Menu

Percik Kata Nieke

Minggu, 11 Oktober 2020

Freedom Writers: Kisah Nyata Erin Gruwell Guru Penggerak Anti-Diskriminasi

Mumpung masih momentum Hari Guru Sedunia yang jatuh pada 5 Oktober, film bertema guru inspiratif, Freedom Writers ini sungguh layak ditonton.

Freedom Writers Hilary Swank
Film Freedom Writers.

Freedom Writers diangkat dari kisah nyata Erin Gruwell, seorang guru penggerak anti-diskriminasi di sebuah sekolah yang lingkungannya penuh kekerasan, di Amerika Serikat. Bayangkan menjadi guru di sebuah kelas yang murid-muridnya dicap terbandel di sekolah. Murid-murid itu tumbuh di tengah lingkungan dan keluarga yang dikelilingi berandalan, zat terlarang, tawuran, diskriminasi ras, dan kekerasan. Itulah kehidupan Erin Gruwell.

Ia mengajar di Woodrow Wilson High School (sekolah menengah atas/SMA) di Long Beach, California, Amerika Serikat pada 1994. Tak mudah bagi Erin Gruwell untuk mengajar murid-murid semacam ini. Tapi ia punya hati melihat kehidupan murid-muridnya berubah. Ia pun mencari cara. Erin Gruwell lalu meminta murid-muridnya menulis buku harian mengenai kehidupan mereka sehari-hari. 

Erin Gruwell berupaya menjembatani kebencian yang tercipta di antara murid-muridnya lantaran diskriminasi antar-ras. Ini tergambar dalam salah satu adegan paling mengesankan dalam kisahnya yang diangkat dalam film yang diberi judul Freedom Writers. Tokoh Erin diperankan Hilary Swank.


Hilary Swank dalam Freedom Writers
Hilary Swank dalam film Freedom Writers. 
Sumber foto: IMDB

Berawal dari sebuah kejadian yang Erin Gruwell lihat di halaman sekolah. Erin melihat seluruh murid di sekolah itu berkumpul dan berbicara hanya dengan rasnya masing-masing. Ia terpana. Di dalam kelas, Erin memasang selotip berwarna merah secara garis lurus tepat di tengah ruangan kelas. Ia membagi dua kelompok murid-muridnya untuk berdiri di antara garis tengah itu. 

Erin lalu mengajak murid-muridnya bermain sebuah permainan yang ia namakan Line Game atau Bermain Garis. Aturan mainnya, ia akan memberikan pertanyaan. Jika pertanyaan itu terkait dengan situasi muridnya, ia meminta muridnya maju ke garis tengah. Kemudian mundur ke posisi semula untuk pertanyaan berikutnya.

Erin melontarkan pertanyaan pertama. "Siapa di antara kalian yang memiliki album baru Snoop Dogg?" Snoop Dogg adalah penyanyi rap Amerika yang terkenal sejak 1992. 

Seluruh murid di kelasnya nyengir, tertawa, dan saling tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mereka maju ke garis tengah. Lalu mundur kembali untuk pertanyaan berikutnya.

"Siapa yang sudah menonton film Boys on the Hood?" tanya Erin Gruwell. Boys on the Hood, film yang populer pada 1991. Dibintangi Ice Cube, Cuba Gooding Jr., Morris Chestnut, Angela Basset.

Murid-murid Erin Gruwell kembali maju ke garis tengah. Hanya seorang murid berkulit putih yang tidak maju. Kemudian mereka mundur ke posisi semula untuk pertanyaan berikutnya. Erin mulai mengajukan pertanyaan yang lebih dalam.

"Siapa di antara kalian yang memiliki kenalan, saudara, atau siapapun yang usianya di bawah umur namun dia berada dalam program rehabilitasi atau penjara?"

Seluruhnya maju. Kemudian mundur kembali ke posisi semula untuk pertanyaan berikutnya.

"Siapa yang pernah berada dalam program rehabilitasi remaja atau penjara?"

Beberapa murid maju. Lalu kembali ke posisi semula. Erin melangkah agak ke tengah ruangan. "Siapa di antara kalian yang tahu, bagaimana cara memperoleh zat terlarang di sini?"

