Menu

Percik Kata Nieke

Kamis, 29 Agustus 2019

Agar Dunia Digital Tak Jadi Bencana Bagi Alam

Lereng gunung Arjuno. Foto oleh Nieke.

Apa yang kamu lakukan, seandainya kamu memiliki enam batu Infinity Stones dan sarung tangan seperti Thanos dalam film Marvel – The Avengers


Thanos memilih melenyapkan separuh manusia untuk mengembalikan keseimbangan alam. Kalau saya, mungkin akan menjentikkan jari seraya membayangkan separuh populasi hutan yang kadung lenyap justru kembali agar alam menemukan harmoninya. Terutama hutan yang dirambah dengan liar, hutan lindung yang dikoyak keserakahan manusia, beserta satwa langkanya.

Sayang, itu hanya khayalan.

Alam memiliki keseimbangannya sendiri, yang bila terganggu akan berdampak pula bagi kehidupan manusia. Di era digital sekarang ini, upaya menjaga alam makin berat lantaran tempat wisata alam yang viral tak serta merta diikuti perilaku menjaga lingkungannya. Padahal ketika kita menjaga alam, alam pun akan menjaga kita. Budaya sadar bencana belum sepenuhnya tergambar dalam pikiran manusia.

Ini contohnya. Fenomena embun es di Dieng yang viral di media sosial memikat makin banyak orang untuk datang. Sayang, kedatangan wisatawan tak diiringi perilaku menjaga alam. Sampah-sampah menumpuk bertebaran. Lihat videonya di sini.

Ranu Kumbolo di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pernah bernasib serupa. Tempat wisata yang terletak di pegunungan Tengger, kaki Gunung Semeru ini populer sejak jadi tempat syuting film 5 Cm. Namun sayang, pengunjung meninggalkan sampahnya di sana. Meski kemudian, para aktivis lingkungan bergerak membersihkan sampah-sampah tersebut.

Hasil googling saya dengan kata kunci 'wisata Pulau Sempu'. 
Pulau Sempu di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, adalah contoh berikutnya, ketika satu tempat menjadi hip. Foto-foto yang beredar menampakkan si pengunjung berpose di Pantai Segara Anakan dengan pemandangannya yang memukau lalu disertai kepsyen kutipan atau semacam “Eh ini lho aku sudah ke sini”. Padahal, Pulau Sempu sejatinya adalah kawasan cagar alam—bukan tempat wisata, yang sejatinya terlarang untuk dikunjungi.
  
Kita tidak bisa menyalahkan perkembangan dunia digital dan telekomunikasi yang menjadi pendorong viralnya suatu tempat wisata. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Dunia digital bagaikan pedang bermata dua. Kabar baiknya, kita bisa memanfaatkannya untuk menyebar hal-hal positif. Dimulai dengan melibatkan netizen, travelgram/travel blogger, selebgram, dan influencer untuk sosialisasi lingkungan dan budaya sadar bencana.

Kalau kamu travelgram/travel blogger, selebgram, dan influencer,  kamu punya andil lho menjaga kelestarian lingkungan. Pun jika kamu netizen.

Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita

Lereng gunung Arjuno. Foto oleh  Nieke.
Di era digital turisme macam sekarang, traveling dianggap sebagai kegiatan bersenang-senang di spot-spot Instagramable—dengan harapan menuai ribuan jempol (likes) dan viral. 

Itu enggak salah, sih. Namun, kalau kita menjelajah foto-foto di Instagram, seberapa banyak kita temukan kepsyen yang menyampaikan kesadaran menjaga lingkungan, budaya sadar bencana, mengenali bahaya bencana alam, mengurangi risiko bencana, dan semacamnya?

Padahal travel blogger punya kemampuan mempengaruhi orang dalam mengambil keputusan bepergian, mulai dari destinasi, kuliner, hingga itinerary. Lantas, kenapa tidak merambah dalam hal kesadaran lingkungan? Misalnya menceritakan soal tempat yang bisa terancam kehilangan habitat alaminya, polusi, erosi tanah, dan sebagainya.


