Menu

Percik Kata Nieke

Jumat, 28 September 2018

Bus Suroboyo dan Sampah Plastik

Bus Suroboyo. Foto: Nieke.
Bus Suroboyo bukan bus biasa. Penumpang hanya boleh naik apabila telah menukarkan botol plastiknya dengan kartu setor sampah dan stiker khusus di terminal Purabaya dan halte Rajawali. Kalau nggak sempat menukar sampah, bisa juga langsung membawa botol plastik saat naik ke dalam bus. Layanan Bus Suroboyo memang bertujuan untuk mengurangi kemacetan dengan cara menarik minat masyarakat untuk berpindah dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum yang nyaman, sekaligus mengatasi masalah sampah plastik di Surabaya.  
Saya termasuk orang yang bersemangat mencoba naik Bus Suroboyo ketika mendengar peluncurannya pada April 2018 lalu. Tapi saking ramainya peminat di akhir pekan, saya menunda. Eh belum kesampaian, beberapa bulan kemudian sudah ada rute baru dan bus tumpuk, yang di akhir pekan antreannya juga mengular.


Foto diambil dari Instagram @Suroboyobus

Saya pun mencoba mengajak beberapa kawan untuk menjajal Bus Suroboyo. Ternyata, beberapa kawan pesimistis bus Suroboyo bisa mengurangi penggunaan sampah plastik. Menurut mereka, "Bukan nggak mungkin, kan. Untuk naik bus itu, orang-orang malah beli minuman kemasan plastik sejumlah yang diperlukan? Berarti sampah plastik bisa malah bertambah kan?"

Sampah Plastik

Tiap harinya sampah plastik di Surabaya bisa mencapai 400 ton, itu menurut data Komunitas Nol Sampah Surabaya, seperti dikutip dari laporan BBC Indonesia. Apapun yang kita konsumsi kebanyakan memang berhubungan dengan plastik. Bukan hanya soal kantong kresek alias plastik, beli makanan dan minuman kebanyakan dibungkus dengan kemasan plastik. Minum juga dengan sedotan plastik. Sebanyak 43,4 persen dari plastik di Indonesia dipergunakan sebagai kemasan. Komunitas Nol Sampah juga mengungkap, konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) terus meningkat 10 persen per tahun.

Untuk mengurangi sampah plastik, saya pribadi tidak menggunakan sedotan plastik untuk minum. Saya memilih minum langsung dari gelas atau ngukup dari botolnya. Kalau botol plastik, kadang nggak terhindarkan beli. Jangankan botol minuman kemasan, botol minuman susu dan yoghurt saja dari plastik. Botol-botol ini saya pilah dari sampah lain. Setelah saya cuci, saya satukan dalam satu tempat khusus. Nah, botol-botol bekas inilah yang saya gunakan buat naik Bus Suroboyo. Jadi enggak beli minuman dengan kemasan botol plastik dengan tujuan naik Bus Suroboyo, seperti kata teman saya.

Ketika menjajal Bus Suroboyo, saya membawa lima botol plastik ukuran sedang. Saya naik dari halte Kaliasin, yang berada di sebelah Tunjungan Plasa, dengan rute menuju Institut Teknologi Sepuluh November (ITS)-Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Setibanya di kampus ITS, saya tidak turun tapi meneruskan rute menuju Unesa. Bus berhenti di ITS sekitar sejam. Penumpang sedikit demi sedikit berdatangan. Ada sekelompok mahasiswa yang membawa dua kantong plastik berisi penuh botol-botol plastik ukuran sedang. Ada ibu dengan anak balitanya yang membawa puluhan gelas plastik air mineral. Dalam satu jam, bus penuh terisi. Kabin untuk menampung sampah botol plastik sulit ditutup karena melebihi kapasitas. Bus kemudian melanjutkan perjalanan.

Dalam perjalanan bus, saya berpikir, kalaupun ada yang beli botol minuman plastik hanya untuk naik bus. Apa iya, kalau satu keluarga yang naik, misalnya empat orang. Lalu bapak atau ibunya membeli 12 botol ukuran besar untuk tiket naik bus? Dengan catatan tiga botol besar untuk satu orang. Satu botol besar itu ukurannya 1,5 liter lho. Apa iya, satu orang itu mau minum sekitar tiga liter air sekaligus ketika hendak naik bus? Sama halnya dengan botol ukuran sedang dan air kemasan gelas. Kelempoken lak an (kekenyangan, dong).


