lampu-lampu yang berkedip-kedip, seperti halnya lampu yang melilit pohon Natal.

 "Monumen ini dikenal dengan christmas tree, walaupun ada terus di sana dan tidak pernah dilepas sepanjang tahun," Kak Ira menuturkan.

Jalan sedikit, tak jauh dari monumen itu, nampak tangga turun ke arah bawah. Itulah jalan menuju sungai Cheonggyechon. Di sana, terlihat sungai jernih yang memanjang. Bantaran sungai terlihat sangat bersih dengan bangku-bangku dan dekorasi-dekorasi. Jika malam, dekorasi lampu-lampu lampion beraneka bentuk akan dinyalakan. Suasananya jadi lebih romantis. Ada juga air mancur dekat situ. Pertunjukan musik oleh musisi jalanan juga kerap digelar di sana. 

"Dulunya kali ini hitam, kotor, dan pernah ditutup menjadi jalan," Kak Ira menjelaskan. 

Awal mulanya adalah bantaran sungai yang menjadi permukiman kumuh. Itu sebabnya kali kemudian ditutup dengan jalan tol sekitar 1950. Pada 1970-an, dibangun lagi jalan layang di atasnya. Ternyata menutup sungai bukanlah solusi terbaik dan justru berdampak terhadap lingkungan. Maka pada 2003 wali kota Seoul Lee Myung-bak berinisiatif membuka kembali sungai itu sekaligus menjadikannya ruang publik. 


Sungai Cheonggyechon di Seoul pada siang hari.
Foto dari Google Map saat presentasi virtual tour Kak Ira.


Keberhasilan wali kota Seoul mentransformasi Sungai Cheonggyechon menjadi inspirasi pemerintah Jakarta mengubah sungai di kawasan Kota Tua, Jakarta. Sungai tersebut juga dibuat dengan desain yang mirip, yakni ada jalan turun ke bawah sungai. Di tengah sungai juga dibuat semacam motif. Namun, sungai di Jakarta ini tak difungsikan sebagai ruang publik.

Omong-omong, sungai Cheonggyechon ini juga jadi langganan lokasi syuting drama Korea lho. Salah satunya, drama Do You Like Brahms. Sungai ini juga terkenal romantis karena sering jadi tempat menyatakan cinta atau menyatakan lamaran.


Menyusuri Rumah Tradisional di Kampung Bukchon (Hanok village)

Kata hanok sebenarnya berarti kampung. Nama kampungnya adalah Bukchon. Ini merupakan permukiman yang bangunan rumah-rumahnya masih tradisional Korea. Tempat ini juga merupakan salah satu tempat yang paling kerap dikunjungi turis-turis. 

Di sekitar Bukchon banyak sekali tempat persewaan hanbok dengan berbagai variasi model. Konon, Bukchon telah ada sejak era dinasti Joseon dan dihuni kaum bangsawan lantaran letaknya yang dekat dengan istana raja. Namun kini sudah banyak yang berubah. Warga yang semula menempati bangunan tersebut banyak yang pindah ke bangunan modern. Jika ingin merasakan suasana perkampungan asli Korea dengan rumah-rumah tradisionalnya, di sekitar sini juga tersedia tempat penginapan.

Bukchon ini juga lokasi syuting drama Koreanya Lee Min-ho lho. Masih ingat drakor Personal Taste yang dia main bareng Son Ye-jin (yang main di Crash Landing on You bareng Hyun Bin)?

Bukchon village. Waktu melihat kawasan ini, otomatis saya 
teringatadegan drakor Personal Taste, deh. Foto dari Google Map
presentasi Kak Ira.

"Yuk, kita berfoto dulu di jalan Hanok ini," kata Kak Ira seraya meminta peserta virtual tour membuka kamera di ruang Zoom. Foto bersama ini mengakhiri jalan-jalan kami di Kampung Bukchon.


Mencari Korean Garlic Cheese Bread di Gangnam 

Kak Ira mengajak kami beralih ke kawasan elit di Seoul: Gangnam. Mendengar nama Gangnam, otomatis saya teringat sebuah lagu yang populer pada 2012.  Otomatis refrain lagunya terngiang-ngiang di telinga. Pun dengan gaya joget seolah naik kuda. Oppa gangnam style, oppa gangnam style.

