Menu

Percik Kata Nieke

Kamis, 17 September 2020

Berlibur ala Eat, Pray, Love di Telaga Sarangan

Kalau ingin menjalani liburan ala Eat, Pray, Love seperti Elizabeth Gilbert ternyata tak mesti harus ke Bali. Saya mencoba eat, pray, love versi saya di Sarangan, Magetan.

Telaga Sarangan, Magetan
Danau Sarangan. Foto: Nieke

Bunyi gemerincing lonceng kecil memecah keheningan pada pukul enam pagi. Berdenting kencang menjadi penanda penghuni rumah Domus Mariae untuk memulai mendaraskan doa-doanya. Terdengar pintu-pintu kamar dibuka. Suara langkah-langkah kaki bergegas menuju kapel untuk berdoa di tengah udara dingin yang menggigit kulit.

Suhu udara pagi itu mungkin sekitar 15 derajat. Sudah lebih hangat ketimbang malam di atas pukul 21.00 hingga pukul 05.00 yang rasanya seperti dimasukkan ke dalam lemari es bagian atas, bagian pembeku. Saya tak bisa tidur nyenyak semalaman lantaran dingin yang menyergap. Padahal sudah mengenakan long john, dilapis celana training berbahan tebal, kaos kaki wol, sarung tangan, baju lapis dua plus jaket musim dingin. Tubuh saya gemetaran dan gigi gemelutuk lantaran hawa dingin pekat.

Toh, saya ikut menggerakkan kaki menuju kapel setelah sebelumnya menyeruput segelas teh panas di kamar. Pagi ini saya tak mengenakan long john, hanya kaos dilapisi sweater wol, celana kain, kaos kaki, dan sepatu kets. Angin berhembus kencang. Matahari tampak malu-malu duduk di tahtanya. Jarak antara kamar-kamar rumah Domus Mariae dengan kapel hanya sepelemparan batu. Hanya dalam beberapa menit, saya telah tiba di kapel.

Domus Mariae, Sarangan
Kapel di Domus Mariae, Sarangan, Magetan, 
Jawa Timur. Foto: Nieke

Puluhan orang telah berlutut di bangku-bangku kapel dengan berjarak. Saya mengambil bangku paling belakang. Tak ada sepatah kata. Setiap orang berbisik lirih dengan harapan masing-masing. Satu jam kemudian, satu demi satu meninggalkan kapel. Ada yang menuju aula, ada yang menuju ruang makan. Siang hari, biasanya mereka akan menghabiskan waktu dengan sesi doa atau renungan. Ini hari kedua saya berada di Desa Mandoran, Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

*

Telaga Sarangan bukanlah hal asing bagi saya. Waktu SMP, angkatan saya pernah berwisata bersama ke tempat ini. Tapi tak banyak kenangan yang saya ingat soal itu. Pernah pula bersama keluarga menginap di hotel di Telaga Sarangan ini semalam, menikmati naik kuda, dan jalan-jalan di danau. Lalu pada saat saya mahasiswa, pernah mengadakan kemping dan mengadakan acara api unggun di Tawangmangu, tak jauh dari telaga ini.

Puluhan tahun setelah itu, saya menginjakkan kaki kembali di Sarangan, September 2019. Ah, tepat setahun yang lalu ternyata. Hari pertama saya bermain di Telaga,  jalan-jalan menyusuri tepi danau. Kami sampai di Sarangan setelah perjalanan beberapa jam dari Surabaya melalui jalan tol. Sekitar hampir empat jam. Cukup cepat dibanding masa lampau yang bisa makan waktu lebih dari setengah hari untuk mencapai tempat ini.

Matahari selaras tegak di langit saat saya tiba. Tak banyak yang berubah, kecuali kios-kios yang berjajar melingkari tepi telaga kian banyak. Pengunjung lalu lalang menikmati udara yang sejuk dan birunya telaga bersanding dengan gunung yang menjulang kokoh di belakangnya. Deru mesin speed boat memecah riak danau. Kalau dipotret, sekilas seperti pemandangan di luar negeri. Saya sempat mengabadikan beberapa gambar.

