Menu

Percik Kata Nieke

Selasa, 29 September 2020

Dieng, Candi Misterius di Tanah Para Dewa

Melihat candi-candi di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, membuat kita berimajinasi menjadi seperti Indiana Jones. 


Ilustrasi Dieng, Jawa Tengah
Ilustrasi  negeri atas awan. Sumber foto: Canva.

Apabila Peru memiliki cagar budaya Machu Picchu pada ketinggian 2.350 meter di atas permukaan laut, Indonesia punya kompleks percandian di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah, pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Berbeda dengan Machu Picchu yang merupakan peninggalan kerajaan Inca, candi-candi di Dieng yang jumlahnya ratusan bukanlah peninggalan kerajaan. Tapi merupakan pusat pendidikan religi Hindu. 

Situs-situs bersejarah candi beserta relief-relief kunonya selalu membuat saya berkhayal membayangkan diri sebagai Indiana Jones. Tokoh fiksi arkeolog dalam film yang diperankan Harrison Ford, yang kerap berpetualang ke tempat-tempat eksotis, kuno, peradaban lampau, dan situs-situs bersejarah salah satunya candi. Maka saat berselancar di dunia maya dan menonton vlog serta rekaman tayangan sebuah televisi swasta soal peradaban Dieng, saya otomatis membayangkan diri mengenakan jaket coklat, topi, baju kasual, dan celana gunung. Lalu menyusuri bangunan candi-candi di Dieng.

Pemandangan candi-candi Dieng entah kenapa dalam benak saya beresonansi dengan Machu Picchu. Bukan karena saya penggemar berat Indiana Jones dan salah satu filmnya menceritakan tentang situs kerajaan Inca di Peru tersebut. Mungkin lantaran sama-sama dikelilingi pegunungan dan berada pada ketinggian ribuan kilometer di atas permukaan laut. Sama-sama terlihat indah dan agak mistis ketika difoto dalam keadaan berkabut dari ketinggian drone, sehingga memperlihatkan lanskap gunung-gunung yang mengapitnya. Membuat seseorang seperti tersedot mesin waktu melalui tekstur bangunannya.


Dieng, Indonesia. Machu Picchu, Peru.
Kiri: candi di Dieng, Jawa Tengah, Indonesia.
Kanan: Machu Picchu, Peru.
Foto diambil dari Wikipedia.

Dataran tinggi Dieng adalah pemandangan yang membuat turis berdecak kagum. Sesuai nama yang disematkan pada dataran tinggi itu--Dieng berasal dari Bahasa Sansekerta, yakni ardhi yang berarti gunung dan hyang yang bermakna dewa. Konon, leluhur di Dieng percaya tempat itu merupakan tempat tinggal para dewa. Barangkali lantaran itulah, candi-candi dibangun di dataran tinggi Dieng sebagai tempat pemujaan, meditasi, sekaligus pusat pendidikan religi Hindu. 

Secara geografis, candi-candi itu berada di desa Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo dan Dieng Kulon, Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara. Di sebelah utaranya Kabupaten Kendal, sedangkan barat lautnya Kabupaten Pekalongan. Kompleks candi Dieng yang luasnya diperkirakan mencapai 90 hektare tersebut berhiaskan lanskap gunung dan perbukitan, di antaranya Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, dan Gunung Prau. Salah satu gugusan candinya, Arjuna, menempati lahan seluas 1 hektare di desa Dieng Kulon, Banjarnegara. Di lahan yang sama dengan Arjuna, berdiri candi Semar, Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra.

Tak diketahui mengapa penamaan candi-candi di Dieng yang berdasarkan tokoh-tokoh dalam kisah Mahabharata, misalnya Arjuna, Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra. Masih ada lagi candi-candi lainnya yang juga dilabeli nama seperti dalam kisah Mahabharata. Apakah nama-nama itu memang merupakan nama candi saat dibangun pada abad 7 M atau pemberian masyarakat setempat setelah ditemukan kembali, masih menjadi tanda tanya. 

