Menu

Percik Kata Nieke

Selasa, 12 November 2019

Menanti Transportasi Massa Terkoneksi Se-Nusantara


Saya saat menjajal kereta bandara di Jakarta.
Foto @katanieke
Bagi Kartika, 25, warga Palembang, keberadaan LRT (Lintas Rel Terpadu/Light Rail Transit) dari kota Palembang menuju lapangan terbang Sultan Mahmud Badaruddin II sangat efektif dan efisien. “Jadi bisa hemat banget biaya transportasi,” ucapnya kepada saya.

LRT yang diluncurkan setahun lalu itu membuatnya bisa dan menghemat ongkos transportasi hingga tiga kali lipat. Dari rumahnya menuju ke stasiun LRT terdekat, ia tempuh dengan ojek atau taksi daring dengan biaya Rp 10-15 ribu. Sementara tarif LRT menuju bandara Rp 10 ribu. Kartika membandingkan kondisi dengan sebelum ada transportasi massa tersebut, ia mesti naik taksi yang ongkosnya bisa mencapai Rp 150 ribu.

Pembangunan kereta itu memang bertujuan untuk menunjang perhelatan besar Asean Games 2018, yang salah satu lokasinya adalah Palembang di Sumatera Selatan. Kereta bandara juga diluncurkan di Jakarta, menghubungkan dari Bandara Soekarno Hatta di Tangerang ke pusat kota Jakarta. Saya sudah mencobanya. Nyaman lho. Senang dengan adanya skytrain atau kalayang di bandara itu, lebih praktis dan efisien untuk menuju dari satu terminal ke terminal lain. Naik kereta bandara juga bikin saya berhemat ongkos kendaraan menuju pusat kota.

Nonton video saya: Traveling ke Jakarta: Cara Menggunakan Kereta Bandara

Ohya, saya bakalan lebih banyak bercerita dari sudut pandang warga luar pulau Jawa. Soalnya sebagai penduduk pulau Jawa, tentunya sudah banyak kisahnya. Pun dengan proyek-proyek pembangunannya. Biar adil, gitu. Jadi, cerita saya soal kenyamanan transportasi di Jawa tak terlalu banyak. Biar suara orang luar Jawa terwakili begitu, Dulurku (saudaraku).

Selain LRT menuju bandara, warga Sumatera juga telah bisa menikmati perjalanan antar kota dengan kereta, meski belum terhubung sepenuhnya ke seluruh pulau. Jaringan rel kereta eksisting belum saling tersambung di berbagai wilayah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, dan Lampung. Proyek jalur kereta Trans-Sumatera digadang-gadang menjadi jawaban.

Sumber Instagram @kemenhub151
Balik lagi ke cerita teman saya, Kartika warga Palembang. Dia mengaku telah menjajal perjalanan liburan dengan kereta ekonomi berpenyejuk udara dengan rute Palembang-Lampung. Tempat duduk penumpang terdiri atas satu bangku yang bisa ditempati tiga orang.  “Sejauh ini cukup nyaman,” ucapnya.

Proyek infrastruktur memang menjadi salah satu fokus utama di masa kepemimpinan Joko Widodo sebagai presiden.  Itu sebabnya, pemerintah pusat dan kementerian perhubungan gencar membangun infrastruktur baru di udara, laut, dan darat demi konektivitas pemerataan pembangunan.  

Sejauh ini, jalur rel kereta eksisting sepanjang 6.000 kilometer di seluruh Nusantara. Namun, masih ada 3.190 kilometer jalur kereta mati suri yang rencananya akan diaktivasi. Dari jumlah yang mati suri itu, di Sumatera 466 km dan Jawa 2.724 km. Tentunya, reaktivasi dinilai lebih efisien ongkos lantaran tidak memerlukan pembebasan lahan. Kalau seluruh jalur rel kereta ini telah terhubung, asyik juga ya. Masyarakat akan lebih mudah bepergian antar wilayah. Di Sulawesi juga akan digarap proyek rel kereta Trans-Sulawesi juga, lho.

Pembangunan jalur-jalur rel kereta ini kabar menyenangkan buat warga luar pulau Jawa. Soalnya, selama ini pembangunan infrastruktur memang cenderung berpusat di Jawa. Kawan-kawan saya yang berada di luar pulau Jawa, kerap hanya bisa gigit jari. 

Feri Ginting yang warga Sumatera Utara misalnya. Ia mengecap pengalaman naik kereta saat kuliah di Yogyakarta pada 1999. Menurutnya, naik kereta menyenangkan lantaran sepanjang perjalanan terhampar pemandangan indah seperti sawah. 