"Gangnam adalah kawasan tajir semacam Beverly Hills di Los Angeles," ucap Kak Ira.  

Butik-butik merek branded berjejer di jalanan kawasan Gangnam. Sebelah kiri jalan, terlihat butik Swarovski, toko perhiasan yang harganya selangit sementara di lantai duanya digunakan sebagai kedai kopi Starbucks. Kawasan ini mengingatkan saya pada daerah Kemang di Jakarta.

"Kalau belanja di sana harganya bisa ditawar enggak ya?" komentar salah satu peserta tur virtual Seoul.

"Ya coba aja datang ke Swarovski, lalu tawar harga perhiasan yang harganya jutaan, dikasih apa enggak," jawab Kak Ira bergurau. Kami ikut tertawa mendengar candaan Kak Ira.  

Lantaran terkenal sebagai kawasan mentereng inilah, Psy--yang berada di bawah naungan YG Entertainment kemudian mengangkatnya menjadi lagu bertajuk Gangnam Style. Lirik Gangnam Style sebenarnya merupakan sindiran terhadap orang-orang yang bergaya Gangnam agar disebut kaum borjuis. 

"Aslinya sih, orang kaya Gangnam justru bergaya biasa-biasa saja," ucap Kak Ira.

Lagu Gangnam Style ini menjadi hits di 2012. Gaya tarian Psy itu kemudian populer bahkan digemari tokoh-tokoh penting dunia salah satunya Presiden Amerika pada masa itu, Barrack Obama. 

Omong-omong, Gangnam ini juga terkenal lantara banyak klinik-klinik kecantikan di sana, termasuk tempat operasi plastik. Masih ingat dengan drakor berjudul Gangnam Beauty atau My ID is Gangnam Beauty yang dimainkan Cha Eun-woo dan Im So-hyang? Drakor itu mengangkat cerita tentang seseorang yang melakukan operasi plastik. Nah istilah Gangnam Beauty itu adalah istilah yang biasanya disematkan kepada orang-orang yang menjalani operasi plastik. 

Ada apa lagi ya di Gangnam? Coba tebak. Petunjuknya berkaitan dengan sesuatu dari Korea yang sedang viral di linimasa media sosial belakangan ini. Butuh petunjuk kedua? Sesuatu itu adalah makanan. Yap, Korean Garlic Cheese Bread. Ternyataaa... menurut Kak Ira, makanan yang sedang populer ini asal mulanya dari sebuah toko di stasiun Gangnam. 

Foto jalanan Gangnam yang diarahkan menuju ke stasiun Gangnam membuat saya berimajinasi, Kak Ira tengah bergegas jalan ke arah toko Korean Garlic Bread di stasiun Gangnam tersebut. Saya membayangkan diri sendiri sedang berlari-lari menyusul langkahnya, hingga kami berhenti di depan toko. Di sana, terlihat seorang penjual sedang memperlihatkan cara membuat roti tersebut. Roti tersebut dipotong bagian atasnya sama rata menjadi enam bagian. Bagian tengahnya diisi krim, keju, dan bawang putih. Video pembuatan Korean Garlic Cheese Bread yang diputar Kak Ira sukses membuat saya lapar mata dan perut. 

"Dari sinilah awal mula terkenalnya Korean Garlic Bread. Karena terkenal lalu banyak yang mengikuti dan ada yang buka juga di kawasan Myeongdong," tutur Kak Ira.

Di Gangnam, kami juga berkunjung ke K-Star Road. Ini semacam Hall of Fame yang berada di Los Angeles, sepanjang jalan terdapat memorabilia artis-artis. Apabila Hall of Fame berbentuk bintang di lantai trotoar, memorabilia artis di K-Star Road berupa monumen boneka beruang yang terdapat tanda tangan sang artis di tubuhnya. Di sepanjang trotoar, saya melihat garis warna merah, putih, dan biru pada bagian pinggir yang dekat dengan aspal. Itu menjadi penanda kawasan K-Star Road.