Saya sendiri belum pernah berlibur ke Dieng. Tempat itu sebenarnya masuk dalam wish list destinasi traveling impian. Sempat ada rencana hendak singgah di Dieng saat liburan pertengahan tahun lalu, namun urung lantaran sesuatu hal. Jadinya cuma lewat Wonosobo lalu berlanjut ke Jawa Timur. 

Saat berselancar di dunia maya menggali cerita penemuan candi Dieng, saya menemukan sejumlah versi yang tersebar di situs berita. Ada kisah candi Dieng ditemukan oleh tentara Inggris yang sedang liburan di daerah situ pada 1814. Candi-candi itu  dalam keadaan terendam air yang menyerupai danau. Ada pula cerita yang menyebut, HC Cornelius yang berkebangsaan Inggris berupaya mengeringkan air pada 1856.

Versi lain kisah penemuan candi, ditemukan seorang Belanda bernama Theodorf van Elf--seorang Belanda, pada abad 18. Sekitar 40 tahun kemudian, atau sekitar 1956, seorang Belanda bernama Van Kingsbergen mengeringkan air telaga sehingga bangunan candi mulai terlihat menjejak tanah. Pemerintah Hindia Belanda melanjutkan proses pembersihan pada 1964. Van Kingsbergen terlibat dalam kegiatan itu dengan mencatat dan mengambil gambar candi-candi. Sayangnya upaya pemulihan candi pada masa awal tersebut, material bebatuan dari situs justru digunakan sebagai bahan pembuatan jalan untuk menuju kompleks candi.

Catatan pada masa Hindia Belanda di abad 19 menyebutkan sebenarnya ada 400 bangunan candi yang ditemukan pada masa itu. Jumlahnya kini tak sebanyak itu, banyak yang hilang akibat alam dan perbuatan manusia. 


Peta Dieng di Google Map
Peta Dieng di Google Map. Foto: screenshot dari Google.


Ada kemungkinan juga, candi-candi masih banyak yang belum ditemukan lantaran masih tertimbun di bawah bumi. Awal tahun ini contohnya, ditemukan potongan candi Ganesha di rumah warga setempat. Ceritanya, warga ini mau membangun septic tank. Setelah menggali sekitar semeter, malah menemukan candi. Beberapa tahun sebelumnya, 2013, warga juga menemukan candi Wisanggeni di bukit Pangonan, tak jauh dari kompleks Candi Arjuna. Meski candi-candi Dieng secara misterius bergiliran muncul dari perut bumi, tak serta merta misteri dan jejak peradaban Dieng terjawab. 

Berikut ini video yang menggambarkan penemuan candi di Dieng:


Sumber: channel Youtube Trans7 Official

Candi-candi di Dieng berada di kaldera gunung api purba dan dikelilingi gunung api aktif. Pemandangan inilah yang kerap membuat manusia abad modern terkesima, termasuk saya. Dalam benak saya bertanya-tanya. Bagaimana orang-orang pada masa itu bisa membangun candi-candi di wilayah yang sesungguhnya kawasan rawan bencana? Gunung-gunung api itu memang berstatus mati selama berabad-abad. Namun, kawasan Dieng juga memiliki aktivitas vulkanik di bawah permukaannya. Pun dengan kawah-kawah vulkaniknya yang masih aktif seperti Kawah Sileri dan Kawah Sikidang. Belum lagi, terdapat kawah yang mengeluarkan gas beracun.

Kawah Sikidang pernah meletus pada 2003 dan 2009. Pada Januari 2009, letusan lumpurnya hingga 2 kilometer dan menimbulkan longsor. Kawah Sileri--yang paling aktif--meletus pada 1944, 1964, 1984, 2003, 2009, dan 2017. Kawah Sinila yang pernah meletus pada 1979, memicu keluarnya gas beracun dari Kawah Timbang. Gas dari Timbang ini menewaskan ratusan warga setempat.

Pertanyaan berikutnya yang berkelindan, darimana orang-orang pada masa itu memperoleh kearifan, ilmu, dan teknologi dalam membangun candi-candi tersebut? Pertama, candi-candi itu memiliki struktur bangunan yang tahan gempa dan memperhitungkan kondisi alam. Kedua, bebatuan pada candi tersusun tanpa perekat. Bangunan memanfaatkan hukum gravitasi dan menggunakan sistem batu pengunci. Ketiga, sambungan batu-batu candi itu tidak solid, akibatnya bersifat elastis dan memiliki ketahanan terhadap gempa. 