Foto oleh Nieke

Travel blogger juga memiliki cerita otentik dan berdasarkan pengalamannya sehingga kisahnya tidak terkesan menggurui. Jadi, kalau dirimu adalah netizen, travelgram/travel blogger, selebgram, dan influencer,  kamu punya andil lho. (Eh ini juga pesan buat saya sendiri, yang doyan nulis perjalanan wisata). *selfnote*


Pariwisata Ramah Lingkungan

Tempat-tempat wisata alam idealnya menganut konsep pariwisata ramah lingkungan yang menjaga keaslian wilayah alam. Pemenuhan akomodasi biasanya memang membutuhkan pembangunan infrastruktur, namun semestinya tetap memperhitungkan keaslian wilayah, untuk menjaga habitat di sekitarnya.
Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatera adalah salah satu contoh tempat yang berupaya mempertahankan keaslian wilayahnya. Di sana, wisatawan memang tak akan mendapatkan kenikmatan ala kota seperti akses internet, telekomunikasi, dan listrik 24 jam. Sebagai gantinya, pengunjung bisa bebas menikmati alam dan habitatnya. Jika kamu beruntung, kamu bisa bertemu orang utan saat menjelajah hutan, gajah-gajah, sungai dengan aliran air jernih. Kemudahan akses teknologi baru dirasakan setelah pengunjung keluar dari area hutan dan mengarah ke kota besar.


Saya di hutan Taman  Nasional Gunung Leuser, 2006.  Dokumen pribadi.
Saya ingat ketika mengunjungi Tangkahan, bagian dari area Taman Nasional Gunung Leuser yang berbatasan antara Sumatera Utara dengan Aceh, pada 2006. Dari Medan menuju lokasi butuh waktu sekitar delapan jam dengan perjalanan darat. Perjalanan kami melalui hutan-hutan, termasuk hutan sawit, serta jalanan tak beraspal. 

Pun tatkala tiba di sana tengah malam, kami masih menyeberangi sungai dengan perahu getek. Tak ada listrik yang mengaliri wilayah rumah-rumah yang kami diami selama beberapa hari tinggal di sana.  Listrik hanya menyala beberapa jam dengan menggunakan mesin diesel. Toh, kami bisa menikmati tumbuhan-tumbuhan yang tak pernah kami lihat sebelumnya, suara alam, desau angin dan gemerisik daun, serta gemericik air sungai. Kami di tengah hutan.

Memang, tak semua tempat mesti menganut konsep seperti ini. Tergantung kondisi wilayahnya juga. Sebuah tempat bisa memadukan pariwisata digital dengan pariwisata ramah lingkungan. Di Surabaya misalnya, Wali Kota Tri Rismaharini menciptakan tempat-tempat wisata yang mulanya adalah tempat pembuangan sampah, salah satunya Taman Harmoni Keputih—yang kemudian viral dan dikenal sebagai hutan bambu ala Jepang.



Ilustrasi foto wisata Instagramable. Dokumen pribadi.
Budaya Sadar Bencana
Menanamkan budaya sadar bencana tak mesti dengan cara menggurui dan membosankan. Sosialisasi mengenai hal ini justru akan sangat ampuh di tempat wisata rawan bencana atau pernah menjadi lokasi bencana. Teluk Love yang terletak di Desa Sumberejo, Kabupaten Jember misalnya. Keindahan teluk ini seperti magnet yang menarik ribuan wisatawan tiap pekan.

Menurut Tim SAR Rimba Laut, desa ini juga dinilai berpotensi ancaman bencana gelombang besar, gempa, dan tsunami. Biasanya, gelombang besar rutin menyambangi wilayah laut selatan tiap Agustus hingga September. Pada 1994, wilayah Desa Sumberejo pernah terdampak tsunami yang merupakan perluasan gelombang tsunami Pancer di Banyuwangi. Itu sebabnya, perlu memperbanyak rambu-rambu dan infrastruktur pengamanan keselamatan.


