Menu

Percik Kata Nieke

Senin, 18 November 2019

Merawat Cagar Budaya: Menyelamatkan Masa Lalu dan Masa Depan

Saya di Hotel Majapahit Surabaya. Foto @katanieke

Wisata cagar budaya selalu membuat saya terlempar ke masa lalu. Memasuki sebuah tempat entah itu candi, bangunan, museum, taman, puing sisa kerajaan--ibarat mesin waktu. Kali ini, saya seperti tersedot ke era kolonial tatkala menginjakkan kaki di Hotel Majapahit Surabaya.


Memasuki lobi hotel Majapahit, saya terkesima. Kesan antik, mewah, megah, dengan aksen warna kuning-emas-coklat-merah yang dominan. Interiornya bergaya art-deco. Pilar-pilar kayu yang menyangga bangunan di beberapa sisi. Di sisi kanan pintu kaca lobi, terparkir mobil Ford yang pernah ditumpangi Roeslan Abdul Gani menuju hotel Yamato—nama hotel Majapahit kala itu—untuk melakukan perundingan dengan Inggris.


Lokasi insiden perobekan bendera September 1945.
Foto @katanieke 
Hotel Majapahit adalah salah satu bangunan cagar budaya yang terkenal di Surabaya. Bangunan yang menjadi saksi bisu atas peristiwa sejarah perobekan bendera pada September 1945 ini, kala itu bernama Hotel Yamato. Itu sebabnya, hotel Majapahit selalu menjadi bagian dari peringatan keberanian arek-arek Suroboyo dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Momentum itu dirayakan warga Surabaya setiap tahunnya pada September dan November. 

Suasana dalam hotel Majapahit Suratbaya. Foto @katanieke

Hotel ini terletak di Jalan Tunjungan, sebuah kawasan cagar budaya di pusat kota. Kalau kamu singgah ke Surabaya, nikmati jalan kaki sepanjang Jalan Tunjungan mulai dari Siola hingga ke hotel Majapahit. Sepanjang perjalanan, bangunan-bangunan itu mempertahankan keaslian era kolonial.

Siang itu, saya datang ke hotel Majapahit untuk mengikuti heritage tour. Pesertanya maksimal 10 orang, diadakan dua kali sesi yakni pukul 14.00 dan 16.00. Biayanya sekitar Rp 102 ribu, kalau beli promo lewat aplikasi atau situs promo harganya bisa lebih murah. Saya sudah melakukan reservasi sehari sebelumnya, mengambil sesi siang. Biaya tersebut sudah termasuk minuman teh atau kopi dan camilan apple strudle.

Foto keluarga Sarkies
di Hotel Majapahit. Foto @katanieke
Di lobi, sudah berkumpul satu keluarga asal Bekasi yang hendak mengikuti tur itu. Mereka bercerita, telah mengunjungi Tugu Pahlawan, Museum 10 November serta Museum Surabaya Gedung Siola, pada pagi harinya sebelum tiba di hotel Majapahit. 

Pemandu pun memulai tur dengan memberi prolog berdirinya hotel Majapahit yang awalnya bernama Hotel Oranje pada 1910. Yap, bangunan ini sudah berusia 109 tahun. Pendirinya bernama Lucas Martin Sarkies.
Nama hotel berubah menjadi Yamato pada masa penjajahan Jepang 1942-1945. Saat hotel bernama Yamato inilah insiden perobekan bendera terjadi. Tepatnya 19 September 1945, sebulan setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Jepang dalam posisi kalah menghadapi Sekutu setelah bom Hiroshima dan Nagasaki. Inggris dan sekutunya datang ke Indonesia untuk melucuti tentara Jepang. Pada 18 September 1945, sekelompok orang Belanda mengibarkan benderanya di atap hotel.

Terang saja, pengibaran bendera merah putih dan biru di atas bangunan hotel membakar amarah rakyat. Para pejuang dengan keberaniannya menaiki bangunan dengan tangga yang disusun dan merobek bagian warna biru. 

"Banyak turis yang keliru menganggap bendera Indonesia merah dan putih itu asal muasalnya dari bendera Belanda yang disobek warna birunya," kata Reza, petugas hotel Majapahit yang mengantar kami berkeliling. 

Padahal, ucap dia, warna bendera Indonesia merah dan putih itu diciptakan dari sejarah Kerajaan Majapahit. Pada masa itu, Majapahit kerap mengibarkan bendera berwarna merah dan putih yang merupakan lambang gula kelapa. Bendera Majapahit itu pertama berkibar saat Raden Wijaya--raja pertama menang melawan pasukan dari Tiongkok. 