Keempat, candi-candi ini dibangun pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, dataran tinggi yang dikelilingi gunung api dan kawah berstatus aktif. Bagaimana mereka mengangkut dan memindahkan material bangunannya? Candi Dieng menyimpan banyak misteri.

Belum lagi soal cuaca Dieng. Pada musim kemarau, suhunya antara 10-15 derajat Celcius di siang hari. Pada malam hari, suhu lebih rendah yakni 5-10 derajat Celcius. Terkadang bisa 0 derajat Celcius bahkan bisa minus 8 derajat Celcius. Nah di saat suhu mencapai titik terendah inilah muncul fenomena alam yang terkenal disebut bun upas. Semacam salju tipis menyelimuti daratan dan tanaman di dataran tinggi Dieng. 

Omong-omong, fenomena bun upas yang viral di media sosial ini menyebabkan turis berbondong-bondong ke Dieng sekitar Juli-Agustus. Sayangnya, kedatangan para wisatawan ini tak disertai dengan perilaku yang ramah lingkungan. Usai menikmati keindahan alam Dieng dan bun upas, tak jarang ditemukan sampah berceceran di mana-mana. Videonya bisa dilihat di sini.  Belum lagi ulah turis-turis usil yang berfoto dengan pose yang berisiko berpotensi merusak bangunan. Juga vandalisme. Duh. Gemas saya melihat perilaku manusia.


Ilustrasi candi yang berada di dataran tinggi dan
dikelilingi pegunungan. Ilustrasi dari Canva.


Kawasan Dieng diperkirakan telah menjadi peradaban sejak masa Kerajaan Kalingga, Mataram Kuno, hingga Mataram Islam. Tak ada yang mengetahui kapan pastinya pembangunan candi-candi tersebut, namun diperkirakan pada masa Kerajaan Kalingga. Sumber lain menyebut, candi-candi bergaya Hindu tersebut peninggalan Mataram Kuno yakni sekitar abad 7-8 Masehi. Kemungkinan candi-candi itu dibangun pada masa yang berbeda-beda hingga rentang waktu abad ke-13. Namun candi Arjunalah yang diperkirakan pertama dibangun.

Penemuan situs bersejarah pada akhir Juli 2020 lalu, menjadi salah satu hal yang memperkuat keyakinan para ahli bahwa itu peninggalan Mataram Kuno. Penemuan itu berupa undak-undakan atau jalur tangga kuno berupa batu yang disebut ondo budho di perbatasan Kabupaten Banjarnegara-Kabupaten Batang. Undak-undakan ini diyakini sebagai jalan bagi orang-orang pada masa itu untuk menuju kompleks percandian yang dianggap sakral. Jadi, saking dianggap sucinya tempat ini,  pada masa itu orang tak bisa masuk kawasan candi secara sembarangan. Harus melalui tangga batu tersebut.

Ada sebuah catatan peninggalan Belanda di Indonesia pada awal abad 19 yang menyebutkan empat jalur dari berbagai desa dan wilayah untuk menuju ke Dieng. Walau catatan itu memang tak menyebut spesifik soal bentuk ondo budho. 

Ondo budho yang ditemukan di Sikunang utuh pada bagian atasnya. Pada bagian tengah ada bagian yang terputus, barulah di bagian bawah terdapat belasan undakan. Mengutip BBC, Koordinator Unit Dieng Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Eri Budiarto menjelaskan lebar tangga kuno itu sekitar satu meter dengan panjang lebih dari 20 meter. Sayangnya, temuan potongan undak-undakan di kawasan Sipandu berupa benda yang tak sepenuhnya utuh. 

Konon, candi-candi di Dieng tak hanya merupakan tempat ibadah ritual keagamaan, namun juga pusat pendidikan agama Hindu. Ini berdasarkan prasasti Kuti yang dibuat tahun 809. Prasasti yang ditemukan dekat Candi Arjuna itu menyatakan Dieng merupakan pusat ritual Hindu. 

