Menu

Percik Kata Nieke

Senin, 25 Juni 2018

Liburan ke Jogja: Serunya Menginap di Hotel Ala Kapsul (+Do and Don'ts)

Pengalaman saya menginap di hotel ala kapsul, The Packer Lodge, dekat Malioboro, Yogyakarta.


The Packer Lodge, Malioboro, Jogja
Suasana lobi hotel The Packer Lodge Yogya. Foto: Nieke


Apa yang ada di benakmu kalau menginap di hotel asrama atau kapsul? Kalau saya, awalnya agak deg-degan sih. Ini pertama kali nyobain hotel asrama atau kapsul, yang sekamar lebih dari satu orang. Di The Packer Lodge Yogya, sekamar dihuni maksimal empat orang dengan empat bed/kasur. Dan tiap bed ada tirai penutup, jadi perkiraan awal saya, masih ada privasi. Begini ceritanya....

Berhubung saya ke Yogyakarta dengan kereta dan turun di Stasiun Tugu, saya ke The Packer Lodge Yogya yang terletak di Jalan Dagen hanya perlu waktu sekitar 5 menitan, dengan ojek online. Letaknya memang tak jauh dari Stasiun Tugu dan kawasan Malioboro yang legendary. Kereta saya baru tiba di Yogya pukul 22.30. Saya check in pukul 23.00. Jalan di depan hotel masih ramai. Hotel terletak hampir di mulut gang Jalan Dagen, sehingga saya bisa melihat jalan Malioboro juga masih padat pengunjung, mobil, dan motor. Mungkin karena akhir pekan, batin saya.

Depan hotel juga banyak pedagang menjual makanan. Abang tukang sate sibuk mengipasi puluhan tusuk daging ayam persis depan hotel. Aromanya sungguh menggoda. Tapi saya ingin segera menaruh tas dan check in. Di pintu depan hotel yang seluruhnya terbuat dari kaca, ada papan tergantung dengan tulisan "penuh". Beruntung, saya sudah booking jauh-jauh hari melalui aplikasi T*******a. 

Belum sempat saya membuka pintu lobi hotel, petugas hotel dari dalam membukakan pintu. Ternyata membuka pintu harus menggunakan kartu dengan cara menempelkannya di gagang. 

"Sudah booking? Karena hotel kami penuh," kata perempuan muda yang mengenakan atasan kaos dan celana panjang itu.

"Sudah, mbak," ucap saya. Dia lalu mempersilakan saya masuk. 

"Ohya, alas kakinya mohon dilepas," ujarnya.

Saya baru menyadari tak seorangpun di ruangan mengenakan alas kaki. Segera saya mencopot sepatu, membungkusnya dengan plastik, lalu memasukkannya ke dalam tas. Sebenarnya ada rak sepatu sih, yang disediakan di lobi hotel.  

Saya menaruh tas saya di meja di seberang resepsionis. Kemudian menyebut nama dan kode booking. Petugas di meja resepsionis bergegas memeriksa di komputernya. Dia menjelaskan beberapa peraturan hotel dan ketersediaan breakfast/sarapan pagi pada pukul 07.00 pagi. Saya mengangguk. Saya mendapat kamar di lantai dua, dengan jendela.

Meja dan kursi di depan resepsionis The Packer Lodge Jogja.
Foto: Nieke

Petugas perempuan itu yang mengantar saya ke lantai dua dengan tangga. Tidak ada lift. Beruntung bawaan saya tidak banyak dan tidak berat. Sepertinya hotel ini memang didesain untuk backpacker. Meski demikian, hotel ini tetap cantik. Sepanjang saya masuk hotel, mata saya dimanjakan dengan keindahan interiornya. Hiasan dan kutipan di dindingnya yang Instagramable.

"Mbak, kamar mandinya di situ ya," kata dia sambil menunjuk tiga kamar mandi, yang letaknya di ujung ruangan sebelah kiri jika kita dari arah tangga lantai satu. Atau dengan kata lain, kamar mandi yang berderet itu terletak di bagian belakang apabila dilihat dari depan. Saya mengangguk.

Dia membawa saya ke ujung bagian depan, mendekati balkon. Rupanya kamar saya di bagian depan, dengan jendela yang menghadap ke balkon. Ia membuka pintu kamar dengan kartu ditempelkan ke bagian gagang pintu. Biiippp.... Lalu pintu terbuka. 

Ruang kamar sudah gelap, tapi ada cahaya dari arah luar jendela. Terdengar suara napas orang tertidur nyenyak di dua pod di bagian atas. 

"Bed nomor 4 yang kosong," kata petugas itu setengah berbisik. Lalu dia membukakan loker nomor empat, yang terletak di ujung dekat jendela, dengan cara sama ketika membuka pintu. Kartu ditempelkan di bagian gagang. 

Biiipp... Pintu loker terbuka. Ada bantal, handuk, dan selimut berwarna coklat di dalamnya. Ia mengeluarkannya dan menaruhnya di atas ranjang saya. Sementara saya menaruh tas saya di dalam loker. Petugas perempuan itu kemudian pamit. 

Ruangannya adem. Saya mengintip suhu pendingin ruangan di remote. Pantas saja, ada tamu di ruangan saya yang menyetelnya 18 derajat. Diam-diam saya menyetelnya menjadi 23 derajat agar saya tak kedinginan. Tetap adem kok, hehehe. Mumpung mereka sudah tidur. Tirai di dua ranjang di atas juga tertutup. Saya merangkak ke pod saya dan menjajal kasur. Empuuuk. Membuka lemari kecil di samping kanan saya. Ada kuncinya. Ketika dibuka, lemari itu bisa berfungsi sebagai meja. Ada juga lampu baca di dalam pod saya. Asyiiik, nih. Setelah berganti pakaian di kamar mandi, saya duduk di lobi. 

