Menu

Percik Kata Nieke

Jumat, 14 Desember 2018

Bisnis Era Digital: Berdarah-darah Dahulu, Bersenang-senang Kemudian


Ilustrasi belanja daring atau online. Foto: @katanieke
Tak mudah untuk mengawali sesuatu. "Awalnya berdarah-darah," ucap Diah Arfianti, pendiri dan pemilik usaha bisnis kue kering rumahan (UMKM) berlabel Diah Cookies. Ceritanya pada acara Facebook Laju Digital Surabaya yang diadakan di Hotel Vasa, awal November 2018, sungguh menginspirasi.


Ia banting stir dari usaha nasi kotak menjadi total bisnis kue kering. "Saya ingin mengubah image kue nastar hanya untuk Lebaran menjadi kue yang bisa dimakan setiap hari," tuturnya di atas panggung, Hotel Vasa Surabaya, Rabu 7 November 2018.

Awalnya benar-benar tak mudah. Diah memulai usahanya di rumahnya, Jalan Ketandan Baru II, Surabaya. Ia mengerjakan semuanya seorang diri. Ungkapan 'berdarah-darah', kata Diah, bukan cuma untuk menggambarkan pekerjaan yang harus dilakoninya sendirian. Tapi juga badai yang dihadapi keluarganya ketika suaminya terkena Pemutusan Hubungan Kerja, menghadapi seretnya penjualan, dan ucapan nyinyir soal dagangannya.

"Orang nyinyir soal kue nastar yang identik dengan Lebaran, hanya musiman," Diah berujar.  

Diah Arfianti, pemilik Diah Cookies saat membagi kisahnya
di atas panggung.. Foto: @katanieke
Menghadapi nyinyiran orang soal pilihannya jual kue kering, Diah tak putus asa. Ibu rumah tangga ini rajin mengikuti pelatihan-pelatihan soal UMKM yang diadakan pemerintah kota. Untuk branding atau aktivitas pemerekan, Diah menghapus unggahan foto selain kue kering di media sosialnya. Seperti foto nasi kotak yang pernah ia jual.

"Saya berusaha agar orang melihat saya itu seperti melihat kue nastar," katanya.

Diah konsisten mengunggah foto kue kering dagangannya. Tiap ada pembeli kue nastar terutama di luar masa Lebaran, foto dan testimoni konsumennya diunggah di media sosial seperti Facebook dan Instagram.

Ketekunannya perlahan-lahan mulai membuahkan hasil. Apalagi sejak Diah beriklan di Facebook dan Instagram. Dari cuma 50 toples offline atau non-daring, sekarang malah bisa 19.000 toples secara daring di dunia maya. Kini, Diah yang semula hanya memasak kue kering sendiri malah bisa mempekerjakan tetangga-tetangganya. Tak heran jika pada 2016, Diah kemudian didapuk menjadi Pahlawan Ekonomi Surabaya.

"Dulu saya hanya berpikir ini hanya bisnis pribadi. Sekarang malah bisa bantu tetangga," ujarnya sumringah.

Tiga pelaku usaha asal Surabaya memberi testimoni ketika memulai bisnis di era digital.
 Kiri ke kanan: Jangkar Bawono, Fenny Angela, dan Albert Santosa. Foto: @katanieke
Kisah Diah tak jauh berbeda dengan ketiga pelaku usaha Surabaya lainnya yang juga memberi testimoni di acara yang sama. Mereka adalah Jangkar Bawono pendiri dan pemilik bisnis sepatu kulit berlabel Port Blue Shoes, Fenny Angela pemilik bisnis Aeroculata Jewelry yang menjual perhiasan seperti emas dan perak, dan Albert Santosa pemilik Crystalline Boutique, toko pakaian perempuan. 

Berbeda dengan Diah Arfianti yang membagi kisahnya di atas panggung sendirian, ketiga tokoh ini tampil bertiga di atas panggung dengan seorang moderator. Mereka pun mengalami yang namanya 'berdarah-berdarah'.