Diambil dari Instagram @Suroboyobus

Kalau menurut saya sih, berhubung sekarang tak terhindarkan banyak produk makanan dan minuman yang menggunakan produk plastik, kehadiran Bus Suroboyo ini paling enggak bisa membangkitkan kesadaran tiap individu soal sampah plastik. Masyarakat yang tadinya mengkonsumsi minuman kemasan plastik dan botolnya dibuang begitu saja, lantaran ingin naik Bus Suroboyo, lalu sampahnya dipilah. Secara nggak langsung, masyarakat--dari anak-anak hingga dewasa--dididik memilah sampah plastik (walau dalam hal ini hanya sampah botol plastik). 


Dari Instagram @Suroboyobus
Dalam hal memilah sampah, Indonesia masih ketinggalan dibanding Jepang dan Korea. Kedua negara itu, warganya terlatih memilah sampah. Saya saja masih baru tahap pemula dalam hal memilah sampah. Semasa kecil, saya ingat pernah ada kampanye memilah sampah organik, anorganik, dan plastik. Tempat-tempat sampah sesuai kategori itu beredar di mana-mana. Seiring waktu, entah kenapa meredup. Warga kembali ke kebiasaan lama. Tempat sampah dengan kategori itu hanya saya lihat di tempat-tempat umum seperti stasiun dan taman. Gerakan memilah sampah berdasarkan jenisnya sebelum dibuang di level rumah tangga dan tempat pembuangan di kompleks, rasanya perlu digaungkan kembali.  

Omong-omong, jangankan memilah sampah, masih ada aja lho orang yang melempar sampahnya sembarangan. Sampah plastik yang dibuang ke sungai tidak hanya mengancam ekosistem hewan seperti ikan, tapi juga kelangsungan sungai sebagai sumber air bersih dan air minum. Nah warga nakal yang masih buang sampah sembarangan ini, bisa jadi bakal kena iming-iming naik Bus Suroboyo. Berubah perilakunya, ketimbang buang sampah sembarangan, sampah botol plastiknya disetor buat naik bus.

Bahkan, konsep memadukan naik transportasi publik gratis dan nyaman dengan penanganan masalah sampah ini barangkali bisa diterapkan untuk mengatasi masalah sampah popok yang dibuang ke sungai. Tiap satu keluarga bisa menukar beberapa sampah popoknya di bank sampah sekitar lingkungannya dengan sejumlah stiker dan kartu sampah. Sebab, membawa sampah popok bayi ke dalam bus tentu tak memungkinkan. Dengan demikian, potensi sampah popok dan pencemaran sungai berkurang, warga juga beralih dari transportasi pribadi ke transportasi umum. 


Dari Instagram @Suroboyobus

Dinas Perhubungan dan dinas terkait juga bisa mengadakan survei untuk mengukur keberhasilan programnya tiap beberapa periode waktu. Survei itu untuk mengukur berapa warga yang berpindah dari kendaraan pribadi ke Bus Suroboyo untuk bepergian, berapa volume botol sampah yang terkumpul, darimana warga memperoleh sampah botol plastik (ini untuk menjawab pertanyaan apakah warga membeli botol plastik demi naik bus, atau benar-benar mengurangi sampahnya), berapa yang menggunakan aplikasi untuk melihat bus, dan latar belakang ekonomi pengguna bus. Dari sini, pemerintah kota Surabaya bisa melakukan evaluasi untuk meningkatkan pelayanannya.

PR maha penting berikutnya adalah bagaimana menangani sampah yang sudah terkumpul tersebut. Ibaratnya, Bus Suroboyo ini hilirnya. Hulunya? Tempat pengolahan sampah. Bank-bank sampah juga berperan penting. Tempat-tempat itulah yang akan mengolah sampah botol plastik dan jenis sampah lainnya. Soal pengolahan sampah memang bukan wewenang Dinas Perhubungan Kota Surabaya, namun instansi yang terkait kebersihan kota. Penanganan sampah membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Jika perlu melibatkan akademisi untuk membuat inovasi dalam mengolah sampah, entah menjadi tenaga listrik, aspal, atau sesuatu yang lain. Dalam hal ini, masyarakat juga bisa diberdayakan melalui keberadaan bank-bank sampah. 

*

Yuk lihat asyiknya naik Bus Suroboyo di video ini:




(Nieke Indrietta)

#Surabayabus  #Suroboyobusfans  #DishubSurabaya
#masstransportation #publictransportation #environment #wastebank

NB: Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog yang diadakan Dinas Perhubungan Kota Surabaya

***
Pengen tahu tempat traveling asyik di Surabaya? Coba intip tulisan ini:

Traveling ke Surabaya: Wisata Sejarah Seputar Jembatan Merah

Traveling ke Surabaya: Pengalaman Mendebarkan di Atlantis Land