Batal beli sate ayam, saya pilih makan sisa bekal makan saya waktu di kereta. Lamat-lamat terdengar musik yang diputar mas-mas di meja resepsionis. Nama grup musiknya Cigarettes After S*x. Sekilas suara vokalisnya mirip vokalis Oasis, tapi dengan gaya musik yang sama sekali berbeda. Lebih easy listening

Lah kok malah mbahas musik. Tapi lagunya bikin saya kerasan nongkrong di lobi. Bikin teh panas di dapur bersama yang letaknya bersebelahan dengan meja dan kursi di seberang resepsionis. Kemudian duduk cantik sambil memandangi orang lalu lalang di Jalan Dagen di tengah malam. Busyet, ini wisatawan masih banyak yang menikmati Malioboro meski sudah di ujung malam.

Suasana ruang menonton Tv bersama di lobi hotel The Packer Lodge, Jogja.
Foto: Nieke


Saya mencoba ke ruang televisi yang letaknya bersebelahan dengan dapur. Asal mengambil majalah yang disediakan. Sekadar baca selintas-selintas saja. Lalu mengeksplorasi apa yang ada di rak. Ada panduan wisata di Jogja. Kebanyakan berbahasa Inggris. Tapi panduan wisatanya lumayan asyik. Menerangkan wisata apa saja yang oke beserta lokasi dan secuplik sejarahnya. Lalu tersadar, jam sudah menunjukkan pukul 00.30. Saya harus memaksa mata ini tidur supaya bisa beraktivitas dengan segar di hari yang baru.

Saya pun kembali ke kamar. Berbaring di ranjang dalam pod. Membalut badan dengan selimut, untuk melindungi dari hawa dingin penyejuk ruangan yang sudah kembali disetel 18 derajat. Memejamkan mata dan tidur. Untung tidak ada yang ngorok. Hahahaha. Saya bisa tidur nyenyak.

Pukul 06.00 pagi saya bangun dan langsung mandi. Saya tidak mau berebut kamar mandi. Saya sudah menduga jam segitu pasti masih sepi. Di kamar mandi tersedia shower dengan air hangat. Alat mandi saya membawa sendiri dari rumah. Usai mandi, saya berencana berjalan-jalan sekitar Dagen dan Malioboro. Benar saja, depan hotel ada warung gudeg Yu Djum yang legendaris. Kalau sepagi ini gak perlu mengantri, gaes. Dan gak perlu takut kehabisan.




Kalau mau lihat video lengkap sewaktu saya ekplorasi The Packer Lodge Yogya, klik di sini ya. Ada gambaran suasana mulai dari lobi, dapur termasuk fasilitasnya (kulkas, microwave, kompor listrik, teko air panas, rice cooker), ruang Tv, suasana kamar, kamar mandi, sampai balkon di lantai empat yang bisa dibuat latihan yoga dan nongkrong-nongkrong.


Parkiran depan hotel dari sudut pandang lobi hotel.
Di depan hotel ada warung gudeg Yu Djum. Foto Nieke


The Packer Lodge Yogya dari depan.
Foto: Nieke

Do and Don'ts di hotel ala kapsul/pod

Don'ts
  •  Nggak cocok kalau bawa anak atau keluarga
  • Kamar-kamarnya sempit, biasanya gak ada elevator, jadi jangan bawa barang banyak
  •  Hindari bawa barang berharga seperti perhiasan, dll
  •  Jangan biarkan barang-barangmu tergeletak di ranjang atau meja dalam pod. Simpan barang di loker terkunci
  • Pastikan loker selalu terkunci
  • Jangan berisik, menyalakan musik keras-keras. Gunakan earphone.
  •  Kalau kebetulan menginap sekamar dengan teman perjalanan, jangan ngobrol di ruangan. Ke lobi saja. Hormati tamu lain di kamar. 
  • Jangan sampai ngorok. Hahaha.  
  • Jangan bawa makanan apalagi yang baunya menyengat ke dalam kamar. Sebaiknya makan atau ngemil di ruang lobi atau ruang nongkrongnya. 
 Do
  • Bersosialisasi. Hotel semacam ini biasanya dihuni orang-orang yang hobi backpacker. Kamu bisa bertukar pengalaman dan informasi
  • Miliki jiwa petualang. Bakal sekamar dengan orang nggak dikenal, lho
  • Bawa alat mandi sendiri ya. Sabun mandi, sabun cuci rambut, odol, sikat gigi, dll
  • Gak semua hotel menyediakan selimut dan handuk, jadi bawalah handuk dan selimut tipis. Kalau di The Packer Lodge kebetulan memang menyediakan
  • Mandiri dan waspada 

Dua komputer yang bisa digunakan tamu di lobi hotel.
Foto: Nieke


Barangkali kamu ingin menambahkan tips lainnya?

(Nieke Indrietta)


Tulisan saya lainnya soal traveling dan kuliner, klik di sini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hi... terima kasih sudah mampir dan membaca blog saya. Terima kasih pula untuk sudah berkomentar dengan sopan, tidak meninggalkan spam dan tidak menggunakan LINK HIDUP di kolom komen. Untuk setiap komentar, saya upayakan kunjungan balik ke blog Anda untuk menjaga tali silaturahmi.

Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya tidak gunakan akun anonim.

Salam.