Telaga Sarangan, Magetan
Telaga Sarangan dikelilingi bukit dan gunung. 
Foto: Nieke

Kalau melihat danau begini, entah kenapa langsung terbayang di benak saya satu adegan di drama Korea Crash Landing on You. Saat Kapten Ri Jeong-hyuk yang diperankan Hyun Bin memainkan pianonya di tepi danau di Swiss. Uhuk, uhuk. Saya rasanya ingin menaruh piano di sana, lalu memainkan tuts-tutsnya. Walaupun lagu-lagu yang bisa saya mainkan barangkali lagu anak-anak sederhana. Tapi penasaran juga, seperti apakah suara denting piano kalau dibawa ke sana? Apakah menggema hingga ke ujung bukit? Apakah menggapai ke atas gunung?

Indonesia punya pemandangan yang tak kalah memukau dengan adegan di drakor Crash Landing on You. Bolehlah sedikit berharap, film televisi bakal punya skenario-skenario yang plotnya sekuat drama Korea dan menyajikan pemandangan Indonesia yang tak kalah memukaunya dengan luar negeri.

Lamunan saya buyar. Derap langkah kuda menyentuh aspal bercampur dengan riuh pengunjung siang itu. Para pedagang kios menawarkan jajanan khas daerah, es krim, dan bakso. Aroma sate terhembus oleh angin, sungguh menggelitik tepat di saat perut meronta ingin makan siang. Saya ingin makan sate kelinci. Maka naluri mengarahkan saya untuk mencari kios penjualnya.


Suasana tepi danau Sarangan, Magetan
Pengunjung bisa menyusuri tepi telaga dengan sewa kuda.
Foto: Nieke

Aneka makanan dan jajanan khas di kios tepi danau Sarangan, Magetan.
Mulai dari bumbu petis, kerupuk, hingga buah-buahan
lokal dijual di kios tepi danau Sarangan, Magetan.
Foto: Nieke

Ada beberapa pilihan warung. Saya menjatuhkan pilihan pada warung yang berada tepat di pinggir danau, yang menyediakan ruangan dengan bangku dan kursi. Penjualnya memasak sate tepat di depan warung tersebut. Sebenarnya dia tak hanya menjual sate kelinci, ada pilihan sate ayam. Kisaran harga Rp 12-15 ribu saja sepuluh tusuknya. Hanya dalam waktu 20 menit, sate itu tandas. Saya memesan porsi kedua. 



Penjual sate di Sarangan, Magetan
Penjual sate di Telaga Sarangan, Magetan.
Foto: Nieke

Setelah perut tenang (iya, tenang tak sekadar kenyang), saya ingin menikmati berjalan kaki menikmati pemandangan. Saya mengambil posisi di dekat tulisan kilometer nol Telaga Sarangan. Memandangi perahu mesin cepat yang lalu lalang. Sesekali membantu turis domestik memotret rombongan mereka. Ibu saya berjalan bersama teman-temannya berbelanja di kios-kios. Melihat pemandangan seperti ini saja saya sudah senang.

Sepuluh tahun lebih, saya menghabiskan waktu di belantara rimba beton bernama Jakarta. Mengarungi jalanan yang berdebu, berangkat mengalahkan fajar menyingsing dan pulang setelah matahari terbenam. Bahkan kadang dinihari. Sangat jarang saya bisa menikmati wisata yang menyodorkan keindahan alami ciptaan Tuhan. Hm, saya kurang piknik waktu merantau di Ibu Kota.

Wisata Ibu Kota kebanyakan hanya wahana bermain, mal, pusat perbelanjaan, dan spot-spot Instagramable. Ada sih, bonus indahnya langit senja dilihat dari pencakar langit. Paling jauh, sweet escape ke Bogor atau Kepulauan Seribu. Maka, menikmati pemandangan alami dengan udara yang sejuk bersih polusi seperti ini menjadi teramat istimewa bagi saya kali ini. Barangkali lantaran itulah, liburan ke Sarangan kali ini membekas dalam ingatan.

Matahari makin condong ke barat. Biasanya, wisatawan akan singgah ke tempat-tempat wisata dekat Telaga Sarangan, usai puas bermain di danau. Misalnya kebun stroberi, taman hutan Mojosemi, air terjun Tirtasari, Lawu Park, bahkan ke Tawangmangu yang berarti melintasi provinsi Jawa Tengah. Banyak tempat wisata bertebaran sekitar Telaga Sarangan. Waktu SMP, rombongan saya mengunjungi Tawangmangu terlebih dulu setelah itu ke Telaga Sarangan. Letak Telaga Sarangan di Kabupaten Magetan memang mendekati perbatasan wilayah provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Menjelang sore, saya, Ibu, dan teman-temannya naik dari telaga. Rumah retret Domus Mariae letaknya lebih tinggi dari telaga, berjarak hampir dua kilometer. Di rumah itu, kami menjalani hari-hari dalam hening, meditasi, dan doa. Bisa dibilang, kalau ingin menjalani liburan ala Eat, Pray, Love seperti Elizabeth Gilbert tak mesti harus ke Bali. Sarangan pun bisa. 