Sebenarnya hendak mencari memorabilia oppa-oppa yang menjadi bias saya, tapi niat saya urungkan. Sambil membayangkan diri mengunyah garlic bread yang dibeli di toko barusan, rombongan tur virtual kembali bergerak.


Mengintip Toko Oleh-oleh Khas Korea di Dongdaemun 

Biarpun ini wisata virtual, Kak Ira mengajak kami main-main di Dongdaemun, destinasi belanja yang jadi favorit para turis. Mal yang biasanya dikunjungi adalah Doota Mal dan Shila Seoul. Keduanya merupakan duty free shop, yakni toko yang menjual barang-barang bebas pajak. Kedua mal ini kerap dikunjungi wisatawan asal Indonesia. Bahkan, pemilik toko suvernir dan pegawainya telah membekali diri dengan bahasa Indonesia untuk menyapa dan memberi tahu pengunjung soal harga dan barang-barang menariknya.

Barang yang bisa dibeli macam-macam. Mulai dari suvenir dan pernak-pernik artis, gantungan kunci, hanbok, boneka, sampai makanan-makanan khasnya. Biasanya camilan yang sedang populer di Korea dan pernah tampil di drakor juga dijual di pusat oleh-olehnya. 


Indahnya Katedral di Myeongdong

Myeongdong juga merupakan destinasi belanja favorit turis selain Dongdaemun. Sepanjang jalan-jalan di kawasan Myeongdong, kiri dan kanan berjejer butik kosmetik, pakaian, restoran. Kalau malam, semacam pedagang kaki limanya memenuhi sisi kiri dan kanan jalan. Namun jangan bayangkan pedagang kaki limanya seperti di Indonesia. Di sini bentuknya seperti stan-stan.

Hal yang saya baru tahu adalah ternyata di kawasan Myeongdong terdapat gereja katedral dengan bangunan bergaya Eropa yang sangat indah. Menurut Kak Ira, cukup banyak warga Korea yang menganut agama Nasrani baik Kristen maupun Katolik. Katedral sendiri merupakan tempat ibadah agama Katolik.


Bagian dalam gereja Katolik katedral di Myeongdong.
Foto dari Google Map presentasi Kak Ira saat virtual tour.


Bangunan yang merupakan salah satu cagar budaya Korea itu menjulang tinggi hingga 45 meter. Terdapat jam dinding di bagian menaranya. Gedung itu berwarna dominan merah bata agak kecoklatan, dikelilingi bangunan-bangunan bergaya modern di sekitarnya. 

Lima tahun lalu, saya keluyuran di Myeongdong tapi tidak tahu kalau di sini ada bangunan gereja. Saya pikir hanya toko-toko saja. Mungkin juga karena saya ke sana pada malam hari dan tanpa pemandu wisata. Hanya bersama beberapa teman yang juga baru saya kenal lantaran menghadiri sebuah acara yang sama di pusat kota Seoul.

Saya cukup terkesan dengan kawasan Myeongdong lantaran jalan-jalan di situ sangat bersih meski bertebaran semacam pedagang kaki limanya. Kalau jalan kaki pada malam hari dan pada musim semi, pastikan memakai jaket tebal lantaran suhu di malam hari bisa di bawah 15 derajat. Kalau tidak, apalagi kalau tidak tahan hawa dingin, bisa menggigil. 


Saya saat keluyuran di Myeongdong, bersama 
kawan (jurnalis) dari Singapura dan Indonesia, 2015.
Jalanannya bersih banget. Kredit foto: Nieke. 


Pecinta kosmetik Korea pasti senang berada di sana. Toko Etude, Nature Republic, Saem, dan merek-merek lainnya bertaburan dan mudah ditemukan. Biasanya toko-toko ini memberi banyak diskon. Yang jelas, kalau beneran ke sini, jangan lupa borong masker wajah ya. 

Kalau masuk toko, pegawainya pasti menyambut dengan salam, "Annyeonghaseyo." Biarpun hanya window shopping, ketika kita keluar toko mereka juga mengucap salam, "Gamsahamnida." Di Myeongdong juga merupakan surga kuliner khas Korea. Banyak makanan-makanan unik yang menggugah selera. 