"Nyaman dan menyenangkan, bisa melihat suasana pinggiran kota dan pedesaan," katanya. Wajar, kalau Feri kemudian berharap transportasi massa itu dikembangkan pula di daerah asalnya. 

Adapun sepanjang 2015-2019, Kementerian Perhubungan telah membangun sepanjang 683,35 km spoor hingga akhir tahun lalu. Hingga 2018, telah dibangun 10 bandara baru, revitalisasi dan pengembangan sekitar 400 bandara termasuk yang berada di daerah rawan bencana, perbatasan, dan terpencil. Untuk transportasi laut, sedikitnya terbangun 19 pelabuhan.

Keberadaan infrastruktur transportasi adalah salah satu faktor penting pendorong pertumbuhan ekonomi. 

Ibarat magnet, penyediaan infrastruktur di sebuah kawasan dapat menarik orang untuk bermigrasi dan melakukan aktivitas ekonomi. Sederhananya, coba saja perhatikan. Ketika dibangun sebuah jalan dan infrastruktur transportasi di sebuah kawasan, tak lama akan muncul infrastruktur lain seperti listrik dan air.

Contoh riilnya adalah pembangunan jalan tol, bandara baru, stasiun baru. Lingkungan sekitarnya pasti langsung ‘hidup’. Di sekitarnya, biasanya akan muncul restoran, toko oleh-oleh, rumah, bangunan, stasiun pengisian bahan bakar umum alias SPBU, dan sebagainya.

Pembangunan infrastruktur transportasi juga mendongkrak nilai keekonomian bagi sektor bisnis dan industri di daerah. Jangankan harga buah domestik yang lebih mahal dari buah impor. Harga barang yang sama di Jawa dan luar Jawa bisa berbeda. Ada disparitas harga. Ternyata biaya logistiklah yang menjadi penyebabnya. 

Petani menjual produknya ke distributor atau ke kota saja menggunakan angkutan darat yang belum tentu kondisi jalannya baik atau tersedia transportasi.  Nah, keberadaan infrastruktur transportasi diharapkan juga bisa menguntungkan para petani dan meningkatkan kesejahteraannya. 

Contohnya, warga Kabupaten Karo yang mayoritas hidup dari pertanian. Ketika musim liburan tiba, jalanan macet sehingga berdampak pada distribusi dan harga jual komoditas pertaniannya.

“Para pembeli komoditas jadi malas naik ke Berastagi saban macet. Tak ada pembeli artinya harga jatuh,” kata Feri Ginting, yang berprofesi sebagai petani kopi asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara. 

Itu sebabnya Feri berharap pemerintah juga bisa membuka jalur kereta dari Kabupaten Karo ke selatan yakni Pematang Siantar, Rantau Parapat, dan sebagainya. “Kalau ke arah kota Medan, saya tak berharap banyak karena wilayah pegunungan dan kontur tanahnya tidak mendukung,” ujarnya.

Perluasan infrastruktur transportasi, kata dia, tak hanya berdampak pada nilai jual petani. Tapi juga sektor pariwisata di daerah sekitarnya. Apalagi selama ini pariwisata Sumatera Utara terpusat di Danau Toba saja.


Ilustrasi foto bandara di Indonesia. Foto @katanieke

Sejak adanya peningkatan status bandara Silangit--kini bandara internasional Sisingamaraja XII, pembangunan jalur kereta lingkar danau Toba menuju Bandara Kuala Namu, serta pembangunan jalan tol yang seluruhnya di wilayah selatan berhasil membuat arus wisatawan di sekitar Danau Toba meningkat pesat. 


Namun, kata Feri, Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi, dan Aceh Tenggara menjadi terhambat karena akses jalan satu-satunya ke kota Medan rawan macet dan longsor. Jarak tempuh Berastagi-Medan yang biasanya 1,5 jam menjadi 5-12 jam di kala musim liburan. Maka, pengembangan infrastruktur transportasi daerah lain mesti juga segera digarap. Agar sama-sama bisa menikmati manfaat ekonomi dan kesejahteraan.

*

Transportasi Penghubung Negara Kepulauan

Tak semua wilayah di Indonesia bisa ditempuh dengan perjalanan darat. Indonesia merupakan negara kepulauan sekaligus memiliki banyak pegunungan. Unik dengan tantangan kondisi alamnya. Itu sebabnya, pemerintah berusaha mewujudkan konektivitas tiap wilayah dengan menyesuaikan kondisi medan serta memadukan berbagai moda transportasi darat, laut, dan udara. Upaya pemerintah ini rupanya disorot World Economic Forum (WEF).