Pemandangan Sarangan dari atas Desa Mandoran, Magetan, Surabaya
Pemandangan di sekitar desa Mandoran, Sarangan, Magetan.
Foto: Nieke

Tahun lalu saya beruntung. Beberapa bulan setelah itu--akhir Desember saya kembali lagi ke Sarangan, kali ini bersama keluarga besar. Kami menginap di sebuah hotel yang tak jauh dari Telaga Sarangan. Bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Lagi-lagi, saya mencari sate kelinci yang penjualnya bertebaran, bahkan keliling dari hotel ke hotel. Lumayanlah, saya tak perlu berjalan jauh-jauh.

Pada liburan akhir tahun itu, saya menjajal keluar mendekati area danau malam hari. Bersama seorang tante saya, kami mengenakan jaket tebal dan kaos kaki wol. Saat itu pukul sebelas malam. Kami ingin menikmati wedang ronde. Udara dingin memang memancing untuk makan terus. Padahal sorenya saya makan sate kelinci dua porsi dan nasi campur.

Baru saja keluar pintu hotel, angin berhembus kencang. Sejak siang memang hujan, baru menjelang sore menjelma rintik-rintik. Malam ini, hujan sepenuhnya reda. Sebenarnya saya dan tante juga sudah makan nasi dengan sayur dan sepotong ayam sebagai makan malam. Namun kami ingin menikmati minuman hangat.

Begitu merasakan terpaan angin, kami merapatkan jaket. Ternyata jalan menuju danau gelap pekat. Hanya jalan sepanjang hotel yang terlihat terang dengan lampu-lampu jalanan dan cahaya lampu dari bangunan-bangunan. Di sekitar hotel cukup banyak restoran dan warung, serta toko kelontong.

Saya dan tante terus berjalan. Kios yang menyediakan minuman hangat tujuan kami, yang jaraknya hanya beberapa bangunan dari hotel tempat kami menginap ternyata baru saja menutup tokonya. Kami pun jalan berbalik arah ke hotel. Namun dalam perjalanan balik, kami bertemu penjual ronde ronde keliling.

“Beli ini aja yuk,” ucap tante saya.

Saya tentu saja setuju, tak mau perjalanan keluar hotel berjalan kaki dengan suhu di bawah 15 derajat terbuang sia-sia. Kami menikmati semangkuk ronde di tepi jalan, dengan hanya duduk di atas dingklik  panjang plastik. Semangkuknya hanya Rp 7 ribu. Tante saya masih beli dua porsi lagi untuk ibu saya dan anaknya di kamar hotel. Dengan demikian, kami kembali ke kamar hotel dengan tenang dan kenyang.

Keesokan paginya, kami berkemas-kemas untuk menuju Bukit Sekipan, Tawangmangu. Yap, kami akan melintasi provinsi Jawa Tengah. Ini termasuk wisata baru. Saya belum pernah ke sana sebelumnya. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari Sarangan, sekitar 30-40 menit berkendara mobil.

Ternyata Bukit Sekipan adalah wisata yang menyajikan spot-spot foto. Ada beberapa wahana permainan di dalamnya. Keluarga saya berpencar dan asyik dengan pilihannya masing-masing. Ada yang menjajal berfoto di rumah bergaya Jepang dan Korea. Ada yang naik kereta yang mengelilingi seluruh area wisata, relnya berada di atas sehingga bisa melihat seluruh pemandangan. Seru sebenarnya.

Saya memilih duduk santai di ayunan sambil menghirup udara segar, dan menikmati minuman hangat yang baru saya beli di kafe. Bukan lantaran tempat wisatanya yang tak menarik, saya hanya hendak menikmati hening di tengah riuh. Saya melemparkan pandangan ke gunung dan bukit yang mengelilingi tempat wisata ini. Merekamnya dalam ingatan. Serba hijau dan menyegarkan mata. Sesekali tak update Instastory dan feed Instagram tak apalah. Saya hanya ingin menikmati waktu saja.

Nieke Indrietta


Tulisan saya lainnya soal perjalanan/wisata/traveling klik di sini.


36 komentar:

  1. Membaca tulisan Mbak Nieke, saya teringat tulisan-tulisan dalam buku Jurnalisme Sastrawi. Gaya penulisannya mirip ini. Keren.

