Menu

Percik Kata Nieke

Jumat, 22 Januari 2010

Cantik


[Cerita pendek ini pernah dimuat di Jawa Pos, 18 Juni 2002. Pemenang utama lomba menulis cerpen Deteksi Grand Prix yang diadakan Jawa Pos]

-- "Aku nggak sanggup menjadi cantik seperti yang kamu inginkan" --




Diva membaca sekali lagi formulir pemilihan putri sampul yang telah ia gunting dari majalah perempuan. Ukuran dada, perut, pinggul, dan hmm... Ia telah melakukan diet ketat selama sebulan terakhir ini, rajin memakai kosmetik pemutih dan creambath di salon secara teratur.

Formulir itu telah terisi, siap dikirim bersama foto-foto terbaiknya.

Diva beranjak dari ranjang, mematut-matut dirinya di depan cermin. Berat badannya 50 kg, tingginya 160, belum cukup ideal menurutnya. Ia harus menurunkannya lagi. Perutnya agak endut. Berarti mesti beli teh yang bisa melangsingkan perut itu.

Banyak hal yang harus dilakukannya. Pertama...

Rambut Diva hitam tebal, bergelombang. Yang disukai laki-laki adalah perempuan berambut lurus.

Warna kulitnya kuning langsat. Perempuan cantik itu berkulit putih.

Kulit wajahnya berminyak dan ada beberapa jerawat nungging di hidungnya. Perempuan yang menarik itu kulit wajahnya mulus, seperti para bintang film.

Ukuran bra-nya 32A. Bentuk yang disukai pasti lebih besar, sebagaimana film-film dan iklan menggambarkannya.

Tubuhnya lurus, bahunya bidang karena ia suka renang. Perempuan yang dianggap indah bentuk tubuhnya berlekuk bak gitar, seperti Jennifer Lopez. Dengan tubuh yang langsing, bahu mungil, kaki kecil atau paling tidak tubuh yang padat berisi, berleher jenjang. Feminin.

Semua ciri yang selalu didambakan laki-laki manapun, termasuk Riki, kekasihnya. Semua ini dilakukannya untuk merebut hati Riki. Untuk menyenangkan hatinya.

Diva kadang merasa capek mendengar komentar-komentar Riki tentang perempuan cantik.

Misalnya ini, "Cewek itu cakep, sayang, mukanya jerawatan." Atau ini, "Uh, manis-manis tapi kok item yah?" atau "Nah, ini baru oke. Bodi gitar, cantik, padat berisi, putih, tapi..." apalagi yang ini, "Kok kamu nggak tampil kayak si A sih?" dan ini, "Tampil cantik dan feminin dong, kayak si B?!"

Sampai telinga Diva sudah hafal dan menjadi kebal. Sampai Diva tak tahu lagu siapa dirinya. Sampai Diva tak lagi merasakan berjalannya waktu. Apakah ia yang sedang menjalani hidup atau orang lain?

"Diva! Riki datang tuh!" suara Mama bergaung dari luar kamar.

"Iya," sahut Diva.

"Mama masak opor ayam nih. Ajak Riki makan bareng ya," kata Mama.

"Nggak, Ma. Diva lagi diet. Biar Riki aja yang makan," jawabnya.

Diva segera melenggang ke ruang tamu. Setelah Riki--minus Diva--makan opor ayam buatan Mama, barulah mereka berangkat nonton.

"Kamu jadi ikut lomba itu?" tanya Riki setelah mereka selesai nonton. Diva mengangguk. "Kalau begitu usahain menang ya, biar aku bisa bangga punya pacar yang diakui cantik oleh orang banyak."

Diva cuma tersenyum. Hatinya pedih mendengar kalimat Riki. Memangnya selama ini kamu nggak bangga memilikiku?

"Cara berpakaianmu, cobalah untuk tampil lebih modis. Oh ya, besok jadi kan, aku mengantarmu ke salon, ngelurusin rambut?" tanya Riki.

Diva mengangguk. Entah mengapa ada rasa sesak dalam dadanya. Aku melakukan semua ini untuk kamu. Mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini?

"Nah, calon putri sampulku, ke mana kita sekarang?"

Pandangan Diva tertuju pada kafe yang menjual es krim dan donat. Riki tampaknya mengerti. "Sayang, kamu bertekad untuk diet bukan?"

Diva mengangguk. Menelan ludah. Menelan segala keinginan yang membludak. Sebenarnya yang ikut pemilihan putri sampul aku atau kamu sih?

Malam ini berjalan sama seperti hari-hari sebelumnya. Berjalan lambat, seolah merasakan kesenangan dengan melihatnya tersiksa.