"Saya pernah nyaris ingin menutup usaha saya pada saat memulainya," kata Jangkar. Ucapan Jangkar disambut anggukan dari Fenny dan Albert.  "Nggak bisa instan," Jangkar menambahkan. Upaya Jangkar tak sia-sia. Coba intip akun Instagram @portblueshoes. Pelanggannya tak cuma Indonesia, tapi juga warga dunia.

Fenny memulai usahanya saat masih menjadi mahasiswa. Ia memilih bidang perhiasan lantaran usaha itu masih jarang di Instagram pada masa itu. Meski nyaris menutup bisnisnya, toh Fenny berusaha meneruskan. 

Melalui Instagram, aktivitas pemerekan atau branding, Fenny lakukan dengan cara mengunggah video pembuatan perhiasan di Instagram. Sebab, perhiasan sesuatu yang tak umum diperjualbelikan di online. Biasanya orang membelinya langsung di toko lantaran ingin menyentuh dan memeriksa perhiasan itu sebelum membelinya. 

Lantaran itulah, "Saya branding dengan cara menunjukkan bagaimana proses pembuatan perhiasan," Fenny menuturkan. Ia juga memberikan jaminan seumur hidup kepada konsumennya.

Albert memulai bisnis pakaian perempuan dengan toko di sebuah pusat perbelanjaan di Surabaya. Sebenarnya tokonya ramai dan memiliki pelanggan tetap. Namun, menurut dia, jumlah konsumen di toko fisik itu peningkatannya tak banyak. Sempat menimbang-nimbang membuka toko daring di dunia maya, Albert membulatkan tekadnya meluncurkan lapak www.crystalline.id. 

"Bayi aja waktu lahir berdarah," ucapnya. Senada dengan Jangkar, ia mengucap hal yang sama kala berkenalan dengan dunia digital. "Nggak bisa instan."

Memulai bisnis di dunia daring membuat Albert belajar banyak hal baru. Misalnya menghadapi komentar-komentar negatif konsumen yang dilontarkan di lapak dunia mayanya. Albert mengaku justru tak menghapus komentar negatif konsumen. Alasannya, ujar dia, konsumen umumnya lebih melihat komentar atau review negatif ketimbang pujian.

"Saya belajar bagaimana memberi jawaban atas komentar negatif itu," katanya. Respon atas hal negatif itulah yang menurutnya justru bisa meningkatkan kepercayaan konsumen. Kini ketiga pelaku usaha Surabaya ini sudah menjalani bisnisnya sekitar 10 tahun. 

*

Dunia digital memang terlihat gurih. Pengguna Facebook dan Instagram saja mencapai sekitar 115 juta akun. Itu baru dari dua media sosial saja, belum media sosial yang lain. Jangan lupa, jumlah penduduk Indonesia mencapai lebih dari 250 juta orang. Mengutip data analisis Ernst&Young, pertumbuhan nilai penjualan bisnis online atau daring nasional meningkat 40 persen. Sementara sebanyak 93,4 juta pengguna internet dan 71 juta pengguna ponsel pintar di Indonesia. 

Pertumbuhan bisnis daring tentu akan memberi manfaat positif bagi warga Indonesia, di antaranya pertumbuhan lapangan kerja dan kesejahteraan. Di level UMKM misalnya. Seperti kisah Diah Arfianti, ia bisa membuka lapangan kerja buat para tetangganya. Namun, untuk mendorong pertumbuhan bisnis online ini mesti diikuti dengan sejumlah regulasi lainnya yang mendukung seperti pendanaan, pajak, perlindungan konsumen, infrastruktur komunikasi, dan edukasi terhadap sumber daya manusia. 

Edukasi bisa berbentuk pelatihan-pelatihan untuk UMKM, terutama berhadapan dengan teknologi dan gawai ponsel pintar, agar bisa menjual dagangannya di dunia daring. Soalnya, tak sedikit pelaku usaha daerah yang masih gagap teknologi. Pelatihan-pelatihan inilah yang akan membantu usaha dari level rumah bisa mendunia seperti testimoni Diah Arfianti, Jangkar Bawono, Fenny Angela, dan Albert Santosa.

Nieke Indrietta

#Ekonomidigital #Ecodigi