Menu

Percik Kata Nieke

Minggu, 23 September 2018

Crazy Rich Asians (Wannabe) dan Kelas Menengah Ngehek

Foto diambil dari:  IMDB
Crazy Rich Asians adalah film yang menghibur. Ceritanya sebenarnya klise, kisah ala putri Cinderella. Seorang perempuan biasa bertemu dengan seorang pria yang ternyata kaya raya anak konglomerat dan calon pewaris tahta keluarga. 

Seperti judul filmnya, Crazy Rich Asians, tentu saja seluruh pemainnya orang Asia. Ini menyenangkan karena selama ini film bioskop selalu didominasi ras kulit putih kaukasia. Orang Asia hanya menjadi figuran dan pendamping, atau ditampilkan dengan peran dan stigma tertentu. Tapi saya nggak bakal bahas itu. Saya juga nggak bahas isi filmnya, udah banyak yang bikin. 


Crazy Rich Asians menggambarkan kehidupan glamour orang-orang yang kekayaannya bisa sampai tujuh turunan. Seperti halnya kisah ala-ala Cinderella, digambarkan dong... kemewahannya seperti apa. Rumah seperti istana, cowoknya super ganteng seperti pangeran serta baik hati dan tidak sombong. 



Kalau kamu demen nonton Meteor Garden, kemungkinan besar bakal suka dengan Crazy Rich Asians. Ceritanya mirip, namun lebih sederhana dan tak bertele-tele. Oh syukurlah, yang mbulet dan ruwet cukup kehidupan nyata sinetron aja. Ini adalah kisah asmara Nicky Young dan Rachel Chu yang nggak direstui lantaran si perempuan bukan siapa-siapa (artinya: bukan anak orang kaya, anak imigran di Amerika Serikat, latar belakang keluarga berantakan). Padahal Rachel adalah tipikal perempuan modern yang mandiri, cerdas, profesor ekonomi di sebuah universitas, hidup mapan. Bukan cewek matre. Tapi tetap saja, meminjam istilah Michele Yeoh yang memerankan Eleanor, mamanya Nick Young, 

"Kamu bukan berasal dari golongan kami."

Jleb. 


Dok. pribadi
Awalnya Rachel memang enggak tahu Nicky Young dari keluarga crazy rich, soalnya tiap kali ditanya soal keluarga selalu ngeles dan bilang," Keluargaku comfortable." (Beginilah cara orang super duper kaya pewaris tahta keluarga yang bisnisnya diceritakan berkuasa di Singapura--menggambarkan keadaan keluarganya. Bandingkan dengan kamu, saya, kita, kelas menengah ngehek yang nongkrong di kafe minum kopi setarbak berlogo putri duyung aja udah merasa kaya).

Uhuk.

Crazy Rich Wannabe

Dalam sebuah kelompok masyarakat, selalu ada kelompok elit entah elit karena profesi, kekayaan, atau sesuatu. Contohnya kelompok F-4 dalam drama fiksi Meteor Garden yang anggotanya empat cowok ganteng dan anak orang kaya. Dan ya, yang semacam itu ada kok di sekitar kita. Saat saya masih memakai rok seragam sekolah abu-abu sebuah sekolah swasta favorit di Surabaya, ada grup-grup semacam itu. 



Beberapa di antara mereka mungkin nggak menyadari telah membentuk semacam grup eksklusif. Tapi ada pula yang melakukannya dengan sadar dan menyeleksi orang-orang yang bisa masuk dalam lingkaran pertemanan mereka. Nggak semua kelompok anak orang kaya ini eksklusif, ada pula yang membaur dengan teman-teman lainnya dari segala kalangan. Lah, jadi keinget guyonan di media sosial dengan hashtag alias tagar #CrazyRichSurabayans.

Di luar kelompok-kelompok itu, salah satunya adalah kaum crazy rich wannabe, anak-anak dari kelas menengah yang mungkin dibesarkan dengan nilai-nilai bahwa menjadi kaya berarti dihormati. Mereka inilah yang kemudian berusaha untuk diterima dalam kelompok-kelompok ekslusif itu, masuk dalam lingkaran pertemanan mereka. Atau mungkin, mereka kebawa pergaulan aja kali ya. Soalnya grupi-grupi elit itu biasanya obrolannya seputar barang-barang branded, tempat-tempat classy, dan liburan di luar negeri. Jadilah, supaya obrolan nyambung, mereka pun berusaha menguasai topik-topik itu. Sebenarnya nggak masalah jika ini menjadi alasannya. Kita kan memang perlu memperluas pergaulan dan pengetahuan hidup. Dunia nggak selebar daun kelor.

Menjadi problem, ketika seseorang kemudian mengubah gaya hidupnya menjadi semacam crazy rich agar diterima berteman dengan orang lain. Mulai mengenakan barang branded, mengunjungi tempat-tempat berkelas, hingga yang paling ekstrem: mengarang cerita seolah anak orang kaya, mengarang cerita seolah bergaya hidup borjuis, mengarang cerita punya A dan B, dan semacamnya.


Menjadi problem, ketika seseorang kemudian mengubah gaya hidupnya agar terlihat dari latar belakang keluarga crazy rich, agar diterima berteman dengan orang lain.