"Kamu sudah mengisi formulirnya kan? Kapan akan kamu kirim?"

"Besok," jawab Diva pendek. Ia merasa tubuhnya lemas. Ia makan sedikit seharian ini dan minum minuman kesehatan yang menurut iklannya manjur untuk diet. Diva menatap toko es krim dan donat itu dengan pandangan pasrah ketika Riki menggandengnya untuk beranjak ke tempat lain.

Dah donaat.. Dah es krimmm.. Dah coklat.. Dah fast food...

Malam itu, Diva bermimpi bisa memakan semua itu sepuasnya tanpa merasa takut gemuk. Ia merasa lepas, bebas... Tanpa harus memenuhi tuntutan ini itu. Baru kali ini Diva bermimpi indah, setelah sekian lama dibelenggu mitos-mitos kecantikan perempuan.

Pagi itu, ketika Diva bangun, ia merasa lebih segar. Diva bangkit dari ranjang. Mengamati dirinya yang masih mengenakan piyama, dalam pantulan cermin. Tubuhnya tak terlalu jelek, walau bahunya atletis. Untuk apa aku melakukan diet ini?

Tingginya semampai. Rambutnya yang bergelombang mengingatkannya pada mahkota Julia Roberts. Haruskah rambut asli yang menjadi ciri khasnya ini diubah lurus?

Diva meraih selimut, membungkuskannya pada tubuhnya. Selimut itu seolah menjelma menjadi mantel agung. Diva meraih bando perak dari meja dan mengenakannya pada rambutnya.

Cantik. Sebenarnya cantik itu apa? Diva.. Kamu itu cantik.. dengan yang kamu miliki sekarang. Kurang apalagi coba?

Diva tersenyum. "Pemenang putri sampul tahun ini adalah..Diva Angelina... Karena.. Karena apa ya?"

"Diva! Riki datang! Katanya mau ngantar kamu ke salon dan kantor pos!" seperti biasa suara Mama bergaung.

"Bentar Ma!"

Apakah kamu benar-benar menginginkan gelar putri sampul itu?

Diva melangkah keluar kamar.

"Kok belum siap? Salon itu pakai sistem janji lho. Kalau kamu telat, kapan lagi bisa ke sana? Belum lagi ke kantor pos!" Riki menggerutu.

"Rik..." Diva ragu-ragu. "Gimana kalau aku.. Nggak jadi ikut lomba itu?"

"Apa?"

"Aku berubah pikiran. Aku capek melakukan semua ini."

"Tapi kamu akan dikagumi semua orang."

"Aku capek menjadi orang lain."

"Aku akan bangga punya cewek yang dikagumi orang."

"Aku ingin jadi diriku sendiri."

"Kamu harus ikut lomba itu!"

"Apakah berarti aku nggak cantik jika aku nggak ikut lomba itu, Rik?"

"Kamu.. Kamu.." Riki gelagapan.

"Cuma itu arti diriku di matamu, Rik?"

"Diva sayang, aku cuma ingin kamu cantik. Karena aku sayaanggg sama kamu."

"Aku nggak sanggup menjadi cantik seperti yang kamu inginkan. Aku lelah. Aku ingin berhenti.."

"Div.."

"Jika kamu nggak suka dengan keputusanku, kamu boleh pergi."

"Div?"

Bruk! Diva langsung masuk kamar. Hatinya pedih. Ia mengangkat kepalanya melihat dirinya dalam pantulan cermin. Semenit, dua menit.. Lima belas menit. Sepertinya Riki tidak mengejarnya. Diva tidak merasa kehilangan. Ia hanya merasa sedih. Perasaan apa yang selama ini mendasari hubungannya dengan Riki?

"Diva Angelina, putri sampul kita tahun ini.. Menang karena ia tidak diet, tidak meluruskan rambut, tidak mau pakai pemutih yang bikin kulit jadi gatal.. Ia ingin jadi dirinya sendiri... Ia cantik..!" serunya kemudian membungkukkan tubuh, seolah memberi hormat pada penonton.

Diva tertawa, tulus, tanpa beban. Ia telah bebas.

***

Nieke Indrietta
ditulis di satu hari di Surabaya...
Instagram: @katanieke_blog

1 komentar:

  1. hai Niek....
    tiba-tiba aku menjadi pembaca lagi. sudah lama. cerpenmu menggedor kesadaranku. bahwa aku sekarang adalah seorang ayah. bagi seorang putri cantik. yang beranjam remaja. yang mulai heboh dengan jerawat. kelak jika logikanya sudah mulai berkembang, cerpen ini akan aku minta dia baca.

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.