Murid-muridnya ragu maju. Saling melihat. Hanya seorang yang maju, yakni murid berkulit putih berambut pirang yang sedari tadi belum maju. Ketika melihat murid itu maju, serentak murid-murid lainnya ikut maju ke garis tengah.

"Siapa yang tahu, orang yang berada dalam kelompok geng atau berandalan?"

Seluruh muridnya maju ke garis tengah.

"Siapa yang jadi anggota kelompok geng?"

Murid-muridnya memasang tampang mengernyit dan kaget. Semacam tampang 'yeah yang bener aja, Bu'. Sebagian tertawa. tak seorangpun maju.

Erin mengganti pertanyaannya. "Berdirilah di garis tengah, jika kalian pernah kehilangan seseorang atau teman yang meninggal akibat kekerasan antar geng."

Seluruhnya maju. Wajah-wajah yang tadinya saling mencurigai dan membenci teman-temannya yang berbeda ras mulai berubah rautnya. 

"Berdiri di tengah, kalau kalian kehilangan lebih dari seseorang akibat kekerasan antar geng."

Wajah-wajah muridnya saling menatap mata satu sama lain. Wajah yang tadinya saling bengis berubah menjadi saling empati. Lalu Erin meminta mereka mendoakan orang-orang yang telah tiada akibat kekerasan tersebut, dengan menyebut nama-nama mereka.

Erin menutup permainan tersebut dengan membagi buku tulis kosong untuk setiap murid kelasnya. Ia meminta mereka untuk menulis setiap hari. Tulisan apapun, bisa berupa kisah mereka di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan, seperti halnya buku harian atau diari. Ia juga mempersilakan mereka menulis lagu ciptaan mereka, puisi, dan karya seni mereka di buku itu.

"Saya tidak akan baca isi buku itu, kecuali kalian mengizinkan saya membacanya," ucap Erin. Lalu ia membuka sebuah loker yang terletak di sisi ruangan. "Kalau kalian ingin saya membacanya, kalian bisa meletakkan buku kalian di loker ini." 

Dari buku harian murid-muridnya itulah, Erin Gruwell menemukan realita yang mencengangkan tentang kehidupan murid-muridnya. Ada yang menjadi korban kekerasan dari orangtuanya. Ada yang punya masa lalu pahit. Impian-impian dan ketakutan mereka. Erin makin dekat dengan murid-muridnya, dan sebaliknya.

Trailer film Freedom Writers bisa dilihat di sini:

Sumber video: Youtube MovieClips


Erin Gruwell menaklukkan hati murid-muridnya dengan memperkenalkan sejarah Holocaust--peristiwa genosida yang terjadi pada perang dunia II di Eropa oleh Hitler--kepada murid-murid kelasnya. Mereka pun diajak mengunjungi Museum Toleransi di Los Angeles dan berbincang-bincang dengan para penyintas peristiwa genosida tersebut.

Kebencian dan saling curiga yang tadinya tertanam di hati murid-muridnya mulai luruh. Mereka mulai saling percaya dan menyayangi satu sama lain. Perubahan sikap itu diiringi dengan perbaikan kualitas belajar mereka. Dari yang awalnya kelas itu terkenal dengan murid-murid paling bengal, keras, tak punya masa depan menjadi murid-murid yang cerdas dan memiliki impian setinggi langit. Tak sedikit murid-murid kelasnya yang bahkan berhasil kuliah di perguruan tinggi. Sesuatu yang tadinya dipandang sebelah mata oleh sekolahnya.

Erin Gruwell menuangkan kisah itu dalam sebuah buku  berjudul The Freedom Writers Diary--yang kemudian diangkat ke layar bioskop dengan judul The Freedom Writers. Kualitas akting Hilary Swank di film ini sangat layak mendapat tepuk tangan. Plot ceritanya juga apik. 

Freedom Writers memang bukan film baru. Dirilis 2007, film yang disutradarai Richard LaGravenese ini adalah salah satu film yang tak bisa saya lupakan dari memori. Freedom Writers sarat pesan moral tanpa menggurui. Itu sebabnya, dalam momentum Hari Guru Sedunia, kisah Erin Gruwell mengubah hidup murid-muridnya sangat layak ditonton.


