Menu

Percik Kata Nieke

Senin, 13 Agustus 2018

Traveling ke Purbalingga: Singgah di Masjid Cheng Hoo

Masjid Cheng Hoo ternyata juga ada di Purbalingga. Arsitekturnya sekilas mirip kelenteng. Dari jauh pun saya bisa melihat bagian atapnya yang berbentuk pagoda.


masjid Cheng Ho di Purbalingga, Jawa Tengah
Pintu masuk ke masjid Cheng Hoo di Purbalingga. (Kredit foto: Nieke)


Arsitektur Masjid Cheng Hoo yang terletak di pinggir jalan itu pasti langsung mencuri perhatian orang yang melewati jalan raya desa Selaganggeng, Mrebet, Purbalingga. Sekilas mirip kelenteng. Warna bangunannya dominan putih dan merah. Dari jauh pun saya bisa melihat bagian atapnya yang berbentuk pagoda.

Saya tak sengaja menemukan dan singgah di Masjid Cheng Hoo di Purbalingga kala dalam perjalanan dari Jakarta menuju kota Yogyakarta, melewati Purbalingga. Matahari tak lagi tepat di atas kepala dan hendak pulang ke barat. Sekitar pukul 15.00. Saya dalam perjalanan bersama keluarga paman dan bibi, serta anaknya--sepupu saya.


Masjid Cheng Hoo di Purbalingga
Masjid Cheng Hoo di Purbalingga (Kredit foto: Nieke)

Paman saya menepikan mobilnya di tempat parkir yang letaknya persis di depan bangunan tempat peristirahatan atau rest area Masjid Cheng Hoo. Tempat itu berupa restoran, kedai yang menjual oleh-oleh khas Purbalingga, dan toilet umum. Persis di sebelah bangunan masjid Cheng Hoo. Antara bangunan masjid dan tempat peristirahatan, terdapat sebuah pintu semacam gapura, yang menjadi pintu masuk untuk menuju taman selfie Masjid Cheng Hoo.

Dalam sejarahnya, Laksamana Cheng Hoo memang tidak pernah singgah ke Purbalingga. Muhammad Cheng Hoo adalah laksamana dari Tiongkok yang datang ke Indonesia pada 1410. Di Indonesia, masjid bernama Muhammad Cheng Hoo di antaranya berada di Surabaya, Pasuruan, Palembang, dan Banyuwangi. Saya pernah pula singgah di masjid Cheng Hoo Pasuruan. Adapun di Purbalingga, masjid ini dibangun sejak 2004 oleh Heri Susatyo bersama warga setempat. Pada 2011, masjid tersebut diresmikan.

Keberadaan masjid Cheng Hoo di Purbalingga menjadi magnet dengan keindahan arsitekturnya. Harga makanan restoran di rest area atau area peristirahatannya juga tidak mahal. Makanan yang disajikan adalah menu rumahan seperti sayur sop, sayur bayam, tahu, tempe, dan ayam. Berempat, dengan lauk nasi-sayur-telur dadar atau ayam, total sekitar Rp 50.000. Sudah termasuk minum teh manis atau es teh.

Toiletnya pun bersih dan rapi. Untuk mengakses toilet, pengunjung diminta menyumbang ala kadarnya. Sementara taman selfie masjid Cheng Hoo didesain seperti taman-taman di negeri panda. Sebuah danau yang cukup luas berada dekat pintu masuk. Di salah satu sisi danau terdapat jembatan kecil dengan desainnya seperti di film-film China zaman dahulu.

(Nieke Indrietta)



Artikel lainnya soal kuliner dan traveling, klik di sini yaaaa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.