Menara Seoul di Namsan

Menara Seoul yang juga disebut Menara Namsan ini merupakan ikon kota Seoul yang kerap muncul dalam drama-drama dan film Korea. Masih ingat enggak, adegan dalam Boys Before Flower, saat Lee Min-ho dan Go Hye-sun terperangkap di dalam lift? Nah itu lokasi syutingnya di Menara Seoul. Juga, drakor What's Wrong with Secretary Kim, waktu Park Seo-joon dan Park Min-young sedang kencan. Letaknya di bukit Namsan, perjalanan dari pusat kota makan waktu sekitar satu jam. 


Namsan Tower, Seoul
Gembok-gembok yang terpasang di dinding pagar,
bagian bawah menara Namsan, Seoul. Foto dari
Google Map presentasi virtual tour Kak Ira.


Di sini, orang yang datang berpasangan biasanya  memasang gembok-gembok pada dinding-dinding pinggir bagian bawah menara, sebagai memorabilia hubungan cinta mereka. Sejatinya menara Seoul adalah menara radio, serupa menara Eiffel. Di puncak menaranya terdapat tempat observasi dengan teropong-teropong. Pemandangannya sangat indah dari atas menara. Pengunjung bisa memandang kota Seoul.


Hutan Pinus di Pulau Nami

Usai dari Namsan Tower, Kak Ira mengajak kami main agak jauhan: Pulau Nami. Rombongan virtual kami naik kereta yang disambung dengan kapal ferry. Di dunia nyata sih, perjalanan dengan kereta makan waktu dua jam, dengan ferry 15 menit. Berhubung ini virtual tour dalam lima menit sudah sampai. Wow, magic!

Kalau berkesempatan berkunjung ke tempat ini beneran, mendingan datang lebih pagi supaya bisa leluasa foto-foto. Kalau tidak, ya terpaksa ada photo bomb deh di belakang kita yang sudah bergaya kece. Biasanya jam paling ramai pengunjung itu sekitar pukul 12 siang. 

Pulau Nami terkenal sejak menjadi lokasi syuting Winter Sonata, yang diperankan Bae Young-Jun dan Choi Ji-woo. Winter Sonata ini termasuk drama Korea populer di era 2000. Drakor ini juga digemari di Indonesia sampai diputar di salah satu stasiun televisi swasta. Di sana ada patung kedua tokoh yang diperankan Bae Young-jun dan Choi Ji-woo. Patung ini menjadi salah satu ikon pulau Nami.


Patung Winter Sonata di Nami Island.
Patung Winter Sonata di Pulau Nami. Langsung nostalgia
adegan paling mengharukan di drakor itu. Foto dari Google Map 
presentasi virtual tour Kak Ira.

Pulau Nami sebenarnya diberi nama berdasarkan nama pahlawan Korea Selatan yakni Jenderal Nami. Pulau seluas sekitar 450 ribu meter persegi ini mempunyai keindahan panorama pohon-pohonnya, salah satunya pinus. Pada musim panas, warna dedaunannya hijau. Pada musim gugur, berubah menjadi kuning kecoklatan. Kemudian pada musim dingin, pohon-pohon diselimuti salju. 

Nami menjadi persinggahan terakhir rombongan wisata virtual Seoul sebelum kembali ke realita, rumah masing-masing. Ternyata seru juga ya, mengikuti virtual tour ke Seoul. Ohya, Wisata Kreatif Jakarta juga menyelenggarakan tur virtual ke tempat-tempat menarik lainnya, baik dalam negeri maupun mancanegara. Intip saja di akun Instagramnya: @wisatakreatifjakarta. 

"Semoga kita bisa liburan bersama ke Seoul beneran ya," kata Kak Ira.

네 ~  감사 합니다.  

Nieke Indrietta

Tulisan saya soal drakor dan film Korea bisa dibaca di sini.

Tulisan saya soal traveling bisa dibaca di sini

18 komentar:

  1. Menarik pengalaman Travelling ke Korsel. Berarti sudah 2 kali ya, satu yang nyata, satu lagi virtual. Walau virtual, ada value tersendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, betul. Walau virtual, ada pengalaman unik tersendiri. Apalagi kita sedang PSBB seperti sekarang ini. Cukup buat refreshing.