Erin Gruwell bersama murid-muridnya
Erin Gruwell bersama murid-muridnya.
Sumber foto: The Freedom Writers Foundation.

Kalau penasaran dengan Erin Gruwell, kalian bisa melihat ia tampil di TedX membagikan pengalamannya:



sumber video: Youtube TedX


Nieke Indrietta

Tulisan saya tentang film lainnya bisa klik di sini

12 komentar:

  1. Filmnya rekomendasi banget bagi yang bekerja di dunia pendidikan atau bagi ortu yang ingin belajar pedagogik secara langsung lewat film.
    Tahun 1994 waktu Itu saya masih remaja berseragam SMU dan dunia tampaknya baik-baik saja karena tinggal di tempat yang damai plus tidak ada tawuran meski dunia pelajar SMU ada yang abu-abu.

    Film itu pastinya dahsyat karena ada kehidupan yang sedemikian keras di luar sana. Kehidupan yang menyangkut kekerasan sampai kematian akibat kekerasan. Sesuatu yang zaman sekarang sudah lumrah terjadi.
    Kisah Erin Itu inspiratif. Bahwa menaklukkan sesuatu butuh perjuangan besar.
    Mereka butuh kawan untuk mendengarkan atau mengetahui keadaan sehingga tidak merasa sendirian.

    BalasHapus
  2. Sosok guru yang unik dan sangat keren menurut saya, karena ia sangat membumi. memperhatikan murid muridnya dan mengajari mereka secara tidak langsung, tanpa perintah dan tanpa teguran.. sungguh sulit menjadi tokoh guru seperti ini... dan sungguh dibutuhkan guru seperti ini

    BalasHapus
  3. Keren sekali sosok guru seperti ini. Baru membaca review-nya saja saya sudah terharu. Kreatif banget Erin terpikir untuk membuat game seperti itu ya? Cara yang memang selayaknya diterapkan untuk anak-anak SMA. Mereka tidak bakal mempan kalau hanya digurui tapi disentuh hatinya dan Erin bisa melakukannya. Luar biasa. Pengen tahu nasib murid-muridnya sekarang bagaimana ya.

    BalasHapus
  4. Keren banget caranya mendidik murid2 yang tergolong susah, ya. Sangat inspiratif. Aku suka banget film true story.

    BalasHapus
  5. Sungguh kisah inspiratif. Di tempat saya mengajar, tidak ada diskriminasi karena ras. Tapi kisah ini tetap related untuk saya, karena bisa jadi ada mahasiswa yang nilainya jelek karena masalah keluarga. Saya akan menonton ini.

    BalasHapus
  6. Jadi di balik kehidupan seorang murid ada banyak kejadian yg membuat mereka merespon kehidupan sesuai latar belakang mereka masing2. Salut, cara yg ditempuh sang guru.

    BalasHapus
  7. Seperti'y film'y seru dan inspiratif ya Mba.. Aktris'y juga nggak meragukan lagi sih Hilary Swank..

    BalasHapus
  8. Wah teracuni untuk nonton film ini nih kayaknya. Ide gurunya keren dan inspiratif, otw nyari link filmnya ah hehe

    BalasHapus
  9. Wah bagus sekali cara mendidiknya, dengan memahami muridnya dan dengan kelembutan bisa membuka cakarawala pemikiran murid-muridnya. Sepertinya cara mengajar yang demikian harus ditiru. Soalnya lebih mengena dan melekat dipikiran siswa

    BalasHapus
  10. Wah film yang sangat bagus inspiratif. Saya selalu menyukai cerita2 yang berkaitan dengan dunia anak2 dan pendidikan karena dari sana kita akan banyak belajar tentang arti kehidupan yang sebenarnya. Jadi pengin nonton filmnya mbak.

    BalasHapus
  11. wah tulisn nieke bikin penasaran. keren dan salut sih sssama erin ini..mbak nieke nonton filmya di mana?

    BalasHapus
  12. Wahh, recommended banget nih mba untuk para pendidik khususnya. Cara dan strategi yang digunakan pun soft, enggak pake kekerasan. Jadi pengen nonton deh film ini, insightful

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.