Menu

Percik Kata Nieke

Jumat, 07 Februari 2020

Rumah Boedi: Restoran Dekat Borobudur dengan Suasana Ubud

Kalau mau mencari restoran unik dengan suasana alami dengan suasana pedesaan, cobalah singgah ke Rumah Boedi di Kecamatan Borobudur, Magelang. Hampir dua jam dari Yogyakarta. Menu makanan enak, suasananya seperti di Ubud, Bali. 

Rumah Boedi Private Residences, Borobudur, Magelang. Foto: @katanieke

Pagi itu, kala saya sedang liburan di rumah Nenek saya di Jogja, sepupu memberitahu kalau kami sekeluarga besar akan makan siang bersama di sebuah restoran di daerah dekat Candi Borobudur.

"Perjalanannya agak jauh, lebih baik sarapan pagi di rumah dulu," ia memberi saran.

Saya menengok jam dinding. Masih pukul sembilan pagi. Rencananya kami akan berangkat sekitar pukul sepuluh pagi. Saya buru-buru memesan lotek untuk sarapan pagi. Pengganjal perut agar sepanjang perjalanan perut tidak dangdutan. Apalagi mengetahui letaknya di daerah dekat Candi Borobudur. Itu sih sudah masuk kabupaten Magelang.

Jadi teringat pengalaman semasa mahasiswa, saya pernah mengendarai motor bersama teman-teman ke Candi Borobudur. Pagi berangkat. Siang sampai dan langsung motret Candi Borobudur beserta lomba atraksi barongsai. Sore langsung balik lagi ke Yogyakarta. Bonek banget ya. Hahaha.

Pukul sembilan pagi, para sepupu yang berasal dari Jakarta dan Palembang masih ogah-ogahan bangun. "Daerah Borobudur itu lumayan jauh lho. Buruan mandi dan makan apa gitu, buat ganjal perut," kata saya.

"Lah, nanti juga bakal makan kan di sana."

"Yeee... jaraknya jauh itu. Bisa dua jam, apalagi kalau macet," ujar saya.

Sekitar pukul sepuluh pagi, Mas Seto--sepupu saya yang asli Jogja, rumahnya memang tidak jauh dari rumah Nenek yang saya huni ini kemudian tiba. Kami menggunakan dua mobil, satu mobil Nenek dan satu mobil sepupu.

Rumah Boedi berada di dekat candi Borobudur, Magelang.
Perjalanan menuju ke Rumah Boedi yang berlokasi di Magelang,
kecamatan Borobudur. Foto pribadi @katanieke
Saat itu bulan Desember 2019. Bulan musim liburan dan masa puncaknya orang bepergian. Kami telah memperkirakan jalan menuju Borobudur pasti macet-cet-cet. Jadi kami menghindari Jalan Magelang untuk menuju ke sana. Saya enggak hapal persis, tapi sepupu saya yang memegang kendali setir mobil mengarahkan rute melewati jalan pedesaan. Pemandangan sawah padi yang menghampar, rumah-rumah gubug petani, dan gunung menjadi santapan mata yang menyehatkan. Apalagi sepupu-sepupu saya ini anak Ibu Kota yang biasanya hanya melihat rimba beton dan pencakar langit.
Baca juga: Wisata Jogja: Heha Sky View di Atas Bukit yang Romantis dan Instagramable
Sepanjang perjalanan, kami menghabiskan waktu dengan membahas film terbaru seperti Star Wars. hingga mendengarkan lagu-lagu yang lagi hip seperti Billie Eilish. Jalanan yang kami pilih untuk dilalui sama sekali tidak macet. Malah lancar-car-car. Mungkin karena kami memilih jalur alternatif, plus sepupu saya yang memang warga Jogja yang menyetir. Ya otomatis dia menguasai area kan ya. Benarlah perkiraan saya, sepupu saya yang tadi memilih tidak sarapan mulai merasa cacing-cacing dalam perutnya meronta-ronta.

"Ini masih jauh?" tanyanya.

Untunglah ada toko kelontong di pinggir jalan. Sebuah rumah sederhana yang ada warung di bagian depannya. Tak ada minimarket apapun sepanjang yang kami lintasi. Maka camilan yang dibeli pun seadanya. Kami kemudian melanjutkan perjalanan. Kurang dari dua jam, kami memasuki sebuah rumah dengan pagar tembok dari bebatuan. Pada bagian depan terdapat pelang nama bertuliskan Rumah Boedi.

Suasana restoran Rumah Boedi di Borobudur, Magelang. Serasa di pedesaan ya.
Belum lagi musik latarnya gamelan Bali, serasa di Ubud nih. Foto: @katanieke
Mas Seto--sepupu saya memarkir mobil, diikuti mobil satunya yang disetiri sepupu saya lainnya. "Wah untung tadi lewat jalan pedesaan, kita cepat sampainya!" ucapnya.

Suasana taman di samping pendopo
restoran Rumah Boedi, Borobudur,
Magelang. Asri ya!
Foto @katanieke
Di halaman parkir terdapat pendopo yang luas bertuliskan Rumah Boedi. Di sampingnya, terdapat pagar gapura persis seperti bangunan rumah-rumah di Bali. Apalagi ini rumah eh restonya dengan suasana pedesaan seperti ini. Kaki saya segera melangkah memasuki pintu gapura. Terdengar suara gemericik air. Ternyata di balik tembok terdapat kolam mungil dengan air mancurnya.

Di seberang kolam kecil itu terdapat pendopo besar yang berfungsi seperti lobi dengan sofa-sofa, piano, dan barang-barang antik sebagai hiasan.

