Menu

Percik Kata Nieke

Minggu, 06 Juni 2010

Hari Ketika Guntur Mati


Guntur tak sedang menggedor-gedor langit. Tak ada suara gemuruh. Siang tadi langit mencucurkan airmatanya kembali. Rintik-rintik kecil yang tajam menghunjam ubun-ubun. Angin bertiup lirih membisikkan sebuah undangan. Pengadilan.

Awan-awan berlari cepat ingin tahu apa yang terjadi. Dalam sekejap mereka sudah bergerombol menjadi satu.

Salah seorang guntur ditemukan mati tadi siang. Itu sebabnya langit menangis dan tak ada suara menyalak dari atap bumi. Tak ada yang menjadi tersangka dalam peristiwa itu. Tapi pengadilan tetap berjalan. Awan-awan gemetaran. Sebentar Raja Langit akan datang. Tentunya akan menunjuk salah satu awan menjadi korban. Supaya tetap ada pengadilan.

Lalu awan putih menyembunyikan diri di balik awan hitam.

***
6 Juni 2010

1 komentar:

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.