    BTW ronde ronde itu apa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, maaf, lupa mendeskripsikan minuman ronde. Ini sebuah minuman yang biasanya disajikan hangat atau panas. Isinya air mengandung jahe, kolang-kaling, kacang tanah, mutiara (semacam cendol tapi bentuknya kecil-kecil seperti mutiara). Biasanya diminum untuk menghangatkan tubuh. Ini minuman yang populer di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Nanti saya coba tambahkan foto ronde dalam artikel. Terima kasih, Mbak Mugniar.

      Hapus
  2. Bentuk Chapelnya menarik sekali, banyak unsur segitiganya.. seperti Chapel yang dibuat Le Corbusier di Perancis, tapi ini lebih lokal karena dominan kayu dan material alam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah jadi kepo saya sama chapel Le Corbusier di Prancis. Coba saya searching di Google ah.

      Hapus
  3. Viewnya keren y kak. Kak nieke asli Magetan? Btw style nulisnya canggih nih bermajas majas.. Biasa nulis cerpen sih ya 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya asli Surabaya. Ke Magetan main-main saja :D Refreshing. Lumayan enak di sini. Adem.

      Hapus
  4. Wahhh tempatnya keren bangettt aaaaa.. Pemandangannya kayak di puncak merbabu hhi.. Btw dingklik itu kursi yang pendek kan yaaa hihi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah mampir di sini. Pemandangan Merbabu bagus juga ya, Kak? Saya jadi penasaran ke sana.

      Hapus
  5. Waa bagus dan tampak luas juga yaa Danau Sarangan ini. Aku blom pernah ke Magetan. View dari arah Desa Mandoran juga cantik bangeeett. Jadi pengen liburaaannn

    BalasHapus
    Balasan
    1. View dari Mandoran bagus-bagus. Cuma di Mandoran kebanyakan rumah penduduk dan sawah-sawah.

      Hapus
  6. Aq Belum pernah ke Telaga Sarangan. Tapi suatu saat pengen kesana. Postingan ini Alhamdulillah bisa menggambarkan kondisi disana jadi sedikit tau deh

    BalasHapus
  7. Sudah lama tidak baca kisah perjalanan ala majalah intisari atau Jakarta-Jakarta atau Femina.
    Detail dan membawa pembaca turut merasakan nuansa dari suasana yang ada di tempat wisata.

    Saya tahunya Sarangan itu dari permainan monopoli. Di kartu yang ada tulisan Telaga Sarangan tetapi tidak tahu seperti apa tempatnya.

    Pantesan masuk permainan monopoli karena tempatnya indah sekali.

    15 derajat Celcius itu sudah bikin saya kedinginan, tapi baguslah jika suhunya gitu saat siang. Lagi kepanasan, soalnya, hi hi.
    Gimana rasanya jika naik speed boat di sana? Keren banget. Liburan kayak d luar negeri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau malam bisa minus, Teh. Tergantung pas bulan apa. Ini bangunan tempat saya nginap yang desainnya salah, semua dari tembok beton, lantai ubin, kasur bed. Harusnya dinding dipadu kayu, lantai kayu atau ubin yang bersifat menghangatkan, bed jangan spring bed tapi kapuk. Mungkin bakal bisa melawan cuaca dingin yang kalau tengah malam hingga subuh beneran dingin. Pakai long john enggak bisa ngatasi :D

      Hapus
  8. cantik banget tempatnya, suka sampai warna biru gitu airnya, wow juga ya lumayan suhu udaranya kalau malam bisa capai 15 derajat, auto harus bawa jaket tebel dan hangat ini mah mba Nieke. Ada sate kelinci wow, murah juga ya harganya 15-20 ribu mah, tapi saya belum pernah nyobain sih sate kelinci, enakakh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cobain sate kelinci, enak banget. Cocok sama hawa dinginnya. Minumnya juga yang panas-panas. Mantap dah.

      Hapus
  9. Liburan eat pray love kayak gini sepertinya cocok ya kalau dikondisikan saat pandemi, liburan di tempat yang aman dengan diisi ibadah dan cinta cukup di dalam penginapan aja gak perlu ke mana2 hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Liburan yang cocok kala pandemi. ^__^ Ini liburan sebelum pandemi aja udah bikin mager, apalagi kalau pas pandemi ya.