Kelas Menengah Ngehek

Istilah ini saya dengar beberapa tahun kemudian, ketika tak lagi mengenakan seragam rok putih abu-abu, ketika saya mengelana di Jakarta. Istilah kelas menengah ngehek ini dipopulerkan di Twitter--entah oleh siapa, sekitar tahun 2014-2015 (Correct me if I am wrong).

Saya nggak menemukan definisi kelas menengah ngehek di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Yang ada hanya kelas menengah, yakni kelompok masyarakat berdasarkan pendidikan dan penghasilan berada di antara golongan masyarakat bawah (miskin) dan atas (kaya). Dibilang miskin ya enggak karena mapan atau cukup, tapi dibilang kaya juga enggak. Tapi gaya hidupnya condong ke atas. Begitulah. Sementara ngehek berarti menyebalkan dan mengesalkan. Kelas menengah ngehek = kelas menengah yang nyebelin. Kira-kira begitu kayaknya. 

Nek salah sepurane yo. Sek, tak takon pakar bahasa. (Kalau keliru sorry ya, ntar nanya ahli bahasa). Wkwkwkwk.
Dok. pribadi

Kelas menengah ngehek kadang digambarkan netizen--yang kebanyakan hidup di Jakarta--di media sosial sebagai satire, bercandaan, tanda keakraban, dan ada yang bangga menyebut dirinya kelas menengah ngehek. Hahaha. Entah kenapa saya kok yakin kelas menengah ngehek bukan cuma di Jakarta. Namun, ada beberapa hal dari kelompok ini yang mengingatkan saya pada kawan-kawan semasa mengenakan seragam rok putih abu-abu, grup crazy rich wannabe.


  • Gaji sebenarnya lumayan cukup. Kelakuan tiap hari minum kopi setarbak, tapi air minum mineral aja ngambil dari kantor. Bro dan Sis, daripada kayak gitu, mending beli setarling aja. Setarling=setarbak keliling. Kalau di Jakarta, penjual setarling keliling pakai sepeda sambil bawa kopi sacet, termos, dan gelas. Harganya cuma Rp 5-7 ribu. Duitmu ditabung aja. (Pernah ngobrolin soal ini di media sosial, terus ada temen yang tinggal di Singapura cerita, temen kantornya juga begitu. Nah kan, kelas menengah ngehek gak cuma di Jakarta. Wakwaawwww....)
  • Bisa nongkrong di kafe yang harga makanan dan minumannya di atas standar tiap akhir pekan. Tapi mau nyicil beli rumah empot-empotan, ngutang temen buat bayar kosan dan biaya hidup, atau ternyata kosannya di kawasan shanty town
  • Pakai barang branded. Belinya sih mungkin sanggup, meski ada yang dengan cara nyicil pakai kartu kredit. Tapi sebenarnya kalau dipertimbangkan lagi, itu duit bisa dibuat nyicil beli rumah pribadi, motor, mobil, atau kebutuhan keluarga lain. Tabungan masa depan. 
  • Yang ekstrem, adalah mengarang cerita. Sebenarnya termasuk kelas menengah atau bawah, tapi membuat cerita seolah punya ini itu. Pernah ke negara A atau kota B. Liburan di C dan D. Bisa juga membuat pencitraan  di media sosial memajang gaya kehidupan dengan mengenakan barang bermerek, gaya hidup jetzet, liburan ke luar negeri, tapi semuanya diperoleh dengan cara berutang. Beberapa berakhir menyedihkan, dikejar debt collector.

Barang Bermerek Bukan Lambang Jati Diri

Kenapa mesti bergaya hidup berbeda dari sebenarnya untuk diterima orang lain? Bukanlah lebih menyenangkan berteman dengan orang yang bisa menerima diri kita apa adanya? Bukanlah lebih nyaman ketika kita bisa menjadi jati diri kita apa adanya dalam sebuah pertemanan? Tidakkah itu seperti berusaha membohongi diri sendiri dan orang lain? 

Persoalannya bukan hanya soal kebohongan yang suatu saat bisa ketahuan. Persoalannya adalah--bila seseorang justru tidak berbohong dan mungkin memang mampu membeli gaya hidup seperti crazy rich. Tapi kemudian pertanyaan selanjutnya, teman seperti apa yang kamu miliki? 


Foto pribadi. Kredit foto: Nieke

Ibu saya pernah bilang, kehidupan itu seperti roda yang berputar. Kadang kita bisa berada di atas, kadang berada di bawah. Jika berada dalam masa sulit, akankah teman-teman itu tetap di samping kita? Bandingkan jika kita tetap memegang jati diri yang sebenarnya, tak mengenakan topeng. Lalu suatu ketika kita mengalami kesusahan, orang-orang yang berada di sekitar kita tentunya adalah orang-orang yang benar-benar mengenal siapa kita. Mereka yang berteman dengan kita karena siapa kita, kepribadian dan karakter kita--bukan karena harta, bukan karena merek jam tangan yang kita pakai, bukan karena tas bermerek yang kita kenakan, bukan karena sepatu borjuis, bukan karena kita kerap nongki-nongki di tempat berkelas.

Tidakkah itu lebih menyenangkan?

(Nieke Indrietta)

***

Mau baca artikel soal traveling dan kuliner, klik di sini ya.
Ingin baca artikel seputar film dan drama serial termasuk drama Korea, klik di sini