Klik di sini untuk Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana

Lantaran itulah, penting adanya bekal pengetahuan penanggulangan bencana bagi warga sekitar dan wisatawan. Kenali bahayanya, siapkan strateginya, kurangi risikonya, sehingga warga siap untuk selamat. Misalnya melalui rangkaian kegiatan Ekspedisi Destana yang pernah digelar tahun ini, dengan melibatkan para pemuda pelajar Nahdlatul Ulama belajar cara penanganan dan langkah tanggap darurat bencana.

Klik di sini untuk Modul Siaga Bencana Bagi Pembina Pramuka 
Menanamkan budaya sadar bencana juga bisa melalui kerja sama dengan travelgram/travel blogger, selebgram, dan influencer. Tentunya, penanaman kesadaran mesti terlebih dulu dibangun atas para figur yang berpengaruh terhadap yang maha-benar-netizen.

Maka layaknya menirukan ucapan Captain America di The Avengers, "Netizeeeenn... Assemble!" Saatnya kamu, saya, kita bersama-sama membangun budaya sadar bencana dan menjaga alam pemberian dari Yang Kuasa.


Nieke Indrietta








#TangguhAwards2019
#KitaJagaAlam #AlamJagaKita
#SiapUntukSelamat
#BudayaSadarBencana

Baca juga:

Mari Kita Cerita tentang Keanekaragaman Hayati

10 Alasan Kamu Mesti Liburan ke Kebun Teh Lawang Wonosari

Kuliner Jogja: Lezatnya Rujak Es Krim Pak Nardi Pakualaman

Wisata Batu: 5 Hal Unik Soal Museum Omah Munir


7 komentar:

  1. Suka khilaf hanya memikirkan jempol di instagram akan tetapi lupa bahwa kita mempunyai pengaruh besar terhadap perubahan lingkungan yang lebih baik lagi. Dengan menjaga alam dan tidak merusak alam

    BalasHapus
  2. saya sangat setuju mba, apalagi zaman sekarang masih minim kesadaran untuk lebih tanggap bencana. padahal sekarang sudah diberi kemudahan untuk mengakses bagaimana tanda - tanda bencana alam dan cara penanganan bencana.
    sehingga sekarang masyarakat banyak tidak mengetahui informasi yang sedang berkembang sekarang

    BalasHapus
  3. Suka dengan kalimat ini "kita jaga alam, alam juga akan menjaga kita".

    Sayangnya masih banyak masyarakat yang kurang kesadaran dalam menjaga lingkungan. Datang ke tempat wisata alam bukannya jaga lingkungan tapi malah merusak dengan meninggalkan sampah di sana.

    Jadi memang ada efek negatifnya dari viralnya suatu tempat wisata karena tidak diiringi dengan kesadaran. So peran influencer atau travel blogger penting banget nih di sini.

    BalasHapus
  4. Sekarang itu memang banyak sih orang-orang yang pergi ke spot yang instagramable buat nyari like doang tanpa peduli yang dia lakukan. Padahal bisa aja dia ngerusak lingkungan. Penting banget sih emang kita tetap ngejaga lingkungan saat berwisata dan juga sebagai bloger ataupun influencer, mengajak para netizen buat ngelakuin hal yang sama

    BalasHapus
  5. jadi pengin itu ke Gunung Leisure. Tapi kok perjalananannya agak menyeramkan ya. menyeramkan secara fisik sih.

    BalasHapus
  6. Betul, setuju banget dengan kalimat "Kita jaga alam alam jaga kita" Kita itu hidup di dunia untuk merawat alam yg diciptakan Tuhan untuk kita, pasti manfaatnya akan kita rasakan juga

    BalasHapus
  7. Duuuh sedih emang. Kebiasaan negara berflower ini emang suka membuang sampah sembarang an apalagi di tempat wisata dadakan atau pun emang tempat wisata. Padahal tempat sampah dimana mana. Harus diberikan edukasi besar besar an ya

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.