      Hapus
  2. Park Bo Gum itu menggemaskan waktu joget di depan istana. Saya suka drakornya. Seru dan bikin haru. Tapi saya gemas dengan pengawal pribadi sang putra mahkota. Lebih macho dengan pedang terhunus dan gaya berantemnya yang khas pendekar.

    Asyik banget bisa wisata virtual ke Korea. Jadi tahu sisi lain suatu kota, ya. Untuk persiapan jika akan ke sana. Atau hiburan karena tidak bias ke mana-mana dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi. Yang dimaksud pasti pengawalnya pangeran Lee Young (Park Bo Gum). Namanya Kim Byung-yeon yang diperankan Kwak Dong-yeon. Rambutnya gondrong dan jago bela diri. Ganteng emang. Dia main juga di drakor Gangnam Beauty, lagi-lagi jadi second lead male.

      Hapus
  3. Mbak Ira detail banget ya, bikin yang ikut tur jadi semangat. Asyiknya, yang sudah pernah ke sana bisa nostalgia.😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lumayan buat hiburan ketika lagi PSBB dan enggak bisa liburan ke mana-mana. :D

      Hapus
  4. Wah seru banget ini virtual tournya ya, pengen banget ke hanok village trus belanja di gangnam lumayan lengkap nih yang dikunjungi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau belanja lebih mending ke Myeongdong atau Dongdaemun, Kak. Kecuali memang berniat belanja barang-barang branded baru ke Gangnam. Harga sekelas kalau kita ke butik-butik di Plasa Senayan, Grand Indonesia, atau Plasa Indonesia. Mihil :D

      Hapus
  5. wah ikutan acara virtual tour seru juga ya kayaknya sekalian mengingat memori kita waktu ke sana, jadi tambah kangen jalan-jalan ini mah mba heheeh, duh bahas garlic bread itu jadi laper pengen makan garlic breadnya enak banget, salah satu bread kesukaanku mba hehehe, btw kalau saya ingin gabung ke ISB gimana caranya ya mba?

    BalasHapus
  6. Waah rupanya sudah pernah jalan jalan ke Korea.. pantesan dari tulisannya seperti tahu banget tentang negara Korea ini.. selain memang fans berat, sudah mengalami sendiri melihat keindahan di sana..

    BalasHapus
  7. Pas lihat tampilan Istana Gyeongbokgung jadi keinget K-Drama Rooftop Prince deh hehe... seneng banget yaa Mba Nieke wisata virtual tour ke Korsel nyaa

    BalasHapus
  8. Whoaaa, asik niih
    Buat penggemar oppa dan ahjussi, hiburan banget dah ikutan virtual tour ini :D
    Mayan kan, buat Persiapan :D

    Mba Nieke keren deh, udah pernah ubek2 KorSel heheheheh

    BalasHapus
  9. Wah keren nih acaranya, virtual tour ke Korea, bisa mengenal Korea lebih detil lagi sebelum berangkat ke sana beneran, hehehe. Lumayan kan kita jadi tahu tempat2 wisata di sana. Keindahan alamnya juga bagus ya mbak di korea

    BalasHapus
  10. Waaah seru-seru Mba 😁 awal bacanya sampe penasaran gimana yah wisata virtual itu, ternyata asik juga yah 😁😂 cocok banget buat orang-orang yang gak bisa traveling seperti sayah 😁😅

    BalasHapus
  11. Wah Serunya bisa jalan-jalan ke korea, mbak. Sebagai penggemar kdrama diriku jadi iri nih. Hihi.

    BalasHapus
  12. Wahh senangnya bisa wisata virtual ke korea...
    Meski virtual bisa sangat menyenangkan ya mbak

    BalasHapus
  13. wah seru ya tur kemarin mbak. anyway park bo gum lucu bgt sih, aku belum nonton drma dia yg itu baru reply 1988 aja kocak bgt sm record of youth yg msh on going

    BalasHapus
  14. Bicara tentang Korea selalu memikat hati ya kak. Apalagi langsung bisa melihat, merasakan dan menyentuh alam di sana. Semakin baper deh, senangnya bisa mengingat lagi meski lewat wisata virtual.

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.