Sementara itu, prasasti Kapunuhan yang dibuat pada tahun 878 menyiratkan candi-candi di Dieng merupakan tempat pemujaan terhadap dewa Siwa. Mengutip BBC, Djaliati Sri Nugrahani, arkeolog dari Universitas Gadjah Mada mengatakan prasasti Kapunuhan menyebut Dieng sebagai Kailasa. Nah, Kailasa adalah puncak gunung yang dianggap suci di pegunungan Himalaya, Tibet. Kailasa dipercaya sebagai tempat tinggal Siwa. Jadi, Dieng di Jawa Indonesia dianggap seperti halnya Kailasa yang berada di Himalaya. 

Dalam agama Hindu, dewa Siwa dikenal sebagai dewa pelebur, yang bertugas melebur segala sesuatu yang dianggap usang. Barangkali lantaran itu juga ya, candi-candi Dieng yang berada di wilayah rawan bencana dipercaya sebagai tempat tinggal dewa Siwa. Lokasinya saja kawasan rawan bencana, identik dengan karakter dewa Siwa.


Kailasa
Kiri: puncak Kailasa di pegunungan Himalaya, Tibet. Letaknya dekat
gunung Everest. Kanan: candi Kailasa tempat pemujaan dewa Siwa di India.
Foto: Google

Sejumlah arkeolog juga menilai arsitektur candi-candi di Dieng mirip dengan candi di India. Salah satu contohnya, candi Bima. Itu sebabnya, para arkeolog Indonesia menduga, ada indikasi pemuka agama Hindu dari India datang ke Dieng. 

Soal pengaruh India ini, ada cerita yang simpang siur bahwa leluhur orang Bali berasal dari Dieng. Bahkan ada pula cerita tentang perjalanan seorang Rsi dari India ke Dieng, yang kemudian tinggal di Bali. Soal yang terakhir ini, saya pun memutuskan bertanya pada Ketut Suwidiarta, seorang kawan asal Bali, yang pernah kuliah seni di India.

"Sepengetahuanku, Dieng itu petilasan Rsi Markandeya dari India selatan pada zaman Mataram Hindu," katanya ketika bercakap-cakap dengan saya lewat aplikasi chatting di sebuah media sosial, baru-baru ini, Senin 28 September 2020.

Rsi Markandeya adalah pendeta Hindu Siwa Tattwa di India. Ia tiba di dataran tinggi Dieng pada masa kerajaan Mataram kuno atau wangsa Sanjaya yang beragama Hindu. Di Dieng, sang Rsi bertapa mencari wangsit.  

Usai dari Dieng, Rsi Markandeya melakukan perjalanan ke arah timur yakni gunung Raung di Jawa Timur. Ia bertapa kembali di situ. Kemudian Rsi Markandeya menuju ke Bali dengan para pengikutnya sekitar 400 orang. Mereka membabat hutan dan membuat desa bernama Taro dan desa dekat lokasi pura Besakih. Pura Besakih di Bali pun, konon dibangun Rsi Markandeya. Sang Rsi dan pengikutnya bermukim di Bali untuk seterusnya dan membaur dengan orang-orang asli Bali.


pura Hindu
Pura Hindu di Bali. Foto dari Canva.


Untuk menjawab misteri peradaban candi Dieng agaknya banyak tantangannya. Soalnya, diduga sebagian candi-candi yang masih tersembunyi di bumi tersebut berada di lahan warga. Artinya, kekepoan saya atas teknologi dan cara membangun candi juga masih tanda tanya.

Candi-candi di Dieng perlu betul-betul dijaga dan dilindungi. Mengingat sumbangsihnya terhadap ilmu pengetahuan, kearifan, kultur, dan alamnya yang unik. Apalagi, kita punya cagar budaya yang sebenarnya tak kalah indahnya dengan Machu Picchu di Peru. Siapa tahu, gaes, sutradara film Hollywood berniat memfilmkan kembali Indiana Jones dengan berlatar candi-candi Dieng yang misterius.