Miniatur kapal perang dan bendera kerajaan Majapahit di hotel.
Foto @katanieke

Ballroom  hotel Majapahit yang digunakan sebagai ruang dansa
dan konser musik di era kolonial. Foto @katanieke

Napak tilas juga ke kamar hotel yang digunakan tokoh-tokoh bersejarah dalam kurun waktu September hingga November 1945, seperti ruang perundingan pejuang Indonesia dengan Sekutu, serta ruang milik pendiri hotel yakni keluarga Sarkies. Salah satu kamar di hotel Majapahit digunakan oleh Brigardir Jenderal Mallaby pimpinan tentara Inggris yang kemudian tewas di Jembatan Merah Surabaya, Oktober 1945. Tewasnya Mallaby ini salah satu pemicu pertempuran 10 November 1945. 

Omong-omong, kisah pertempuran ini bisa disimak lengkap saat mengunjungi Monumen Tugu Pahlawan, tepatnya di ruang dioramanya. Mampirlah ke sana juga. Apalagi Tugu Pahlawan adalah ikon Surabaya. Ibaratnya, belum ke Surabaya kalau belum singgah.  

Saya rekomendasikan pula, mainlah ke Surabaya saat September dan November. Soalnya, tiap tahun pemerintah kota pasti menyelenggarakan drama insiden perobekan bendera serta pertempuran arek Suroboyo pada September dan Parade Juang pada November. Dua di antara titik lokasinya adalah Tugu Pahlawan dan Hotel Majapahit.


Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Foto @katanieke

*

Bisa dibilang, hotel Majapahit adalah salah satu cagar budaya di Surabaya yang terawat dan kerap dikunjungi wisatawan lokal serta mancanegara.  Tak semua cagar budaya nasibnya seberuntung itu. Rumah Radio Bung Tomo yang berada di Jalan Mawar Surabaya, misalnya. Bangunan tersebut sempat dirobohkan hingga menarik perhatian kalangan, pada 2017.

Rumah Radio Bung Tomo di Jalan Mawar Surabaya tersebut terdiri dari tiga bagian, salah satunya dibeli swasta. Salah satu ruang di rumah itu digunakan Bung Tomo sebagai studio radio untuk mengumandangkan pidato membakar semangat ratusan ribu warga Surabaya agar mengangkat senjata melawan Inggris dan sekutunya dalam pertempuran November 1945. 

Setelah menjadi polemik, akhirnya ada kesepakatan bangunan bersejarah yang roboh itu dibangun kembali. Pembangunan kembali melibatkan tim Cagar Budaya dan diperkirakan bakal rampung tahun depan atau 2020. Mudah-mudahan lancar sehingga Rumah Radio Bung Tomo bisa dibuka akses buat publik sebagai salah satu destinasi wisata terkait peristiwa 10 November 1945.

Tentunya, kita tak ingin peristiwa semacam ini terjadi pada bangunan cagar budaya lainnya. Bukan hanya di Surabaya, tapi di seluruh Indonesia. Mengutip Lokadata Beritagar.id, sebanyak 17,2 persen cagar budaya di Indonesia dalam kondisi tidak terawat, lapuk, rapuh, tidak bersih, roboh, bahkan ada yang sudah hilang separuh bagiannya. Sedangkan sebanyak 52,5 persen lainnya masih dalam keadaan terpelihara.


*
Sejatinya, menjaga dan merawat cagar budaya tak hanya menjadi tangggung jawab pemerintah. Tapi juga warga Indonesia siapapun kita apakah pengusaha, pekerja, mahasiswa, ibu rumah tangga, dari kalangan apapun. Siapapun bisa terlibat, termasuk saya, Anda, kita. Ini dimulai dari menimbulkan rasa memiliki dan mencintai sejarah.

Acara Tjangkrukan Djoeang yang kerap digelar di lokasi Monumen Tugu Pahlawan Surabaya adalah salah satu contoh kegiatan yang melibatkan semua pihak. Acara itu biasanya digelar akhir pekan di malam hari. Pengunjung bisa menikmati berbagai kuliner langka dan khas Surabaya serta Jawa Timur seperti bubur Madura, kue serabi, minuman ronde dan tauwa, dan nasi semanggi. Kegiatan semacam ini tak hanya mendatangkan manfaat ekonomi bagi warga, namun sekaligus menciptakan rasa memiliki bangunan cagar budaya.