Dalam pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia 2018 di Bali, salah satu topik yang dibicarakan adalah masalah infrastruktur. Kajian WEF menyatakan infrastruktur transportasi Indonesia berada di peringkat ke-3 di antara anggota ASEAN. Ranking pertama diraih Singapura, yang memang transportasi umumnya patut diacungi jempol. Sedangkan peringkat ke-2 diduduki Malaysia.


Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Foto @katanieke
Mengutip situs berita Katadata, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengaku pemerintah membangun infrastruktur di berbagai daerah terpencil, terluar, dan terdepan. Misalnya pembangunan dermaga di  bagian timur Sumatera dan bagian barat Kalimantan, pelabuhan di bagiaan utara Sulawesi dan Kalimatan, serta bandara dan kapal ternak di Papua.

Pun demikian dengan program rute tol laut, yang meningkat tiga kali lipat empat tahun terakhir. Pada saat program tol laut dibuat hanya beroperasi 6 rute, kini jumlah rutenya sudah tiga kali lipat. Keberadaan program tol laut juga diklaim berdampak pada pengurangan biaya logistik di beberapa daerah.

Infografis diambil dari situs Kominfo

Kementerian Perhubungan juga memiliki rencana bekerja sama dengan perusahaan pelayaran swasta di program tersebut. Tujuannya tentu saja untuk mengurangi disparitas harga komoditas di wilayah Indonesia bagian timur. Mengutip situs Liputan6, Menteri Budi Karya Sumadi mengatakan, pemerintah daerah juga perlu berperan dalam menjaga penyebaran logistik agar merata dan bernilai keekonomian.

Pembangunan konektivitas bisa menjadi solusi atas tingginya biaya logistik di Indonesia yakni sebesar 24 persen dari Produk Domestik Bruto, berdasarkan kajian Frost and Sullivan. Ini penyebab biaya logistik di Indonesia bagian timur mahal. Pembangunan infrastruktur selama empat tahun terakhir diyakini bisa mengurangi kesenjangan di wilayah tersebut. Pun demikian dengan rencana Kementerian Perhubungan atas proyek infrastruktur transportasi di lima tahun periode kedua Presiden Joko Widodo. 

Rakyat Indonesia menanti terkoneksinya seluruh wilayah Nusantara demi pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan ekonomi. Semoga segera terwujud dari Sabang sampai Merauke. 

Kinerja pembangunan infrastruktur oleh Kementerian Perhubungan bisa dilihat di sini lho:
Laporan Kinerja 5 Tahun Pembangunan dan Pengembangan Transportasi Indonesia

***
Nieke Indrietta




5 komentar:

  1. Excited menanti transportasi massa yang mumpuni terkoneksi mba.
    Sekaligus menanti semua fasilitasnya bisa digunakan oleh seluruh masyarakat.

    Waktu lebaran kemarin, saya berkali-kali main ke pelabuhan tanjung perak, dan takjub.
    Bukan takjub bangga, tapi takjub heran.

    karena calon penumpang kapal laut membeludak di emperan pelabuhan, persis sama kayak beberapa tahun lalu, di saat pelabuhan kayak pasar dan jauh dari kata mewah.

    Padahal, kalau dilihat dari bangunannya yang super megah, dengan banyak kursi yang bsia dipergunakan, tapi sama sekali tidak dipergunakan, entah buat apa tuh bangunan dibangun :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Turut sedih atas pengalaman itu. Semoga pengelola armada laut bisa lebih memperhatikan kenyamanan penumpangnya. Tidak hanya saat menumpang transportasi lautnya, tapi juga saat menanti untuk naik kapal dengan menyediakan layanan yang baik dan nyaman, termasuk sesudah penumpang turun dari kapal di wilayah pelabuhan.

      Hapus
  2. Enak kali ya mbak, jika nanti nya jalur kereta terhubung dari aceh sampai ke lampung, semua propinsi di sumatera di lewati, mungkin akan lebih aman dan nyaman jika bepergian...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga bisa terwujud ya, Kak. Saya sebagai penduduk Jawa sudah menikmati nyamannya perjalanan kereta yang terkoneksi dari ujung ke ujung. Tersambungnya jalur kereta juga berpengaruh pada logistik lho. Perdagangan akan lebih lancar, biaya produksi/distribusi bisa ditekan. Otomatis harga bisa lebih kompetitif dan menguntungkan produsen.

      Hapus
  3. Keretanya nyaman dan mewah bagi saya sampai pengen naik juga, hi hi. Saya lega adanya konektivitas membantu masyarakat untuk lebih memudahkan mobilitas mereka.
    Semoga saja harapan teman Mbak soal pembangunan jalur kereta untuk memudahkan wisatawan yang berlibur itu bisa membanti kehidupan petani karena sistribusi pertanian harus disegerakan. Jalan macet itu mahal di ongkos dan buang energi berkali lipat.

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.