"Tempat yang kita booking di sana," kata Mbak Dyah, sepupu saya yang berjalan di depan saya sambil menunjuk ke sebuah bangunan pendopo lain.

Saya mengikuti jalan setapak dan kembali melewati pagar tembok yang tingginya setengah meter. Setelah melalui pagar tembok itu, tampak sebuah halaman rumput yang sangat hijau dengan pendopo di kanan. Sementara di bagian kiri tampak kursi-kursi dan meja kayu yang ditata, kolam air mancur, dan di ujung tampak sebuah rumah kamar. Sayup-sayup terdengar musik latar gamelan Bali.

Mendadak saya merasa di Ubud. Suasana pedesaan, udara segar, dan musiknya. Eksotis!

Di pendopo, meja dan kursi telah ditata seperti di sebuah restoran hotel. Sendok garpu, piring, gelas, serta serbet di tiap tempat duduk. Ada beberapa meja di situ, karena kami memang memesan untuk 20 orang. Keluarga besar, harap maklum. Padahal ini baru sekian jumlah dari keluarga besar saya lho. 
Baca juga: Wisata 1 Hari di Jogja: Negeri Atas Awan Mangunan (+Itinerary)
Pak Boedi sendiri yang menyambut kami datang dan menyebutkan menu-menu spesialnya. Sambil menanti menu datang, saya, sepupu, dan tante foto-foto dong di halamannya yang indah itu. Omong-omong, gaun merah yang saya kenakan ini adalah baju ramah lingkungan, terbuat dari bahan yang meminimalisasi dampak terhadap lingkungan hidup. Kamu bisa cek Instagramnya @yusiclovic. Ini brand lokal Surabaya.

Ada beberapa pendopo di Rumah Boedi, Borobudur, Magelang. Malah ada
yang pernah digunakanuntuk pesta pernikahan. Ada penginapannya juga.
Cocok buat kamu yang mencari tempat yang tenang. Foto @katanieke

Soal makanan, tidak mengecewakan. Porsi dan harganya sesuai. Ohya kamu mesti menjajal pisang gorengnya. Enak dan lumer di mulut. Ada rasa madunya yang lembut. Tidak eneg. Ada beberapa camilan yang kami pesan sambil menunggu hidangan utama datang: kentang goreng, pisang goreng madu, dan satu lagi saya lupa namanya. Tapi bentuknya bulat-bulat dengan bumbu mayonaise. Itu seperti di foto. Semua camilannya enak!






Nasi Ayam Rempah Daun Jeruk. Suer, ini ueeenaaak, gaes!
Foto @katanieke

Untuk menu makan siang, saya memesan nasi ayam rempah daun jeruk. Penampakannya seperti foto di atas. Porsinya sangat mengenyangkan. Ohya, menunya enak-enak kok. Misalnya nasi rendang dengan nangka muda, nasi daging suwir nyelekit, nasi bebek renyah, nasi bandeng sambal matah, nasi nila sambal matah, nasi goreng Jawa, mie/bihun goreng Kampung, mie godhog Jawa, tahu bakso ala Titaufani. Harganya antara Rp 35 ribu- 55 ribu per porsi.


Rumah Boedi juga ada penginapannya. Bentuknya seperti vila-vila kecil yang berderet-deret seperti rumah-rumah di pedesaan Bali. Nah kalau kamu tertarik untuk singgah makan atau bahkan menginap di sini, pastikan pesan tempat (booking) terlebih dulu. Rekomendasi banget ke sini.

Saya paling suka tempat yang menonjolkan kearifan lokal dan keindahan alami alam. Rumah Boedi ini salah satu yang terbaik. Saya ingin kembali lagi ke sini untuk liburan berikutnya. Coba kalau semua bisnis pariwisata memperhatikan hal-hal mendetil seperti ini. Alangkah menyenangkannya. Berlibur sambil menikmati keindahan ragam alam. Balik-balik bisa bikin semacam buku Eat, Pray, Love. Hahahaha. 
Baca juga: Mari Kita Cerita tentang Keanekaragaman Hayati
Rumah Boedi Private Residences
Alamat: Tingal Wetan, Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah
Telepon: (0293) 788773

Titaufani Restoran, Rumah Boedi, Borobudur Magelang. Kata Nieke
Ada beberapa pendopo resto di Rumah Boedi. Pengunjung
bisa pesan satu pendopo untuk acara keluarga seperti saya.
Foto @katanieke

Tulisan saya lainnya soal traveling dan kuliner klik di sini ya.

Salam hangat,
Nieke Indrietta

Ketemu yuk di Instagram untuk memperoleh kabar tulisan-tulisan saya yang terbaru: @katanieke_blog

2 komentar:

  1. Wahhh menarik nih. Lumayan bisa buat kegiatan kantor kayak rapat. Apalagi kolega kantorku hobi makan pisang goreng semua. Pasti ludes nanti pisang goreng madunya.
    Later bakal ku coba jajal kesini ah, gak jauh juga dari Jogja, itung-itung jalan2 ke Magelang ye kan

    BalasHapus
  2. Kunjungan perdana ke blog ini. Topiknya tentang Yogya rasa Bali ya. Jangan-jangan owner-nya orang Bali yang berdomisili di Yogya. Suasananya sejuk, sepertinya jauh dari perkotaan. Dulu saya pernah ke Bali yang paling diingat itu Trunyan, mayat yang tidak dikubur tapi tidak bau karena diserap pohon khusus.

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.