Bukti bahwa merawat cagar budaya bisa dilakukan siapa saja adalah komunitas gerakan Main ke Museum yang digagas Desy Indira, warga Jakarta. Cek di Instagram @mainkemuseum untuk mengetahui kegiatan-kegiatannya. Desy mengaku mengadakan gerakan tersebut karena menyukai sejarah dan anak-anak. Terbentuklah komunitas Main ke Museum yang mengajak anak-anak terutama anak dari latar belakang kondisi ekonomi tidak mampu untuk main ke museum. Komunitas ini menggandeng sekolah-sekolah untuk kegiatannya.



Kegiatannya tak hanya di tempat-tempat bersejarah di Jakarta, tapi juga Jogja, Surabaya, dan Bandung. "Anak-anak semangat diajak belajar, bermain dan bersenang-senang di museum. Guru-gurunya juga," kata Desy kepada saya.

Desy berpendapat, ada beberapa hal yang bisa menarik masyarakat agar doyan main ke museum: bekerja sama dengan komunitas sejarah dan museum, sering bikin kegiatan di museum supaya orang tertarik datang, memanfaatkan sosial media untuk mengenalkan museum dan fasilitas diorama yang bisa didengarkan dengan headphone.

"Ada juga museum yang sudah memakai alat visual seperti televisi yang diisi dengan permainan tentang museum. Ini menarik soalnya menimbulkan pengalaman," tutur Desy.

Mendengar cerita Desy, saya teringat kalau museum di Tugu Pahlawan sudah memiliki ruang diorama dan ruang pemutaran film. Saya sudah mencobanya, lho. Buat saya pengalaman paling asyik adalah saat menjajal ruang dioramanya. Ruang diorama ini terdiri dari dua ruangan. Satu di bagian kanan bangunan lantai dua, satunya dari lagi di sisi kiri. 

Jadi menggunakan diorama itu, saya seperti didongengi kisah Pertempuran Surabaya dengan efek suara dan musik. Seperti sandiwara radio yang pernah populer di era 1990-an. Ada layar kecil yang berada di depan kita untuk memilih fitur-fitur bahasa yang hendak digunakan. 


Saya bersama keluarga besar di Tugu Pahlawan.
Main ke museum seru lho!
Foto @katanieke

Saya dan keluarga besar menonton film
Peristiwa 10 November di  Tugu Pahlawan.
Foto @katanieke

Sejarah adalah bagian dari pembentukan identitas dan budaya suatu bangsa. Maka, merawat cagar budaya tidak hanya mencatat peradaban dan menyelamatkan masa lalu, tapi juga masa depan. Merawat sejarah dan cagar budaya adalah tanggung jawab kita semua sebagai bangsa Indonesia.


***
Nieke Indrietta


#CagarBudayaIndonesia #KemendikbudxIIDN

Referensi:
Merawat Cagar Budaya, Mencatat Peradaban, Beritagar.id (https://beritagar.id/artikel/berita/merawat-cagar-budaya-mencatat-peradaban)

Jejak Sejarah Radio Bung Tomo Itu Pun Hilang..." Kompas.com 
(https://regional.kompas.com/read/2017/01/12/19115221/jejak.sejarah.radio.bung.tomo.itu.pun.hilang.?page=all )






4 komentar:

  1. Waltu masih sekolah saya sudah mengenal heroisme pejuang kemerdekaan di Surabaya. Senang bisa baca kisah ini karena mengingatkan pada masa silam, pada gelora juang rakyat Surabaya yang gagah berani. Penjajahan mesti enyah dari muka bumi.
    Semoga cagar budaya di Indonesia bisa dirawat dengan baik. Ada cara mengedukasi yang bisa ditiru dari komunitas Main ke museum. Itu cocok banget bagi generasi milenial sekarang dan mendatang agar mereka mengenal akar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya betul. Cara yang dipakai komunitas Main ke Museum ini foundernya kebetulan adalah bekas teman sekantor saya di Jakarta--dia anak milenial. :D E saya juga ding. Hihihi. Dulu di Jakarta juga saya pernah ikut komunitas anak-anak Twitter yang doyan kopdarnya di museum atau di taman sambil baca puisi. Cara begini asyik banget buat jangkau anak milenial dan generasi Z. Kalau di Surabaya, ada Surabaya Walk on Foot yang jalan-jalan ke museum. Penggeraknya generasi milenial. Pesertanya turis asing, lokal. Saya pernah ikut juga yang ini.

      Hapus
  2. Serunya ikut heritage tour seperti ini. Bisa mengenal cagar budaya dan peninggalan sejarah terutama di sekitar kita dulu.

    BalasHapus
  3. aku bener2 demen bgt dengan bangunan bersejarah gini, selain unik ketika mencari sejarahnya kadang bikin geleng2 saking takjubnya

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.