Menu

Percik Kata Nieke

Senin, 24 Mei 2010

Pena



"Apa yang saya lakukan tidak menentukan siapa saya
akan tetapi siapa saya menentukan apa yang saya lakukan.



Mungkin orang lain menilai apa yang saya lakukan bukanlah yang terbaik,
tetapi saya menilai diri saya sendiri telah melakukan yang terbaik.
Sebab proses panjang yang harus saya lalui itu lebih mahal,
daripada harga sebuah nilai baik yang diberikan oleh orang lain.

Hal yang terpenting, tanpa anugerahNya,
saya tidak mungkin melakukan yang terbaik."

-Nieke Indrietta-
(saya menulisnya tahun 2004)


Barisan kalimat ini adalah kata-kata yang saya cantumkan di halaman pembuka skripsi saya. Entah kenapa saya memutuskan untuk mencantumkannya. Tapi huruf-huruf itu tidak sekadar huruf. Ini adalah rhema dari perjuangan ketika saya menyelesaikan skripsi saya. Dan bukan tanpa tujuan saya menaruhnya pada teras skripsi saya. Saya berpikir, orang-orang yang akan memasuki periode semester akhir akan mulai melakukan riset atas skripsi-skripsi yang sudah ada. Sama seperti yang saya lakukan. Saya pikir, mereka juga merasakan apa yang saya rasakan.

Kesal. Lelah. Putus asa. Ingin segera lulus. Paling bete kalau ditanya, "Kapan skripsinya selesai?" Saya lebih suka ditanya,"Apa yang bisa kubantu? Apa ada kesulitan atas skripsimu?" Tapi kenyataannya tak ada orang yang bertanya seperti yang saya harapkan. Di saat-saat seperti itulah, saya belajar tidak mengandalkan orang lain--tapi TUHAN.

Belum lagi, jantung yang berdebar kencang ketika ujian pendadaran. Kaki yang gemetar kala masuk ruang sidang. Melihat dosen-dosen yang menuntut penjelasan. Perasaan campur baur tidak keruan. Ah... khawatir sama nilai ujian!

Lalu... plopp... kata-kata itu akhirnya muncul di kepala saya ketika saya menenangkan diri dan berdoa. Saya tak lagi peduli nilai akhirnya. Toh, saya sudah berusaha maksimal. Dan, ketika saya melihat hasil akhirnya. Saya menarik napas lega: A-. Saya tak menyangka mendapat nilai itu. Bukan nilai memang tujuan akhir saya. Saya sudah berada pada titik kepasrahan waktu itu.

Yah, akhirnya saya lulus di tahun itu. Dengan bahagia saya pandangi skripsi saya. Senang telah melakukan satu babak perjalanan dan menuju babak perjalanan berikutnya. Lalu saya bekerja. Kemudian saya ke Jakarta. Hingga lima tahun sudah saya menetap di Jakarta. Saya bahkan lupa pada barisan kata-kata ini.

Hingga suatu malam, saya terbangun. Tak bisa tidur. Saya pikir, oke, jika saya terbangun di tengah malam atau subuh, artinya saya mesti ngobrol nih dengan TUHAN. Lalu membuka jurnal saya. Memulai percakapan. Selesai. Tapi mata tetap belum bisa terpejam.

Jari saya meraih leptop mungil berwarna merah muda. Mengakses jaringan dunia maya. Entah kenapa, saya iseng googling nama sendiri. Google : Nieke Indrietta. Wuss, wuss, wusss. Muncul deretan berita dan tulisan yang telah saya buat selama saya bekerja di media.

Klik, klik, klik. Hingga saya menemukan potongan barisan ini:


"Apa yang saya lakukan tidak menentukan siapa saya akan tetapi siapa saya menentukan apa yang saya lakukan....... Nieke Indrietta

Ia menulisnya di Friendster miliknya. Sebuah jejaring media sosial yang kini tak lagi eksis.

Woww... seseorang mengutip kata-kata saya di profil Friendster-nya! Waahh... Saya klik link itu. Ternyata dia adik tingkat di tempat saya kuliah. Tapi saya tidak mengenal dia. Selisih tahun masuknya sudah cukup jauh. (Upss.. ketahuan deh saya angkatan tua, hihihihi. Saya berjiwa muda loh!)

Saya benar-benar terharu. Setelah mengutip kata-kata saya, orang ini mengucapkan terima kasih pada kalimat-kalimat saya yang menjadi inspirasi untuknya. Dalam menjalani skripsinya.

Saya punya keyakinan, Tuhan memberi kita talenta untuk suatu tujuan. Tuhan memberi kata-kata yang menari-nari dalam pikiran kita untuk suatu tujuan. Kita bisa membuat barisan kata-kata untuk membangun kehidupan orang lain, menjadi inspirasi, memberi semangat. Kata-kata pun juga bisa menjadi senjata mematikan: justru membunuh karakter orang, membuat kehidupan orang lain tak berkembang, menjatuhkan harga diri orang. Pilihannya ada di kita.

Kita juga punya pilihan untuk bersikap egois dengan menyimpan kata-kata itu dalam benak kita saja. Menikmati barisan kata-kata yang Tuhan inspirasikan dan bisikkan ke telinga kita. Lalu menyimpannya untuk diri sendiri. Atau, menjadi "pena hidup" yang menuliskan kata-kata itu dan membuat orang-orang yang dahinya berkerut menjadi tersenyum. Seperti halnya ketika kita merasa lega atau merasa menemukan sesuatu dari buku yang kita baca. Ketika kita menemukan kutipan-kutipan favorit kita.



Nieke Indrietta
24 Mei 2010


Kamu suka tulisan seperti ini? Coba intip yang ini juga:

Apakah Semua Pertemanan di Dunia Maya itu Palsu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.