Salam, 

saya yang ingin berkunjung liburan ke Dieng tapi belum kesampaian karena pandemi.

Nieke Indrietta 


Referensi:

Dieng dan 'misteri' kompleks candi kuno: Apa bukti Dieng sebagai pusat ritual dan pendidikan agama? https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-53619707

Kompleks Candi Arjuna, Kompleks Candi Terbesar di Dieng https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/kompleks-candi-arjuna-kompleks-candi-terbesar-di-dieng 

Candi yang Keluar dari Bumi https://lokadata.id/artikel/candi-yang-keluar-dari-bumi

Menyibak Evolusi Geologi Dataran Tinggi Dieng https://www.mongabay.co.id/2020/04/25/menyibak-evolusi-geologi-dataran-tinggi-dieng/

Trans 7 Official, Titik Peradaban Negeri Para Dewa di Pusat Jawa https://www.youtube.com/watch?v=jSUyiPkdReo

Candi Dieng https://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_dieng

***

Artikel lainnya soal traveling, klik di sini.

Nonton yuk, vlog saya saat menjelajahi situs Warungboto di Yogyakarta, klik di sini.





22 komentar:

  1. Saya juga selalu bertanya-tanya, bagaimana candi dibangun? Kebanyakan letaknya di atas bukit. Bagaimana bisa batu-batu itu sampai ke sana?

    Saya setuju candi-candi di Dieng mirip-mirip sama Machu Pichu. Nggak usah jauh-jauh ke Peru. Bisa nikmatin keindahan yang sama di negeri sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah hebatnya nenek moyang kita ya. Ilmu pengetahuan dan kearifannya sebenarnya mengalahkan era modern. Zaman sekarang kalau orang disuruh bangun sesuatu di tempat seperti itu mungkin bingung sama konstruksi bangunannya harus seperti apa :D

      Hapus
  2. Menarik ulasannya. Mempelajari candi di Indonesia tidak hanya belajar sejarah, tetapi juga budaya dan adat istiadat warga setempat. Ada nilai kearifan lokal yang bisa dipetik oleh kita yang tinggal di perkotaan. Setiap candi yang dibangun pun ada filosofinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Kak. Tiap candi itu ada filosofinya. Dan Indonesia ini termasuk kaya candi baik candi Hindu maupun Budha.

      Hapus
  3. Candi itu pusat peradaban manusia di zaman ini ya Mbak ... Kemisteriusannya memang bikin penasaran.

    BalasHapus
  4. Jadi menurut mbak Nieke Candi Dieng itu Machu Pichunya Asia Tenggara ya? kalau saya pribadi lebih suka Dieng sepertinya.. lebih banyak hijaunya dan lebih asri.. senangnya kita tinggal di Indonesia yang kaya.. salut untuk tulisannya.. belum pernah ke sana tapi uraiannya sangat banyak.. lebih banyak dari buku pelajaran SMP tentang candi dan kerajaan di Indonesia..

    BalasHapus
  5. Duh iri banget nih sama mba nieke, belum pernah saya ke candi Dieng merasakan indahnya candi dari dekat oya oya bicara ttg Machu Picchu, saya jadi inget acara realiti show korea, para wisatawan yang datang ke sana bela-belain nginep karena ingin melihat kabut di pagi hari :D

    BalasHapus
  6. Keluar lagi gaya jurnalisme sastranya. Memgulas kisah tempat dengan cara berbobot sesuai kebiasaan para jurnalis. Itu yang saya suka dengan baca tulisan jurnalisme sastra. Beroleh informasi dengan gaya memikat.
    Saya suka Indiana Jones. Itu film favorit saya dan almarhum bapak soalnya seru dan mendebarkan. Petualangannya khas petualang yang berwawasan, belajar mengenal alam dan kebidayaan. Jadi pngen nonton filmnya lagi.

    Membahas Dieng dan bangunan candinya, malah bikin saya ikut penasaran juga. Bagaimaba caranya manusia zaman dulu bikin bangunan konstruksi demikian padahal yang zaman sekarang pasti nyerah jik disuruh nolon candi,

    Semoga pandemi lekas berakhir dan Mbak Nieke bisa menjelajah Dieng ala Indiana Jones.