      Hapus
  10. Jadi pengen wedang ronde hehehe. Baca ini serasa ikut Mbak Nieke jalan-jalan ke Telaga Sarangan. Tempat yang sering saya dengar namanya tapi belum pernah saya kunjungi. Ternyata bagus banget yaaa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mampirlah ke Sarangan, Mbak Alfa. Biar enggak gerah sama hawa panas dan sumuk di Sidoarjo. Hehehe. Sekalian refreshing.

      Hapus
  11. Pemandangannya sangat bagus. Emang ya apalagi di masa pandemi seperti sekarang, ga harus jauh untuk mencari hiburan. Di sekitar saja dulu yg penting maksimalkan dan tetap jaga protokol kesehatan

    BalasHapus
  12. Mba Nieke jagoaaan banget isshh kalo mendeskripsikan destinasi.
    bikin mupeng!
    Aduuh, sekarang aku mupeng Ronde :D

    BalasHapus
  13. wuah keren sekali pengalamannya
    kutiru deh
    mau kucobain liburan ala eat pray love di jember atau lumajang hoho

    BalasHapus
  14. Wah..membayangkan saja pasti saya gak tahan dengan dinginnya telaga Sarangan. Bisa-bisa ngopi terus nih sebagai penghangat badan. Sepertinya asyik juga menyusuri tempat-tempat wisata yang searah ya mbak, apalagi bersama keluarga besar.

    BalasHapus
  15. Kapelnya bagus, bikin betah untuk berdoa di dalamnya. Pengen tahu juga sih dalemnya kayak apa...Suasana lingkungan dan hawa yg sejuk mendukung untuk merenung ya.
    Btw...aku salfok ama satenya. Huhu, nikmat banget, dingin-dingin lalu nyate.

    BalasHapus
  16. Telaga Sarangan cocok ya bagi yang mencari liburan kombinasi antara kedamaian dan serunya wisata kuliner. Bayangin Hyun Bin main piano di tepi telaga, uwooo.

    BalasHapus
  17. Aku belum pernah lo ke Sarangan. Waduh kacian yaaaa. Sementara menikmati tulisan ini aja wis

    BalasHapus
  18. Kalo ingat Telaga Sarangan koq ingatan saya ke Grojogan Sewu ya... Ternyata memang keduanya di kaki Gunung Lawu. Saya asli lereng Gunung Merapi yang setiap malam juga dingin, tapi saya tidak bisa membayangkan apakah saya sanggup menahan dinginnya udara di sekitar Telaga Sarangan :)

    BalasHapus
  19. Saya sudah pernah berkunjung ke telaga sarangan jauh sebelum pandemi corona, asli bagus banget pemandangannya. Berkeliling telaga dengam speedboat dan naik kuda. Pasti liburan yang sangat berkesan ya, karena di lakukan bersama keluarga tercinta.

    BalasHapus
  20. Berlibur jauh dari keriuhan ibukota tentu sangat berkesan ya, Mbak.
    Mensyukuri indahnya pemandangan alam, menikmati lezat kuliner khas daerah serta bersapa dengan keramahan penduduk lokal

    BalasHapus
  21. Rindu dengan suasana alam yang indah dan terhampar luas juga interaksi dengan para penjual.
    Jadi berasa jadi Julia Roberts.
    Hihi~

    BalasHapus
  22. Wah kalau ada waktu jalan jalan ke daerahku mbak, ke danau kerinci, air terjun telung berasap dan mendaki gunung Kerinci. Kalau kesini bisa makan sambil minum air. Eh, hihihi. maksudnya banyak yang bisa langsung dikunjungi sekali jalan. Telaga gunung tujuh hampir mirip nih sama telaga serangan. Uniknya di sini telaganya diatas gunung tujuh.

    BalasHapus
  23. wahh sarangan...
    sudah lama g ke sarangan...
    ternyata jadi makin bagus dan nyaman buat berlibur ya mbak

    BalasHapus
  24. Baca tulisan mbak ditambah foto-fotonya yang bagus banget jadi serasa ikut liburan juga ke Telaga Sarangan. Liburan kesana seru juga kali ya mbak, jadi penasaran..

    BalasHapus
  25. Saya belum pernah ke Magetan nih mbak nieke..mupeng bgt bisa wisata ke sana.. mudah mudahan bisa rezeki ya kesana

    BalasHapus
  26. Kayaknya saya pernah mendengar nama Telaga Sarangan ini tapi nggak tahu lokasinya di mana. Ternyata di Jawa Timur ya, mbak. Cakep banget pemandangannya di sana

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.