    BalasHapus
  7. Kangen sekaliii bisa jalan2. Doohh pengen ke Dieng jadinyaa, terakhir kesana dah lama banget jaman kuliah. Hoho..

    BalasHapus
  8. Mba Nieke, ya ampuuunnn aku jadi paham soal Dieng ini. Ternyata seindah ituuuu. Makasi artikelnya yang saya demen pake banget!
    Selama ini, aku cuma inget Carica kalo orang bilang Dieng.
    Padahal, Dieng sangaaattt amazing!

    BalasHapus
  9. Hmm kapan ya terakhir kali aku ke dieng? Sudah lupa haha karena waktu kecil dulu aku kesananya.

    Sebernarnya ada rencana ke Dieng bulan ini dengan saudara tapi gara-gara covid ini batal.. :")

    Baca ini serasa aku pergi ke Dieng virtual ke Dieng, ngga hanya tau tentang pemandangannya tapi juga brief history nya dari tulisan Mbak Nieke. Terima kasih mbak <3

    BalasHapus
  10. Nah bener, bagaimana cara orang zaman dahulu agar bisa membangun candi hingga masih kuat masih bertahan kokoh sampai sekarang itu menjadi pertanyaan besar bagi kita yang hidup di zaman serba canggih ini.

    BalasHapus
  11. Ahhh kangen banget sama Dieng dan Prau. Aku pernah ke sana dan memang suasananya mistis romantis hihi istilah aku gitu mb. Jadi kangen banget kesana lagi

    BalasHapus
  12. Apapun cerita tentang Dieng selalu menarik, terutama peninggalan warisan budaya candinya. Saya berkunjung ke aana 4 tahum lalu mbak, benar2 tahan napas saat menuju obyek wisatanya yang berada di puncak, pemandangannya itu lho keren banget. Banyak kisah menarik di balik setiap destinasinya.

    BalasHapus
  13. Oo... pemandangan Dieng mirip² Machu Picchu yang di Indiana Jones nya yaa, wah jd pingin ke Dieng nih, gak perlu ke suku Inca di Peru ya, mantul sharingnya Mbak Nieke

    BalasHapus
  14. Asyik sekali baca artikel ini, bahasanya mengalir, jadi semacam baca sejarah tapi nggak bikin bosen. Ternyata Dieng seindah itu!

    BalasHapus
  15. Saya pun ingin sekali ke Dieng. Perlu diagendakan khusus. Pengennya sama suami, berdua aja. Jadi bebas ngulik kekayaan Dieng dari sejarah sampai keindahannya.

    BalasHapus
  16. baca ini jd pengen ke dieng deh. Smoga coroncesnya lekas enyah dari bumi indonesia, biar bs bebas traveling lagi. Btw, Smoga menang ya mba lombanya

    BalasHapus
  17. Keberadaan candi membuktikan bahwa sejak jaman dahulu manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang beradab dan mengenal penciptanya. Hal ini sekaligus menandakan sejarah berkembangnya agama di Indonesia, bervariasinya kepercayaan di negara kita. Makanya heran banget kalau orang pada ngeributin agama, sebenarnya mereka pernah belajar sejarah dari candi-candi yang ada di sekeliling mereka atau tidak yaa..

    BalasHapus
  18. Wuah aku belum pernah ke Dieng
    pengen datang ke sana saat ada event tertentu
    supaya menyesapi budayanya

    BalasHapus
  19. Saya pernah ke Dieng beberapa belas tahun yang lalu. Sayangnya saya sekedar jalan-jalan, enggak mempelajari sejarahnya. Baca ulasan ini jadi makin mengenal Dieng. Dan saya kangen pengin kesana lagi, kali ini mau bawa anak-anak.

    BalasHapus
  20. Bener, Mbak. Dieng ini indah banget. Dengan candi-candi Hindu yang ada di sana juga semakin menegaskan kesan magis sekaligus megah. Nggak heran disebut tempat tinggal para dewa.

    BalasHapus

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.